Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2010

Album Foto

Minggu dini hari ini aku terbangun dengan kebiasaan yang sama, melek kearah langit-langit dengan kegalauan yang tak berarti didalam hati. Entah ya, rasanya kayak ada semacam perasaan merugi karena aku melakukan atau gak melakukan sesuatu. Perasaanku akhir-akhir ini seakan dihantui oleh kerugian karena gak memanfaatkan waktu secara optimal. Disatu sisi aku nganggep itu baik, karena mendorongku untuk lebih efisien dalam segala hal. Tapi disisi lain, aku mulai frustasi dengan segala atrificial stress ini. Sebab kadang-kadang rasa cemas itu memiliki sebab yang buram, seperti yang kurasakan sejak pertama kali membuka mata hari ini sehingga sulit untuk kuhilangkan.

Seperti ada sebuah penyakit yang menggantung didadaku.

Setelah memaksakan diri untuk bangun, kakiku melangkah gontai menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dua rakaat yang kujalani sesudahnya, mengantarku kembali untuk duduk didepan sebuah layar kaca yang sengaja gak kunyalain biar memudahkanku untuk berpikir.

Aku mulai bertanya pada bayangan diriku yang terpantul di sebuah layar yang padam.

Kok aku gelisah banget, sih? Kenapa perasaan aneh ini datang padaku? Perbuatan buruk apa yang kulakukan? Atau, kewajiban apa yang harus kutunaikan? Jika itu masalah sekolah, kekhawatiran menghadapi ujian akhir, atau suasana persaingan yang merebak antar teman, biasanya gak se-mengganggu ini. Terus, aku kenapa dong?

Sebuah suara yang familiar memanggilku setelah tiga menit duduk tanpa bahasan yang penting dalam anganku.

“Kiii.. sini bentar deh. Mama mau ngasih unjuk sesuatu!”

“Yaaa… sebentar.”

Aku beranjak malas dari tempat tidurku menuju kebawah. Dari tangga aku bisa liat mama duduk ditemani setumpuk album foto disampingnya. Pasti mau ngasih liat foto dulu. Cuma kali ini ada ekspresi lain yang ditunjukkin mama. Matanya berbinar-binar.

“Liat deh, ini foto waktu kamu masih kecil. Banyak banget. Ada kamu sama sepupumu, adikmu, sama eyang juga ada.”

Aku bisa lihat kalo jumlah fotoku dengan eyang mendominasi album kecil itu. Disusul dengan foto bersama adik, baru sama sepupu. Untuk beberapa saat ketika melihat foto-foto aku kecil itu, aku kebawa suasana sentimentil. Mama gak boong pas bilang kalo aku bisa dikatakan lebih beruntung dimasa kecil dibanding adikku. Yah, gampangnya lebih dapet perhatian dari eyang, deh. Tapi bukan itu topiknya kali ini. Disitu aku terlihat jauh lebih bahagia, lebih lepas, lebih narsis (yang ini gak begitu penting), lebih tanpa beban dibanding aku yang sekarang. Aku yang sekarang cenderung lebih membuat-buat masalah ketika aku seharusnya menikmati hidup. Mungkin dengan nge-push diriku untuk perfect disegala hal, waktu, juga kesempatan, jiwaku telah berteriak memintaku untuk menurunkan standar.

“Ma, dulu aku gemuk ya?” tanyaku ke mama yang dia bales pake senyum doang. Pandanganku balik ke foto-foto tua itu. Disamping fakta bahwa dulu aku terlihat bahagia banget, gak kayak sekarang, juga aku sering maen sama eyang dan adikku, aku nyadarin sesuatu lagi.

They were look so young.

Mama, papa, om, tante, eyang, semuanya keliatan jauh lebih muda dibanding sekarang. Memang sih, itu jelas secara itu foto 15 tahun yang lalu. Tapi, tetep aja… “Wow… muda banget. Penampilannya jauh berbeda pas rambut putih belum menghiasi kepala mereka…” bisikku dalam hati. Kalau melihat eyang kakung yang sekarang harus berjalan menggunakan tongkat kemana-mana, fotonya dulu mengatakan sebaliknya.

Ketika baca komentar-komentar di pinggir foto itu, serasa ada yang matiin saklar yang menghubungkanku ke dunia luar. Aku tenggelam dalam imajinasiku sendiri. Kata-kata sederhana namun menyentuh, telah membujuk air mataku untuk ngalir keluar. Seperti, ‘Duuh… si Kiki ultah yang ke limaa.. Semoga cepet gede ya, sayaang :)’, ‘Wahwah.. adek kok berantem mulu sama kakak, siih? Mainnya yang akur ya, anak-anakkuu...’, ‘Kiii.. mulutnya dibuka, yaaa.. Liat tuh, eyang udah bela-belain nyuapin sambil gendong kamu’.

Gambar-gambar masa lalu itu udah ngebius pikiranku ampe aku gak sadar air yang sama juga membasahi pipi mama semenjak 10 menit yang lalu. Aku menaiki tangga kearah atas dengan perlahan setelah aku memeluk mama dalam keadaan sama-sama menangis. Mungkin bagi orang lain ini berlebihan, tapi dikeluargaku pengabadian momen lewat foto itu jarang. Semakin kesini semakin jarang, berlawanan banget ama gradien kemudahan berfoto ria lewat hape ato media lain.

Aku kemudian duduk disisi tempat tidur, melihat wajah adikku yang tertidur pulas dan gak tau berapa lama sejak terakhir kali aku nyempetin waktu untuk sekedar ngeliat mukanya pas bicara. Aku selalu jutek pas dia minta tolong. Lupa bahwa dulu kami sering main bareng sekalipun dengan jarak umur yang lumayan jauh. Dia masih kecil, tapi kadang-kadang aku tanpa sengaja memaksanya untuk berpikir dewasa dengan menanggapi serius perilakunya dia. Aku sadar tindakanku udah salah.

Kemudian… Sejak aku SMP, aku mulai jauh dari eyang. SMA apalagi. Sekalipun waktuku sering kosong, aku lebih memilih untuk tidur-tiduran atau berselancar didunia maya ketimbang nganterin eyang. Padahal aku dulu mau mau aja diminta nganterin – dengan iming-iming snack dan es loli. Aku lupa kalo dulu dia sering nyuapin aku walaupun aku males makan. Sering ngajak jalan-jalan, bacain cerita sebelum tidur, bahkan gak segan-segan mijitin kalo aku capek abis lari-lari.

Terus… kedua orangtuaku. Sebelum aku menyilahkan diriku untuk berpanjang lebar mengingat untaian dosaku ke mereka, aku langsung nanya ke diri sendiri lagi. ‘Aku udah bales mereka apaan, yah?’ Aku bukan anak yang begitu penurut, ga begitu pinter disekolah, ga punya bakat yang bisa dibanggain, dan bukan anak paling jujur sedunia. Sekalipun aku pinter juga, kayaknya bukan itu yang ngundang senyum mereka. Dan nginget tanggal di salah satu foto tadi, aku udah ‘nyiksa’ mereka selama 21 tahun. Mungkin aku lebih ngebuat mereka tua dibanding karena umur mereka sendiri. Ngerti gak?

