Ini adalah tulisan pertama saya yang diterbitkan di koran, tepatnya koran kompas MuDA pada tanggal 13 Agustus 2010. Merupakan suatu kehormatan dapat menulis untuk kompas, sekalipun hanya sekali. Enjoy!
-----------------------------------------
Pubertas versus Ramadhan? Kok kayak bersaing gitu judulnya? Kira-kira ada apa sih, kok pubertas harus dijadiin lawannya Ramadhan? Kalo gitu berarti ada satu yang menang, dong? Biar tau, baca artikel tim Kompas MuDA kali ini, yaaa!
Hai, MuDAers! Setelah sekian lama, akhirnya ketemu sama suasana ini lagi, ya? Suasana saat inbox hp kita full dengan sms ‘mohon maaf lahir batin’, acara salam-salaman, pedagang dadakan dimana-mana, kerabat pulang kampung, dan nuansa religi yang kental di tiap sudut kota bahkan di semua channel tv.
Yap! Kita sekarang udah memasuki bulan Ramadhan. Beberapa waktu lalu kita ngerasain hari pertama di bulan yang suci ini. Kita juga ngerasain lagi padetnya tarawih di malam pertama, dan ramainya penjual minuman ketika dekat saat berbuka. Bener-bener bulan yang pengaruhnya besar – khususnya buat negara kita tercinta yang penduduknya mayoritas beragama Islam.
Tapi kita gak mau bicarain itu dulu sekarang. Sobat MuDAers pasti sering banget dan gak perlu dikasih tau lebih mendalam lagi kalo di bulan yang penuh berkah ini kita harus nahan haus dan lapar, nafsu, amarah, sambil tetep menambah pahala dengan ngelakuin berbagai amal soleh.
“Ya, terus hubungannya sama pubertas, apa?”
Sabar dulu, kita semua juga pasti udah tau kalo sebagai remaja, kita bakal ngelewatin sebuah fase pendewasaan yang disebut pubertas. Di fase itu, sebagian dari kita ada yang baru ngerasa suka ama cewek atau cowok, baru ngerasain enaknya nongkrong bareng temen-temen, baru kenal rokok, dan lain-lain. Gampangnya, saat sang remaja nyari jati diri, deh.
Nah, korelasinya dengan judul diatas, tim Kompas MuDA pengen tau, gimana sih caranya para MuDAers menyiasati atau menyikapi dua hal yang bertentangan itu? Disatu sisi, hormon ngebuat gejolak nafsu jadi lagi pol-polnya, sedangkan disisi lain nafsu itu harus ditahan dan dialirin kearah yang positif. Dari data yang tim kumpulin dari wawancara ke beberapa murid SMA Negeri (bahkan ada yang mahasiswa UGM), ternyata gak semua jawabannya monoton dan mudah ditebak, loh.
Yang Batal
Untuk yang satu ini banyak, nih. Alasannya pun beragam dan mungkin sebagian dari kita udah pernah ngerasain sendiri. “Kalo sahur, susah banget bangunnya” kata mereka. “Duh... parah deh, gua kalo gak ngerokok, seharian mulut bisa asem”. Ada juga, “Kan gue cewek, kalo lagi males, bilang aja lagi dapet” ujarnya sambil terkekeh. Gak sedikit juga yang tergoda imannya untuk tetep nonton film dewasa, walaupun gak semuanya nonton pas siang. Duhduhduuuh…
Alasan solidaritas jadi penghalang utama bagi beberapa orang. Dan mungkin kedengerannya remeh, tapi ternyata ngegosipin orang udah jadi kayak makanan sehari-hari buat beberapa dari kita. Juga cabut pas tarawih dan marah-marah. Gak yang cowok, gak yang cewek. Ini harus kita perhatiin, nih. Kan sayang banget kalo puasa kita harus ilang pahalanya gara-gara itu doang.
Yang Bertahan
Nah untuk yang ini, mayoritas temen kita jawab kalo mereka itu berpegang sama prinsip mereka. ”Gue ya gue, mereka ya mereka” kata salah satunya. “Gue malu sama diri gue sendiri, sama keluarga.”