Cahaya matahari yang malu-malu ngintip lewat jendela membawaku kedalam suasana hati lain di fajar yang singkat ini. Seiring berjalannya waktu, rumah ini udah jadi tempat tidur doang. Mama papa yang makin sibuk sendiri, jarak kampusku yang jauh dan sering disibukkan oleh berbagai urusan didalamnya membuat hubungan keluarga kami terkadang kerasa lebih kayak rekan kerja dibanding hubungan darah. Aku membawa diriku kedepan sebuah cermin yang dari ukurannya membuatku bisa memperhatikan keseluruhan badanku.

Disitu kutatap dalam-dalam mata dan wajahku.

Apa yang telah kulakukan selama ini? Aku membiarkan diriku hanyut dalam tuntutan jaman demi bisa memperkuat jaringan pertemanan tanpa mengingat jaringan keluarga yang begitu berarti bagiku. Aku terus-terusan mencoba menyukseskan diriku, mementingkan hubungan dengan orang lain, mempermasalahkan hari-hariku, berpikir tentang wanita, ambisius untuk sekedar dapetin nilai yang temporer, tanpa menggubris alam dimana aku berasal.

Kapan terakhir kali aku bener-bener bahagia?
Kapan terakhir kali aku tertawa lepas tanpa beban?
Kapan terakhir kali aku bersenang-senang dengan keluargaku?
Or at least…
Kapan terakhir kali aku menganggap mereka ada?


Aku berdiri kayak patung didepan cermin itu. Fisikku diam, tapi pikiranku melanglang buana. Flashback ke semua memori indah yang bagai mimpi bila kuingat sekarang. Saat-saat bergandengan ketika jalan sama adek, orang tua, dan kemeriahan ketika berkumpul bersama keluarga besar. Aku ingat bahwa hanya kata ‘tidak’ yang mencuat dari bibirku ketika mama ngajak ke arisan keluarga. Aku kangen sama semuanya itu. Apa yang harus kulakukan untuk memulainya lagi?

Mama teriak lagi. Kali ini nadanya cemas. Takut.

“Kiki! Kiki! Eyang uti masuk rumah sakit, nak.. Dia kepeleset di kamar mandi dan pingsan. Mama takut ini bahaya buat dia soalnya dia diabetes, nak! Ikut mama sekarang!”

Aku cuma bengong denger itu. Aku mendongak ke atas sambil senyum. Senyum getir. Senyum yang dibumbuin kekhawatiran karena salah satu orang yang paling sayang aku sedang terancam keselamatannya. Empat detik kemudian aku langsung lari, nyamber pakaian di jemuran, dan ngambil kunci mobil untuk pergi ke rumah sakit sama mama. Aku harap kami ga telat. Semoga eyang gak kenapa-napa. Di perjalanan aku cuma bisa zikir sembari berterima kasih.

Terima kasih Tuhan, aku telah disadarkan pada waktu yang tepat.
Kini aku bisa kembali ke aku yang dulu, yang bahagia.
Kini aku tahu penyebab kegalauan di tiap pagiku.
Kini aku tahu penyakit apa didadaku.
Kini aku bisa kembali berbakti lagi.
Oh.. Keluarga…

(ADB)

Sabtu, 24 Juli 2010

Desa Kabut Misterius III - The Eternal Path

Desa Kabut Misterius, 7 hari setelah malam itu, 02:45 am
Desa Kabut Misterius, begitulah akhirnya aku menamainya. Sebuah tempat dimana misteri menjadi atmosfer, sebab, akibat, bahkan napas dan detak jantung yang tetap menjaga hidupnya nuansa mengerikan. Sebuah tempat yang telah mengubah kehidupan segelintir orang. Sedihnya, perubahan itu tidak sedikitpun terlepas dari kata ‘pedih’. Dan sedihnya lagi, aku termasuk dalam segelintir orang yang harus berjuang bahkan untuk sekedar yakin akan ada hirupan oksigen lain esok hari.

Seharusnya sekarang menjadi hari ketujuh aku berada di tempat terkutuk ini. Entahlah. Pasalnya, terakhir kali kemari aku tahu ada perbedaan waktu yang cukup signifikan antara waktu sebenarnya dengan waktu di desa. Mencatat kondisi dan menulis buku harian adalah rutinitasku selama berada disini. Rutinitas yang juga dilakukan oleh pendahuluku, Van Sandick. Adalah ruangan bawah tanah berlokasi dibawah sebuah surau tua dan reot tempatku bersembunyi sekarang. Ruangan ini memiliki luas sekitar satu setengah kali lapangan voli, sirkulasi udara yang baik, dan dedaunan yang tumbuh didindingnya bila sewaktu-waktu lapar atau butuh bahan untuk meracik obat. Terima kasih pada Van Sandick yang telah menyelamatkan jiwaku dengan membangun tempat ini.

Ohya, orang yang menggelepar serta bersimbah darah disebelahku namanya Rico Mangunpraja. Tenang, dia tidak mati. Untungnya disini banyak buku-buku tentang pengobatan tradisional hasil penelitian orang Belanda itu. Rico hanya sedikit lalai saat ‘serangan harian’ diluncurkan kemarin. Kalau kala itu dia tidak cepat sadar, bisa saja dia harus belajar untuk menggunakan tangan kirinya saja. Aku menjalin hubungan lebih dekat dengan jam tanganku - satu-satunya benda berdetak dan berbunyi selain jantung - lilin, pulpen besi sekarat, kertas, serta parang. Karena memang benda-benda itulah yang fasih kupergunakan disini.

Keakrabanku dengan benda-benda tersebut juga membuatku sadar akan kegunaan lainnya. Misalnya, pulpen besi tidak hanya digunakan untuk menulis. Bila ujungnya diasah dengan menggunakan parang hingga lancip, dapat efektif sekali dipakai menusuk. Parang selain digunakan untuk memotong, cukup baik sebagai asahan atau sebagai alat menyerang jarak jauh jika handle-nya disambungkan pada rantai. Dan siapa kira? Kertas tua juga bisa menahan darah agar tidak terus mengalir. Dengan ketersediaan tumpukan buku tua yang begitu memadai, kertas bagaikan udara.

Yah, seminggu terperangkap disini dengan segala kondisinya mungkin telah menajamkan kreatifitas dan naluri kesadisanku. Darah yang tadinya sangat tabu bagi mataku, kini dengan santainya mengalir di tangan, kaki, bahkan kepala tanpa sedikitpun aku merasa risih. Sekarang aku harus kembali merawat Rico agar ia cepat pulih. Akan kuteruskan nanti. Aku biasa menulis 3-4 kali sehari, selama hanya itu hal berguna yang bisa kulakukan demi membunuh waktu. Semoga kumpulan catatanku akan ada manfaatnya dalam menemukan jalan mengakhiri ironi ini…

Semoga…


*****
®

Aku tidak bisa bergerak. Mati rasa. Tungkai dan lenganku tidak sekooperatif biasanya. Entah karena luka yang kuderita, atau justru karena teknik pengobatan yang buruk oleh Dennis. Perban yang membalut tubuhku kini harus bertambah lagi.

Disela-sela waktu saat aku tidak bisa bergerak seperti ini, kadang-kadang aku tidak habis pikir mengenai betapa bodohnya aku yang selalu bertindak tanpa berpikir lebih dahulu. Potongan-potongan kalimat penyesalan tidak jarang tiba-tiba muncul dalam benak. Seperti “Kalau saja…” dan “Coba jika waktu itu tidak…”. Hal terbaik yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mempasrahkan diriku kepada teknik pengobatan otodidak dadakan yang dimiliki Dennis.

Kurang lebih lima jam setelah tak sadarkan diri, mataku menjadi indera pertama yang patuh perintah. Gerakan bolanya nanar melihat seisi ruangan. Tidak ada yang berubah. Nyala api yang menari-nari di atas sebuah wadah lilin kecil dengan bentuk khas tahun 60-an yang ditaruh secara sengaja di atas meja kayu usang, seakan mempunyai daya untuk menggoyangkan ruangan ini. Dennis yang sedang duduk bersimpuh disudut ruangan terlihat sedang mengerjakan sesuatu. Nampaknya ia mencoba membuat obat dari dedaunan lagi. Badanku masih tergeletak lunglai di tengah ruangan ini, tanpa alas yang berarti. Hanya kertas. Pikiranku melayang tak tentu arah. Terang saja, siapa yang sangka kehidupan monoton seorang bocah kampung bisa menjadi sebegini absurd? Sedikit demi sedikit, otakku yang masih lelah mencoba mengingat kejadian seminggu lalu.

Hari pertemuanku dengan Dennis.

Ya, lambat laun semakin jelas. Waktu itu larut telah menjelang, dan aku yang setengah sadar bergerak terseret-seret kearah pintu rumahku. Suara decit ban mobil karena bergesekan dengan kerikil di depan rumah serasa memanggilku untuk memeriksa. Setelah kubuka pembatas rumah yang terbuat dari kayu itu dengan terkantuk-kantuk, sorot lampu depan mobil yang terlihat sengaja diarahkan ke pintu rumah sempat membutakan mataku selama beberapa saat. Pada saat itu posisi Dennis sudah berada di depan pintu. Lampu benderang membuat sosoknya tidak terlihat jelas. Aku yang belum mengenal Dennis, hanya dapat menjawab secara terbata-bata sebuah pertanyaan yang diajukannya saat itu.

Dengan sedikit berbasa-basi, menyilahkannya masuk dan duduk di ruang tamu adalah hal terbaik yang bisa kulakukan. Tapi ia menolak dengan alasan ada sesuatu yang penting dibicarakan namun ia takut mengganggu. Kali ini nada bicaranya menurun. Lalu kusarankan untuk berbicara di sebuah saung tidak jauh dari situ.

Di tengah pemukiman yang sepi, langkah dua orang dewasa, gemerincing lampu minyak, dan suara gelas yang beradu dengan termos berisi kopi terdengar menggema. Sepatu vantouvelnya membuatnya nampak tersiksa berjalan di jalanan desa yang layak menjadi jalur off road. Senandung bersahut-sahutan dari hewan-hewan malam pun sayup-sayup menghilang. Seolah ikut membisu karena ingin mendengar cerita Dennis.

“Maaf jika kedatanganku mengganggu. Maaf juga mengenai lampu itu. Aku tahu itu bukan cara terbaik untuk bertamu. Tadi itu aku masih sedikit emosi.” ujarnya sembari melepas sepatu dan duduk di atas ruang meeting ala kadarnya itu.

“Tak apa, sudah lewat. Ceritakan saja apa maksud kedatanganmu ke sini dan bagaimana kamu bisa mengenal kakekku.” jawabku dengan hati yang agak menggerutu.

“Oke. Pertama, namaku Dennis. Aku datang lagi ke desa ini berkenaan dengan kejadian 10 tahun lalu...” Kemudian ia bercerita panjang lebar mengenai tempat terkutuk itu. Tentang keadaan disana, bagaimana ia hampir dibunuh, kode-kode, dan… tentang temannya, Andri, yang ia tinggalkan disana. Semua kondisinya mirip. Persis dengan yang diceritakan oleh kakek. Hanya saja yang ini terdengar lebih dramatis. Mungkin perasaan bersalahnya terhadap Andri juga telah mencairkan hatiku.

“Beberapa hari yang lalu, ketika aku mengingat-ingat kembali memori pahit itu aku memutuskan untuk membuka kembali koper peninggalan Andri. Kemudian aku menemukan sesuatu yang menjadi alasan utamaku untuk kembali ke sana. Biar kuperlihatkan padamu…” Tangan kanannya meraih tas ransel yang sedari tadi menggantung di pundaknya. Rasa kantukku yang semula menghantui, sontak lebur mendengar ceritanya dan kini berubah drastis menjadi rasa tegang yang memompa. Detik-detik ia menggeser resleting tas itu, mencari bendanya, dan mengambilnya keluar nyaris terasa seperti penantian detik-detik pergantian tahun.

“Ini.” katanya sambil menunjukkan benda yang ia maksud.

“….! Itu…”

*****

“Nah, sudah! Cobalah duduk.” perintahku pada Rico yang sempat mengerang saat kubebat tadi.

“Ukh… terima kasih, ya. Maaf, aku jadi merepotkan lagi.”

“Tidak masalah. Sejak masuk ke sini, kita memang harus memikirkan kemungkinan seperti itu. Hal-hal semacam itu lumrah. Lain kali bisa saja aku yang berada dikondisimu.”

“Yah, pokoknya terima kasih. Selanjutnya apa?”

“Kamu masih terlalu rentan dan lemah. Biar aku saja yang mengambil buku itu.”

“Sudah ada rencana?”

Aku mengangguk tanpa suara. Kutampilkan senyum dan wajah yang meyakinkan. Hidup kami disini sangat bergantung pada buku itu. Karena, ternyata memang ada lagi selain catatan hariannya. Sebuah kode. Sialnya kami belum sempat menafsirkan kode yang tercantum pada buku tersebut. Dan sekarang, buku itu hilang. Rico sakit, sehingga praktis aku harus mencari serta mengambilnya sendiri.

Semoga Rico tidak melihat aku menyilangkan jari ketika ia menanyakan rencana.

Karena aku sama sekali tidak punya rencana.