Dan bukan cuma itu, salah satu faktor terkuat dari ‘kubu’ pubertas, yaitu pacar, kenyataannya malah jadi energi tersendiri. “Gebetan gue selalu dukung gue kalo masalah puasa. Dia bangunin gue pas sahur, ngingetin gue tarawih, banyak deh.” Jelasnya dengan bangga. Wah, berarti gak selamanya pacaran itu konotasinya jelek, kan? Oya, kata mereka, telfonan atau smsan sama pacar bisa jadi alternatif ngabuburit, loh.
Disamping itu, ada juga komunitas remaja mesjid yang isinya anak-anak gaul yang masih tetep megang nilai-nilai keislaman. Mereka ngadain banyak acara keren, kayak sahur atau buka on the road. Lumayan kan, gaul sambil nambah pengalaman beragama?
MuDAers, sebenernya yang pengen kita cari dari judul diatas, bukan pemenang dari salah satunya. Yang kita cari, adalah yang ‘draw’. Yang seri. Dalam artian, gak bisa pubertas yang menang karena yang mentingin hawa nafsu dan gejolak masa muda yang berlebihan pasti bakal keseret ke hal-hal buruk serta gagal dalam ibadah Ramadhannya. Gak bisa juga Ramadhan yang menang, karena pubertas itu alamiah dan merupakan proses wajib yang harus dilewati seorang remaja menuju kedewasaan.
Itu emang gak mudah. Cuma, gak mudah bukan berarti gak bisa, ya? Temen-temen kita itu buktinya. Mereka bisa ngelewatin ini. Dari mereka kita tau ada banyak cara yang bisa kita pake untuk memotivasi diri. Apakah itu kesadaran pribadi, omelan dari pacar, atau sekedar uang THR yang dipotong, semuanya bisa kita contoh.
Ramadhan itu cuma 30 hari setahun, loh. Selama gak ada yang mampu ngejamin kita bisa melek lagi besok, gak ada juga yang mampu jamin kita bisa ketemu bulan yang penuh ampunan dan berkah ini lagi, kan? So, keep your spirit on fire! Ini baru minggu pertama kita puasa. Masih ada berhari-hari yang bisa kita gunain untuk menghimpun pundi-pundi amal ibadah sambil tetep eksis dan gaul hingga tiba hari kemenangan nanti. Be the winner of draw match, pal!
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 14 Agustus 2010
Senin, 09 Agustus 2010
PUISI - Peluh Tak Terbalas
Selama waktu berjanji untuk terus berputar...
Setiap pertemuan selalu ditemani bayangan akan perpisahan...
Selama waktu berjanji untuk terus berputar...
Detik yang ada tak akan cukup untuk memuaskan dahaga kebersamaan...
Demi waktu, yang dengannya setiap momen terasa berharga....
Dan demi waktu, yang tanpanya setiap perjumpaan tak akan ada artinya...
Tak pernah terkira bahwa kami akan kehilangan seorang pribadi...
Pribadi yang sudi merenta dalam merajut jalan keemasan kami...
Pribadi yang sudi menua dengan kesusahan yang mulia...
Pribadi yang kukuh dalam menganggunkan akhlak secara utuh...
Serta pribadi yang menorehkan kesahajaan dalam hati yang lapar akan pengertian...
Tak sedikit suka duka yang telah kita lalui...
Yang menjadikannya hiasan apik bagi indahnya hari ini...
Hanya panjatan doa yang dapat kami beri...
Agar engkau selalu sehat dan diridhoi...
Engkau dengan segala usahamu…
Bak peluh yang tak terbalas bagi kami…
Sungguh besar segala dedikasimu…
Sehingga tak mungkin kami membalas kembali…
Guruku, yang tuturnya senantiasa membangun asa dalam jiwaku...
Mungkin...
Benderangnya sinar lampu yang menerpa pipiku siang ini...
Tak cukup terang untuk menyinari hatiku yang mendung karena kau harus pergi...
Mungkin...
Saat kusuarakan tulisan ini dengan lisanku...
Adalah saat-saat terakhir kita bertemu...
Saat-saat terakhir kulihat wajahmu...
Dan saat-saat terakhir ragaku menjadi hangat lantaran senyummu...