Hanya keluar, cari, ambil. Aku tahu aku akan butuh rencana nantinya. Tapi waktu tidak boleh dibuang untuk berpikir. Aku harus cepat bertindak. Setelah membantu Rico duduk dengan nyaman untuk beristirahat demi memulihkan diri, aku langsung melangkah pergi. Detak jantung yang mengiringi jalanku, seakan juga bolak balik mempertanyakan keputusanku untuk melakukan ini sendiri. Sebab diluar sana, lengah ibarat dosa. Tapi kumantapkan hatiku.

Didepanku ada pintu. Sebuah penghalang dari kayu berkenop yang memisahkanku dari tempat persembunyian. Kujulurkan tanganku untuk memutar gagang pintu itu dan…

“Hei! Siapa yang mengunci pintu? Hoi, Rico!”

“Kau kira aku bodoh, hah? Kamu tidak punya rencana, kan? Dasar. Seminggu bersamamu sudah membuatku cukup mengenalmu untuk sekedar tahu kalau kamu itu nekat. Pintu itu memang kukunci dan kuncinya kusimpan. Tunggu sampai aku pulih, baru kita rencanakan baik-baik cara mengambil buku itu.” katanya dengan seringainya yang selalu membuatku kesal. Hm, oke. Setidaknya ia benar. Kurasa aku memang butuh bantuan.

“Kapan kau ambil kunci itu?”

“Ah, tak usah tahu. Pokoknya, rawat saja aku disini.”

“Cih, ya sudah. Berbaringlah sana. Aku menulis saja.”

Maka disinilah aku, kembali duduk manis di atas kursi yang hampir rontok karena rayap, dihadapan sebuah meja kayu yang tidak layak dipergunakan menulis karena berlubang-lubang dan bergoyang. Namun keterpaksaanku untuk menulis, mengalahkan ketidaknyamanan ini.

Desa Kabut Misterius, 7 hari setelah malam itu, 03:38 am
Ruangan lembab namun hangat karena lilin kecil yang harus kuganti beberapa saat lagi ini, membuatku ingin tidur. Tidak tahu sebabnya, mengingat buku hilang itu membuatku teringat pula akan ekspresi Rico saat pertama kali kutunjukkan buku itu padanya di atas saung yang kita jadikan ruang tamu. Buku yang ia lihat selama ini hanyalah replika dari buku penelitian sesungguhnya yang waktu itu kubawa serta. Tangannya ligat meraih kumpulan lembaran tua itu seolah sudah ia nanti-nantikan sejak lama. Pun kemudian, kusela antusiasmenya dengan sebuah foto. Hasil refleksi oleh kamera pada secarik kertas itu pulalah yang membawaku kembali kemari.

Tak lama, ia menaruh kembali buku dan foto itu lalu menatapku tajam. Pandangannya menunjukkan bahwa apapun yang akan ia katakan sesudah ini adalah kalimat yang serius. Benar saja, secara jelas dan padat ia menceritakan balik mengenai kisahnya. Juga ambisinya untuk segera kembali ke tempat itu demi mencari orang tuanya. Aku tidak tahu kalau masih ada yang bisa selamat dari sana. Tapi ya sudahlah, karena Andri masih hidup mungkin saja orang tua Rico juga. Malam itu, tanpa ijin dari kakeknya kami berdua pergi menuju pintu masuk desa itu.

Kebetulan sekali bulan purnama bersinar terang. Kami berangkat dengan niat yang berbeda namun dengan tujuan yang sama. Langkah Rico tegas, badannya tegap, serta terlihat siap menghadapi kejutan macam apapun yang akan ia temui di tempat misterius itu.

Sebaliknya aku, pria berlabel anak kota, berjalan ragu menjuju sebuah tempat yang tadinya ingin kudatangi secara menggebu-gebu. Jantungku yang bergejolak dipenuhi rasa takut dan cemas, berdegup kencang melebihi bunyi kaki yang memijak dengan lemas
Singkatnya, kami melewati portal itu dan memasuki area desa kabut misterius. Tempat ini. Aku yang masih gemetaran karena tubuh dan otakku masih trauma dengan kunjungan terakhirku, langsung menunjukkan letak tempat persembunyian yang kutemukan dulu. Tidak ada yang berubah. Kami memutuskan untuk bermalam disana, lalu mempersiapkan rencana.

Hal baru yang kuketahui selanjutnya ialah bahwa orang-orang yang menjadi korban terdahulu tidak membusuk karena mereka akan bangkit lagi. Jalannya waktu yang terpisah antara desa ini dengan dunia luar membuat para warga yang malang tersebut bisa dikatakan…. menjadi zombi.

Mungkin kusudahi dulu. Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB. Aku harus mengumpulkan bahan makanan di luar dengan segera. Kulihat Rico sudah mulai bergerak lincah. Nampaknya ia telah dapatkan staminanya kembali. Dan dari pandangan matanya, aku tahu dia sudah punya rencana…


*****
®

Satu persatu anggota tubuhku berhasil ‘kupaksa’ bergerak. Memang saatnya. Aku tidak mau berlama-lama ditempat ini, terlebih setelah aku mendapat titik terang akan yang seharusnya kulakukan. Jalan kami sekarang sudah lebih terarah berkat ditemukannya kode itu oleh Dennis.

“Hei, Den! Kemari kau.”

“Jadi bagaimana? Kau yakin sudah baikan?”

“Ya, tenanglah. Begini, saat kujatuhkan buku itu kemarin, kurasa para zombi tidak memperhatikan. Sekalipun ya, mereka tidak akan memiliki inisiatif untuk mengambil buku itu. Mereka tidak memerlukannya. Yang artinya, buku itu masih ada ditempat awal dimana kujatuhkan kemarin. Satu hal yang patut kita waspadai adalah karena buku tersebut tergeletak di area yang rawan sekali diketahui oleh mereka.”

“Hm.. Rencananya?”

“Sederhana. Kita merangkak dan merayap dibalik batu-batu nisan. Sesampainya di dekat buku itu, kau lemparkan bom molotov racikanku ke arah lain sejauh mungkin sebagai dalih untuk mengalihkan mereka. Saat mereka bergerak, kita ambil buku itu diam-diam lalu pulang. Selesai.”

“Baiklah. Kita berangkat sekarang. Kau jangan lupa bawa senjata.”

“Ya.”

Kini sebuah rencana telah dibentuk. Masing-masing dari kami membawa senjata untuk berjaga-jaga akan terjadinya kemungkinan terburuk, apapun itu.

Dinginnya hembusan angin fajar yang menyebabkan daun-daun bergesek, menjadikan keadaan di luar jauh lebih riuh dibandingkan keheningan tadi. Kami bergerak dengan tenang, nyaris tanpa napas, dari satu tempat ke tempat lainnya mengikuti alur rencana yang telah kususun. Tidak diperlukan waktu lama untuk berada di tempat yang dimaksud. Segera, Dennis yang telah kuberi tanda melemparkan bom pengalih perhatian tersebut ke arah yang berjauhan dengan tujuan kami. Dengan harapan, suara bising yang dihasilkannya cukup untuk mengalihkan perhatian mereka.

Kenyataannya, taktik itu cukup berhasil. Beberapa dari mereka yang terlihat, mulai menjauhi tempat mereka berdiri tadinya. Tanpa dikomandoi, aku dan Dennis langsung mencoba untuk meraih buku yang menjadi kunci terselesaikannya masalah yang telah menyeretku ke dalam tragedi ini.

Semua terlihat baik-baik saja, sampai…

*****

Aku bagaikan anak domba di kandang serigala. Aku sedang bersembunyi disemak-semak yang berjarak kurang lebih dua meter dari penjaga terdekat. Makhluk setengah hidup itu berdiri di arah jam dua, tiga, sembilan, dan sepuluh. Sedangkan target, arah jam 12. Mereka menggunakan buku itu sebagai umpan untuk menarik kami keluar. Mereka tahu buku itu penting bagi kami. Tangan kananku memegang bom buatan Rico. Aku hanya tinggal menunggu tanda darinya. Yak! Itu aba-abanya! Dengan sekuat tenaga kulemparkan bom itu ke arah kiriku. Sejauh mungkin. Sejurus kemudian aku dan Rico keluar dan berlari demi mengambil buku tersebut.

Tapi… apa yang ditangan kiriku ini? Bom itu! Lalu, apa yang kulempar?

Sial! Sial! Sial! Kegugupanku mengacau lagi! Aku yang melempar senjataku sendiri! Huff… bagaimana dengan mereka? Alih-alih menjauhkan, nampaknya aku malah membuat kita terjebak. Aku harus beritahu Rico sebelum terlambat. “Ei, Ric- ”

“Ssshhh… Diamlah… Aku tahu. Ketahuan, kan? Sudah telat. Aku bisa lihat itu. Mereka cepat sekali kembali. Fokus sajalah.” katanya membelakangiku sambil memutar-mutar rantai yang ujungnya dikaitkan pada parang. Sekarang kami dikepung. Mereka ada disetiap penjuru.

“Ikatkan buku itu ketubuhmu agar tidak jatuh lagi, dan konsentrasi. Ingat, kali ini kau tidak bersenjata. Simpan saja bom itu. Tidak mungkin kita pergunakan sekarang. Nanti mungkin berguna.” tambahnya seraya tetap waspada. Kami berdiri saling membelakangi. Disekeliling kami semuanya adalah eks-warga yang kini jadi berbahaya.

“Dennis! Serang!”

Serangan harian dimulai. Berbagai gerakan cepat diluncurkan. Sayangnya kali ini Rico terlihat kewalahan mengatasi mereka. Lukanya jelas belum sembuh sepenuhnya. Untunglah aku tidak butuh waktu lama untuk merebut senapan. Sembari mempertahankan diri, perhatianku terus tertuju pada Rico yang benar-benar tidak seperti biasanya. Gerakannya terlalu mudah dibaca.

“Aaaaaah!”

Itu suara teriakan Rico! Gawat! Ia terjatuh dan senjatanya terlempar dari genggamannya. Dan… ukh! Kedua tanganku berhasil mereka pegang. Aku lengah karena memperhatikan dia. Kini aku hanya bisa diam termangu melihat kawanku tersungkur dalam keadaan lemah menunggu untuk dihabisi oleh makhluk tak berotak dengan senjatanya sendiri. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali memberontak dan berteriak minta tolong sekalipun aku tahu tidak ada siapa-siapa lagi disini.

Apakah ini akhirnya? Kami berdua mati sia-sia bahkan tanpa mengetahui kode yang diberikan? Sampai disini saja? Tidakkah mungkin aku bertemu Andri lagi? Atau setidaknya… tidakkah mungkin aku kembali ke rumah? Aku merasa bersalah telah menyeret Rico kesini. Ia orang yang baik. Air mataku tak terasa mulai berlinang menyesali perbuatan gegabahku untuk kembali ke tempat ini dan menambah satu lagi korban tak berdosa karena ambisi kosongku. Maafkan aku, sobat… Aku tidak bisa menolongmu… Mataku tak kuasa melihat ketika benda tajam itu diayunkan ke arah lehernya. Kupalingkan mukaku sambil memejamkan mataku.

GEDEBUM! Suara benturan yang keras membangkitkan refleksku untuk kembali melihat. Zombi yang tadi hendak menyerang Rico terlempar jauh karena bertubrukan dengan sesuatu. Itu sebuah batu. Namun bukan sembarang batu. Itu batu kali yang beratnya bisa mencapai ratusan kilo! Apa? Siapa? Siapa yang melakukan itu? Rico? Tidak mungkin dia. Posisinya masih belum berubah dan raut wajahnya menggambarkan kebingungan sama besar dengan yang kumiliki. Kepalaku menoleh-noleh mencari siapapun atau apapun itu yang mampu melempar benda seberat ratusan kilo dengan kecepatan mendekati peluru. Yang pasti, kurasa ia ada di pihak kami.

Akhirnya pandanganku terhenti pada sebuah sosok dikejauhan. Itu sesosok orang! Berdiri dengan tegap mengarah pada kami. Itukah Andri? Sosok itu mengeluarkan suara, yang kemudian dibalas dengan teriakan Rico yang membuatku takut dan terheran-heran…

*****
®

“Ah.. inilah akhir hidupku..” begitu pikirku kala jarak mata parang dengan leherku tinggal sejengkal. Tapi tidak, aku masih selamat. Ada yang menolongku. Siapa? Dennis masih dipegangi oleh beberapa dari mereka. Aku melihat kebelakang. Ada sebuah sosok manusia yang berdiri tegak dan terkesan horor karena tampangnya terbayang-bayangi oleh obor yang dipegang tangan kirinya. Apakah ia dewa penolong yang bersembunyi disini selama ini dan mengawasi kami?

“Tidak secepat itu, payah!” sosok itu bersuara sambil berjalan mendekat. Lama kelamaan siluet tubuhnya makin tercitra dengan jelas dalam otakku. Aku kenal dia!

“Kakek! Kakek… kenapa bisa ada disini?”

“Ka-kakek? Di-dia kakekmu? Dia manusia, kan?”

“Sudah, kalian diam dulu. Cucu-cucuku, kita ada sedikit urusan disini.”

“Ya, benar.” Maka pertarungan yang sempat terhenti berlanjut lagi. Kedatangan kakek telah merubah tempo pertarungan. Gerakannya, kelihaiannya, dan kekuatannya, sangat tidak senada dengan umurnya. Jika kakek tidak pernah menceritakan tentang siapa dia sebelumnya, aku pasti mengira aku bermimpi. Sialnya, mereka tidak pernah bisa betul-betul dikalahkan sebab mereka memang tidak hidup. Saat keadaan memungkinkan untuk kabur, kakek memerintahkan kami untuk kembali ke ruang bawah tanah. Pertarungan kali ini ditutup dengan cantik oleh bom yang tadi tidak jadi dilempar oleh Dennis. Kali ini dia tidak salah lempar. Itu sangat memudahkan pelarian kami.