Sungguh...
Tangan ini tak rela untuk melepasmu...
Namun...
Tangan ini pun tak kuasa untuk menahanmu...
Maka...
Guruku, yang dengan kelembutannya menghaluskan kekerasan dalam pikiranku...
Ada yang ingin kami sampaikan ditengah keharuan yang tak tertahan...
"Terima kasih guruku...
Sekalipun kau telah pergi...
Namamu akan selalu terpatri di sanubari kami...
Terima kasih guruku...
Tak akan ada yang sepertimu."
Jakarta, 14 Juli 2010
Amadeo D. Basfiansa
Setiap pertemuan selalu ditemani bayangan akan perpisahan...
Selama waktu berjanji untuk terus berputar...
Detik yang ada tak akan cukup untuk memuaskan dahaga kebersamaan...
Demi waktu, yang dengannya setiap momen terasa berharga....
Dan demi waktu, yang tanpanya setiap perjumpaan tak akan ada artinya...
Tak pernah terkira bahwa kami akan kehilangan seorang pribadi...
Pribadi yang sudi merenta dalam merajut jalan keemasan kami...
Pribadi yang sudi menua dengan kesusahan yang mulia...
Pribadi yang kukuh dalam menganggunkan akhlak secara utuh...
Serta pribadi yang menorehkan kesahajaan dalam hati yang lapar akan pengertian...
Tak sedikit suka duka yang telah kita lalui...
Yang menjadikannya hiasan apik bagi indahnya hari ini...
Hanya panjatan doa yang dapat kami beri...
Agar engkau selalu sehat dan diridhoi...
Engkau dengan segala usahamu…
Bak peluh yang tak terbalas bagi kami…
Sungguh besar segala dedikasimu…
Sehingga tak mungkin kami membalas kembali…
Guruku, yang tuturnya senantiasa membangun asa dalam jiwaku...
Mungkin...
Benderangnya sinar lampu yang menerpa pipiku siang ini...
Tak cukup terang untuk menyinari hatiku yang mendung karena kau harus pergi...
Mungkin...
Saat kusuarakan tulisan ini dengan lisanku...
Adalah saat-saat terakhir kita bertemu...
Saat-saat terakhir kulihat wajahmu...
Dan saat-saat terakhir ragaku menjadi hangat lantaran senyummu...
Sungguh...
Tangan ini tak rela untuk melepasmu...
Namun...
Tangan ini pun tak kuasa untuk menahanmu...
Maka...
Guruku, yang dengan kelembutannya menghaluskan kekerasan dalam pikiranku...
Ada yang ingin kami sampaikan ditengah keharuan yang tak tertahan...
"Terima kasih guruku...
Sekalipun kau telah pergi...
Namamu akan selalu terpatri di sanubari kami...
Terima kasih guruku...
Tak akan ada yang sepertimu."
Jakarta, 14 Juli 2010
Amadeo D. Basfiansa
Minggu, 25 Juli 2010
Ucapan Lebaran 1430 H
Ketika orang dewasa yang sakit,
dengan senangnya dipaksa memasuki rumah yang mulia,
perak menjadi emas karena brangkas yang kosong sedang dipugar.
Saat matahari terbenam, tetua menjadi pemuda sebab baju besinya telah tanggal.
Maka, sebaik-baik mawar ialah yang mekar setelah memanfaatkan masa tumbuhnya demi masa penikmatannya.
Selamat Idul Fitri 1430H. (ADB)
dengan senangnya dipaksa memasuki rumah yang mulia,
perak menjadi emas karena brangkas yang kosong sedang dipugar.
Saat matahari terbenam, tetua menjadi pemuda sebab baju besinya telah tanggal.
Maka, sebaik-baik mawar ialah yang mekar setelah memanfaatkan masa tumbuhnya demi masa penikmatannya.
Selamat Idul Fitri 1430H. (ADB)
Ucapan Idul Fitri 1430 H
Dalam perjalanan kebintanganmu,
jika kau merasakan duri yang menancap di hatimu, berhentilah sejenak,
dan rasakan ajaibnya kata "Maaf".