“Huuuh… sampai juga. Nak, buku itu masih ada padamu?”

“Ya, tapi cerita dulu. Anda kakeknya Rico? Mengapa Anda bisa berada disini?”

“Sederhana. Saat kau datang kerumahku beberapa waktu lalu, tanpa sengaja kau juga membangunkanku. Waktu kau dan cucuku pergi, aku memutuskan untuk mengikuti kalian dari belakang. Singkatnya, kalian kakek buntuti hingga sekarang. Kakek yakin kalian akan butuh bantuan kakek.” ujarnya dengan nada suara yang tenang. Apa yang terjadi selama beberapa waktu terakhir telah membingungkanku. Kami semua terdiam sejenak. Saling menunggu seseorang diantara kami untuk membuka pembicaraan lagi. Dennis nampaknya masih tidak percaya bahwa orang ini adalah memang orangtua biologis dari orangtua kandungku. Itu lumrah, sebab pertama kali aku berjumpa dengannya empat tahun lalu pun aku tidak percaya.

“Aku sudah menceritakan bagaimana aku bisa ada disini. Sekarang, tolong berikan buku itu pada kakek, ya? Kakek mau lihat.” ucapnya pada Dennis yang kali ini dihiasi dengan senyum bersahabat. Dennis yang kutahu pikirannya entah sedang mengawang kemana itu akhirnya menyerahkan sebundel kertas tua tersebut pada kakek – dengan tangan yang bergetar.

“Ini. Tapi aku menyarankan kita melihat foto yang kuselipkan ini dulu. Inilah penyebab keyakinanku datang kekediaman kalian dan bahwa Dennis masih hidup.” tangan Dennis menjulurkan secarik kertas foto dengan tanda dari spidol merah.

“Foto ini kuambil saat perjalananku dengan Andri ke desa ini yang pertama kali. Awalnya kukira tidak ada yang salah. Tapi lihat dua tanda yang kulingkari itu, pertama, tangan kanan Andri berubah posisi menjadi menunjuk jam tangannya yang ada ditangan kiri sekalipun tidak ketara. Kedua, angka pada jam digital yang dikenakan Andri berubah. Kami berfoto saat sore hari, kalian lihat matahari yang mau terbenam itu kan? Namun jam tersebut menampilkan angka 00:45, tidak mungkin jam itu salah sejauh itu.”

“Lalu apa pemikiranmu?” potongku yang sudah mulai tidak sabar. “Kupikir tidak banyak yang bisa Andri kaitkan dengan angka 45. Jadi langsung kutujukan pada halaman dibuku. Saat kubuka halaman 45, aku menemukan angka-angka berikut” katanya sambil membuka halaman tersebut. Kakek dan aku langsung mendekat dan melongok karena penasaran. Disana tertulis:

18 20 05 04 05 18
01 15 22 05 05 09
03 20 05 20 04 10
11 26 14 23 05 .

“Aku bingung maksudnya apa, maka kuubah angka-angka tersebut ke alfabet:”

r t e d e r
a o v e e i
c t e t d j
k z n w e .

“Nah, setelah ini aku tidak tahu harus apa lagi. Huruf-huruf itu masih belum dapat dibaca. Aku tidak mengerti, mungkin langkahku salah. Mungkin semua angka itu memiliki maksud lain. Itu sebabnya aku datang padamu karena kukira kamu tahu atau setidaknya membantu.” jelasnya.

Aku juga sama tidak mengertinya dengan Dennis. Bila aku sendiri, malah mungkin tidak akan sampai menemukan halaman 45 ini. Menemukan pun, aku tidak tahu harus dibagaimanakan. Kakek terlihat berpikir keras. Kedua tangannya dipertemukan didepan wajahnya dan jempolnya digunakan untuk menopang dagunya yang renta.

Satu menit berlalu, tiba-tiba kakek merubah posenya kearah Dennis dan berkata, “Tidak, yang kau lakukan sejauh ini sudah benar. Memang sudah seharusnya begini. Sejak kedatangan kalian kemari, apakah ada posisi dari barang-barang yang kalian ubah?”

“Hemm… tidak, Kek. Mengapa?” jawab Dennis yang langsung ditambah dengan pertanyaan yang mewakili rasa ingin tahuku.

“Kalian ingat berasal dari mana orang yang menuliskan sandi ini? Van Sandick berasal dari Belanda. Kode ini juga ditulis dalam bahasa Belanda. Itu sebabnya kau tidak dapat menemukannya, Dennis. Kakek mengetahui sedikit bahasa Belanda saat jaman penjajahan dulu.”

“Lalu apa yang ditulisnya, Kek? Apa?” bentak Dennis yang tidak tahan atas rasa penasarannya.

Rack tot zeven, de tweede rij. Rak ketujuh, baris kedua.”

*****

Setelah mendengar pemecahan dari teka-teki itu, aku dan Rico langsung bergerak cepat laksana elang yang mengincar mangsa. Mata kami semua tertuju kearah satu-satunya lemari tua yang berdiri gagah disisi ruangan. Setelah mengurutkan dengan hati-hati dan tegang, buku mana yang ada pada rak ketujuh dan baris kedua, tanganku terhenti pada sebuah buku bersampul hitam dengan ujung bingkai berwarna emas dan bagian pinggirnya juga disepuh emas walaupun sudah lumayan memudar.

Buku ini terlihat lebih lama dari yang lainnya, sehingga sangat rapuh dan kelihatan mudah sekali dirusak. Tapi ada sesuatu yang menyembul keluar di balik halaman-halaman tua tersebut. Semacam pembatas buku sederhana dari daun yang umurnya jauh lebih muda dari bukunya. Langsung saja aku mengira bahwa halaman inilah yang dimaksud. Ada selembar kertas yang ditaruh diantara halamannya. Nampaknya, Van Sandick telah menerjemahkan halaman berisikan tulisan asing tersebut dalam selembar kertas yang terlipat delapan. Kami sekali lagi meminta kakek untuk membacakan isi dari lembaran tersebut lantaran tulisan itupun berbahasa Belanda.

“Aku menemukan buku ini dalam salah satu perjalananku menemui suku Aborigin di Australia. Menurut yang tertera disini, mantra tersebut pada dasarnya bertujuan untuk melambatkan jalannya waktu disuatu tempat tertentu sekaligus memberikan pelempar mantra serta yang ada disekitarnya, sebuah keabadian - atau lebih tepatnya, keabadian yang terbatas. Ya, mantra ini sebenarnya memiliki limit waktu. Konon, beribu-ribu tahun sebelum masehi ada sebuah peradaban yang besar terletak berdekatan dengan Amesbury di Wiltshire, Inggris, sekitar 13 kilometer barat laut Salisbury. Dukun mereka – atau apapun sebutannya – memenuhi titah penguasa setempat untuk menjadikan seluruh penduduk beserta dirinya abadi. Tanpa memahami konsekuensinya, dukun tersebut menaati perintah sang raja. Dan segalanya lancar, setidaknya hingga batas waktu menghampiri.

Dalam sekejap, terbentuk sebuah lingkaran hitam di angkasa yang berotasi ditengah kota tersebut. Angin bertiup kencang dari segala arah seperti tak sabar menanti-nanti saat ini. Dedaunan, ranting, perabot, bahkan kemudian pohon dan ternak berterbangan liar bagaikan baru lepas dari belenggu. Bak kolam yang ditarik penyumbatnya, angin itu mulai menarik semua yang melayang olehnya kedalam pusaran lubang hitam dilangit. Semua yang berhubungan langsung dengan mantra itu tidak selamat. Tak sampai hitungan jam, kota besar itu rata dengan tanah seakan-akan ia tidak pernah berdiri. Yang tersisa hanyalah bebatuan melingkar yang tadinya merupakan bagian dari kota – entah itu benteng, pusat kota, atau pondasi kediaman raja. Mungkin bebatuan tersebut lebih dikenal dengan… Stonehenge.”


“Stonehenge? Yang benar saja, Kek!” seru Rico sambil mengangkat tangan ke udara.

“Hus! Diamlah. Biarkan kakek melanjutkan.”

“Sulit dipercaya memang, bahwa ternyata asal muasal stonehenge berhubungan langsung dengan kejadian ini. Tapi begitulah adanya. Legenda nasional, Rara Jonggrang, sebuah kisah yang menceritakan mengenai seorang pangeran yang diharuskan membangun seribu candi dalam semalam, juga disinyalir menggunakan mantra yang serupa. Hanya saja, pangeran tersebut memakainya sekadar memanjangkan waktu yang diberi Rara Jonggrang, sehingga tidak sampai batasnya.

Cara untuk membatalkan kutukan ini hanyalah dengan membunuh pelempar mantra sebelum sinar matahari terakhir meredup di hari tahun berulang kembali menjadi nol.”


“Apa sih? Kek, semua ini semakin aneh! Kakek yakin ini bukan omong kosong?”

“Rico, kakek sedang berpikir. Kita sudah sejauh ini, tenangkan dirimu dan mari kita pikirkan maksud dari kalimat terkahir.” Kini kebimbangan terpancar dari air muka orangtua itu. Optimismenya hilang bersama keruwetan baru yang dihadapinya. Buku itu diletakkannya dan kedua sikunya menopang kepalanya.

“Hei, nak Dennis. Bagaima– “

“Aku tahu! Aku tahu maksud dari tahun kembali menjadi nol.”

*****
®

Seolah tenggelam oleh pembacaan kakek, Dennis yang tadinya terlihat antusias berkomentar, sekarang diam seribu bahasa. Sorot matanya menunjukkan ia sedang berkonsentrasi berpikir. Jemarinya disilangkan didepan wajahnya yang sedang menunduk seperti sedang berdoa. Tangannya bergerak cepat mencoret-coret sesuatu diatas kertas yang tidak kumengerti seakan sengaja menambah guratan di meja dengan pulpennya. Aku sama sekali tidak ahli menyelesaikan teka-teki macam ini. Tak dinyana, badanku yang terkulai lemas serasa disetrum oleh harapan ketika Dennis mulai mengeluarkan suara bagai pemanggang roti seusai memanggang.

Dia tahu jawabannya.

“Sejauh ini, tahun telah kembali menjadi nol sebanyak dua kali.” Dia mendehem-dehem lalu melanjutkan. “Yang pertama, perubahan dari tahun sebelum masehi, ke tahun nol, ke tahun satu masehi. Yang kedua, perubahan dari tahun 999, ke tahun 1000. Ya, kalimat terakhir tersebut mengindikasikan pergantian millenium. Dalam kasus ini, dari tahun 1999 ke tahun 2000. Perhatikan bagaimana kita menyingkat penulisan tahun dari ’99 menjadi ’00.”

“Selamat Tuan Sherlock. Lalu kapan tepatnya masa yang ditunggu-tunggu itu terjadi?” ujarku sinis sembari menunjukkan seringai yang kutahu tidak ia sukai.

“Pada halaman 45 itu ada sebuah kode lain yang telah kupecahkan setelah menyambungkannya dengan cerita kakek. Sebuah rumusan jalannya waktu didesa ini. Perbedaan waktu antara desa dengan dunia nyata semakin lama semakin tipis, lalu pada akhirnya akan sama dan… BAM! Desa ini akan hancur oleh pusaran angin yang sama.” Terangnya sambil mengepalkan kedua tangan tepat didepan matanya.

“Itu semua akan terjadi pada pergantian tahun. Atau mungkin lebih tepatnya, pergantian millenium, ketika tahun kembali menjadi nol.”

”Setelah kuhitung, maka waktu yang kita punya sebelum batasnya sekitar…” Dennis menghentikan analisisnya, melirik jam tangan, dan membuat kami kaku dalam penantian laksana peserta undian lotere. “Tujuh puluh lima menit lagi. Tidak lebih, namun terus berkurang.”

“Tinggal 75 menit? Secepat itukah? Memang sudah dua hari yang lalu kita kemari, tap–“

“Ssst..” Dennis menaruh jari telunjuknya didepan bibirku, membuatku merasa seperti anak kecil yang akan diomeli karena mengganggu ayahnya. “Aku tidak mungkin salah hitung. Sekalipun ya, akan lebih buruk dampaknya jika lebih cepat dari perhitungan. Kau baru saja membuang lima detik yang berharga untuk mendebatku.”

Kakek mengangkat bahu menandakan setuju, “Dia benar, Nak. Kita bahkan tidak memiliki cukup waktu untuk memikirkan rencana. Kakek pikir ini saatnya untuk memastikan lukamu telah tertutup rapat. Kita akan butuh setiap kesempatan yang ada.”

Dennis terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat pertama kali kita sampai di desa. Mungkin rasa terdesaklah yang membuatnya begini. Aku mundur dari hadapan mereka yang melihatku beberapa langkah, meminta waktu sedikit untuk menenangkan diri. Punggungku kubenturkan kedinding dan perlahan-lahan merosot hingga aku terhenyak dilantai. Penglihatanku kosong. Mataku melihat salah satu sisi dinding didepanku yang dipenuhi tetumbuhan namun sebenarnya menerawang lebih jauh dari itu. Kemana keberanianku? Untuk beberapa saat setelahnya, suasana hening diruangan bawah tanah menjadi semakin hening hingga kata-kata dalam hatiku pun terkesan menggema. Aku mengingat-ingat kembali tujuanku pergi ketempat ini. Orangtuaku. Nuansa hatiku yang beragam nan labil telah memburamkan maksud awalku. Aku harus menemukan mereka. Harus. Aku ingin menikmati kehidupan dengan kedua orangtuaku yang telah hilang dari duniaku. Kehidupan yang selalu membuatku tertegun iri ketika melihat anak kecil yang digandeng kedua orangtuanya.