Dalam perjalanan kebintanganmu,
jika duri itu terasa amat dalam, renungkanlah sejenak,
dan rasakan mulianya kata "Memaafkan".
Selamat Berpuasa dan Idul Fitri 1430 H.
(ADB)
jika kau merasakan duri yang menancap di hatimu, berhentilah sejenak,
dan rasakan ajaibnya kata "Maaf".
Dalam perjalanan kebintanganmu,
jika duri itu terasa amat dalam, renungkanlah sejenak,
dan rasakan mulianya kata "Memaafkan".
Selamat Berpuasa dan Idul Fitri 1430 H.
(ADB)
Tugas Pidato
Ini adalah tugas Bahasa Indonesia, yang saya pikir cocok untuk dijadikan WFT. Intinya ini tentang memberikan sambutan. Jadi, tujuan utamanya awalnya memang bukan untuk disini. But, kindly enjoy, think, and absorb.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Lama" adalah nama panggilan dari waktu oleh mereka yang belum, atau sedang merasakan. Ketika segalanya telah berlangsung, kita akan berpendapat lain. Terbukti dari perasaan banyak dari kita yang belum menyadari statusnya sebagai anak SMA yang telah lulus dan mengatakan, "Wah, sudah kelas tiga ya? Rasanya baru kemarin merasakan MOS."
Banyak dari kita yang belum menyadari, bahwa sekarang adalah saatnya untuk menginjak anak tangga kehidupan berikutnya. Saatnya untuk memantaskan diri, akan tanggung jawab yang lebih tinggi dan besar.
Pelari marathon yang sedang berlari kencang menuju garis akhir yang diidam-idamkannya itu, memulai segalanya dengan ancang-ancang yang memantapkan proses larinya, dan mengawali langkah-langkah cepatnya dengan sebuah langkah kecil yang mungkin berat baginya. Namun, cara terbaik untuk memulai adalah dengan memulai. Sehingga ia melupakan beratnya langkah demi mendapatkan kebesaran yang menyembuhkan bila ia berhasil.
Di penghujung kelas satu SMA, banyak yang mencapai puncak kekhawatirannya dengan keharusan memasuki jurusan yang tidak diinginkannya. Tapi kita harus tahu, bahwa jalan yang membawa kita menuju kenyamanan yang besar, adalah jalan yang nyaman itu sendiri. Sehingga, beberapa murid pindah agar ia mampu berdamai dengan dirinya.
Cara terbaik oleh Yang Maha Memperbaiki untuk meyakinkan hambanya bahwa cara-cara yang akan dipakainya bukanlah cara-cara yang akan membesarkannya, adalah dengan menggagalkan rencananya.
Waktu tidak merubah apapun kecuali yang terjadi selama waktu itu berjalan.
Kita melewati kelas dua dengan berbagai penyesuaian yang menguatkan kita untuk bertahan di kelas tiga. Setelah kita semua naik ke tingkatan terakhir di deretan pendidikan menengah, tibalah masanya bagi kita untuk mengeluarkan semua yang telah kita tampung selama 12 tahun dalam final showdown. Dan kita berhasil. Itulah sebabnya kita semua bisa berada di sini dengan perasaan lega.
Kemudian saya ingin menyampaikan satu hal, yang mungkin melawan pendapat yang santer terdengar selama berpuluh-puluh tahun. Sebuah pernyataan yang selama ini semua orang selalu setuju untuk tidak pernah tidak menyetujuinya.
Guru BUKANLAH pahlawan tanpa tanda jasa. Karena murid-murid yang menyelesaikan pelajarannya dengan wajah riang adalah jelas. Seorang pemimpin negara, CEO sebuah perusahaan, dan para menteri yang hasil karyanya menyejahterakan itu adalah tanda yang jelas, bahwa gurunya dulu, telah berjasa. Justru disebabkan sangat besarnya tanda itu, amat berharga untuk disematkan pada pakaian, terlalu penting untuk disimpan di lemari kaca, selama ini belum ada yang menyadarinya.
Mungkin itu dulu ya?
Jadi, yang ingin saya sampaikan adalah; segala pencapaian kita di masa depan, diawali dari tekad kita yang kuat di masa kini, dengan dibekali oleh modal-modal berharga yang terlalu mahal untuk dilupakan di masa lalu. Tidak ada balon besar yang tidak berawal dari balon kecil yang kempes. Pun tidak ada balon yang meletus, kecuali ia yang lupa batasan-batasannya.
"Aku melihat lalu aku lupa. Aku mendengar lalu aku ingat. Aku mengerjakan lalu aku paham"
(ADB)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Lama" adalah nama panggilan dari waktu oleh mereka yang belum, atau sedang merasakan. Ketika segalanya telah berlangsung, kita akan berpendapat lain. Terbukti dari perasaan banyak dari kita yang belum menyadari statusnya sebagai anak SMA yang telah lulus dan mengatakan, "Wah, sudah kelas tiga ya? Rasanya baru kemarin merasakan MOS."
Banyak dari kita yang belum menyadari, bahwa sekarang adalah saatnya untuk menginjak anak tangga kehidupan berikutnya. Saatnya untuk memantaskan diri, akan tanggung jawab yang lebih tinggi dan besar.
Pelari marathon yang sedang berlari kencang menuju garis akhir yang diidam-idamkannya itu, memulai segalanya dengan ancang-ancang yang memantapkan proses larinya, dan mengawali langkah-langkah cepatnya dengan sebuah langkah kecil yang mungkin berat baginya. Namun, cara terbaik untuk memulai adalah dengan memulai. Sehingga ia melupakan beratnya langkah demi mendapatkan kebesaran yang menyembuhkan bila ia berhasil.
Di penghujung kelas satu SMA, banyak yang mencapai puncak kekhawatirannya dengan keharusan memasuki jurusan yang tidak diinginkannya. Tapi kita harus tahu, bahwa jalan yang membawa kita menuju kenyamanan yang besar, adalah jalan yang nyaman itu sendiri. Sehingga, beberapa murid pindah agar ia mampu berdamai dengan dirinya.
Cara terbaik oleh Yang Maha Memperbaiki untuk meyakinkan hambanya bahwa cara-cara yang akan dipakainya bukanlah cara-cara yang akan membesarkannya, adalah dengan menggagalkan rencananya.
Waktu tidak merubah apapun kecuali yang terjadi selama waktu itu berjalan.
Kita melewati kelas dua dengan berbagai penyesuaian yang menguatkan kita untuk bertahan di kelas tiga. Setelah kita semua naik ke tingkatan terakhir di deretan pendidikan menengah, tibalah masanya bagi kita untuk mengeluarkan semua yang telah kita tampung selama 12 tahun dalam final showdown. Dan kita berhasil. Itulah sebabnya kita semua bisa berada di sini dengan perasaan lega.
Kemudian saya ingin menyampaikan satu hal, yang mungkin melawan pendapat yang santer terdengar selama berpuluh-puluh tahun. Sebuah pernyataan yang selama ini semua orang selalu setuju untuk tidak pernah tidak menyetujuinya.
Guru BUKANLAH pahlawan tanpa tanda jasa. Karena murid-murid yang menyelesaikan pelajarannya dengan wajah riang adalah jelas. Seorang pemimpin negara, CEO sebuah perusahaan, dan para menteri yang hasil karyanya menyejahterakan itu adalah tanda yang jelas, bahwa gurunya dulu, telah berjasa. Justru disebabkan sangat besarnya tanda itu, amat berharga untuk disematkan pada pakaian, terlalu penting untuk disimpan di lemari kaca, selama ini belum ada yang menyadarinya.
Mungkin itu dulu ya?
Jadi, yang ingin saya sampaikan adalah; segala pencapaian kita di masa depan, diawali dari tekad kita yang kuat di masa kini, dengan dibekali oleh modal-modal berharga yang terlalu mahal untuk dilupakan di masa lalu. Tidak ada balon besar yang tidak berawal dari balon kecil yang kempes. Pun tidak ada balon yang meletus, kecuali ia yang lupa batasan-batasannya.
"Aku melihat lalu aku lupa. Aku mendengar lalu aku ingat. Aku mengerjakan lalu aku paham"
(ADB)
Langganan:
Postingan (Atom)