“Hei, Bung. Lantas?” ucap Dennis sambil menepukkan tangan kirinya dipundakku, menarikku kembali ke alam nyata dari lamunanku.

“Ayo kita lakukan.” Jawabku tegas yang entah mengapa serasa ditenagai oleh medan tak terlihat. Kami langsung berjalan menuju pintu keluar dengan dihantarkan oleh pekikan tangga gaek yang keropos saat kami injak. Pendeknya, kami bertiga keluar lagi dari persembunyian membawa senjata. Kali ini kami bisa disetarakan dengan tentara yang pergi ke zona perang tanpa diberi hak untuk pulang kecuali menang atau tak bernyawa.

Sisa 65 menit yang ada membuat kami mendadak menjadi orang yang menghargai waktu.
Ini pertama kalinya aku melihat cahaya matahari sejak berada di desa. Tidak terlalu terang atau terik dan sesekali tertutup awan, tapi sudah cukup membuatku nyaman. Antara tak sabar, tidak tahan, atau muak terhadap segala kondisi, kami berlari menuju rumah yang Dennis sebut sebagai rumah pria setengah terbakar ketika dulu tiba disini. Derap langkah tiga pasang kaki kami sontak berhenti ketika mata kami menangkap bayangan orang sejauh sembilan meter menghalangi jalan kami.

“A-Andri!” seru Dennis, yang disusul oleh senyum yang merebak diwajahnya. Ia kemudian berlari menuju kawan lamanya itu dengan perasaan senang setelah sepuluh tahun tidak bertemu – yang tentunya terasa lebih lama bagi Andri. Secara reflek aku ikut tersenyum, teringat kembali akan kesempatan bertemu kedua orangtuaku dan setelah melihat Andri, kesempatan itu terasa makin besar.

Dennis merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk memeluk Andri yang mengangkat tangan, tapi tidak terlihat seperti menerima pelukan Dennis. Ada apa? Posisi tangannya cenderung mengacungkan sesuatu dibandingkan memeluk. Dan dia memang mengacungkan sesuatu pada Dennis.

Sebuah pistol.

*****

“Andri? Kenapa dengan pistol itu?” tanyaku yang sekarang dipenuhi tanda tanya. Dia diam tak menjawab. Kuhentikan lariku dan kuturunkan tanganku. Kedua tungkai kakiku berjalan mendekat, merasa was-was karena tidak mengerti apa yang terjadi. Kucoba untuk kembali bertanya dengan senyuman ragu terpampang. “Ayolah, Dri. Jawab aku. Apa yang terjadi? Kau bercanda, kan? Pulanglah bersamak– “

Keadaan sekitar terasa vakum ketika Andri tanpa ragu menarik pelatuk, menyebabkan sebutir peluru melayang dengan pasti kearahku. Sepersekian detik kemudian, peluru itu mengenai bagian kiri dadaku, sedikit diatas jantung, menyebabkan senjataku terlempar dan aku terhempas ketanah yang lalu basah oleh darahku. Aku yang teramat bingung, sedih, takut serta kesal, hanya bisa membuka mulut tanpa berkata sepatah katapun. Baru setelahnya Andri mulai angkat bicara.

“Kemana saja kau, hah? Meninggalkanku sendirian ditempat mengerikan ini. Bertahun-tahun tanpa seorang teman. Disekelilingku hanya ada makhluk yang tak bisa diajak bicara. Tidak ada satu manusiapun yang benar-benar hidup selain aku. Tidak ada satupun penyintas. Berminggu-minggu sejak aku ditawan, barulah aku bisa meyakinkan suami-istri itu bahwa aku hanya seorang pendatang yang tidak memiliki maksud apa-apa. Kini aku dirawat oleh mereka. Mereka bersedia merawatku karena teringat oleh anak mereka yang tidak jelas rimbanya. Mereka pula yang mengatakan betapa pengecutnya engkau saat kabur padahal kau dengar aku meminta tolong. Tidak kusangka engkau begitu egois memikirkan dirimu sendiri untuk keluar dari tempat ini walaupun jelas sekuat apapun mereka dan setakut apapun kau pada saat itu, yang kau kendarai itu mobil yang beratnya berton-ton. Kalau kau mau, kau bisa mengalihkan mereka dan mencariku. Tapi ternyata tidak. Aku terlalu naif mempercayaimu sebagai sahabat baikku, Den!”

Aku turut sedih saat ia bilang tidak ada yang hidup atau sintas selain dirinya. Bukan simpati, tapi itu berarti menyiratkan kedua orangtua Rico juga telah mati. Kuyakin kecemasan dan kekosongan kini menjangkiti tubuhnya. “Dri, aku mengaku salah. Aku panik jadi tidak bisa berpikir jernih. Kukira– “

“Diam! Simpan semua perkiraanmu! Lama terkurung disini membuat pandanganku skeptis dan rasa benciku padamu bertumpuk. Akan kutembak temanmu itu, lalu kakek-kakek disebelahnya agar kau bisa merasakan ditinggal oleh temanmu, orang yang kau pikir bisa kau andalkan.”

Andri berjalan melewatiku yang tersungkur ditanah menuju Rico dan kakek. Senyum kekejaman yang ditampilkannya membuatku merasa terhina pernah menyesal meninggalkannya. Badanku sakit, tak dapat bergerak. Namun hatiku jauh lebih sakit karena harus menghadapi kenyataan ini. Sepuluh tahun kulewati sia-sia. Bahkan sahabatku sendiri yang akan membunuh Rico, yang rela menemaniku kemari disaat semua yang kuajak bicara menganggapku sinting. Aku tidak boleh membahayakan mereka lagi. Dengan segenap kekuatanku yang tersisa, aku beranjak menerjang Andri sehingga pistolnya terlempar meskipun sempat tertembak ke udara.

“Lari! Jangan membantah! Waktu kita tidak banyak!” teriakku pada mereka. Sejenak mereka terdiam, mengangguk ke arahku lalu berlari melewatiku yang sedang bergelut menahan Andri.

Air mata tanpa diperintahkan mengalir deras tak bisa dihentikan ketika aku melakukan pertarungan bare hand dengan Andri. Aku tidak pernah menyangka akhirnya akan seperti ini. Di mimpi juga aku tidak sudi. Andri, teman baikku sejak kecil, kini menjadi musuh yang suka tidak suka harus kukalahkan di tanganku sendiri. Disela-sela pertarungan kami, aku masih terus mencoba untuk meyakinkan dan mengubah pendiriannya, namun ia tak bergeming. Kami berdua sama-sama kelelahan. Ketika dia lengah, kumanfaatkan saat itu untuk menancapkan pisau tepat ke jantungnya, menghentikan segala aliran darah yang menjadi sumber kehidupannya. Dia sempat berusaha, lalu oleng nyaris jatuh. Kutopang tubuhnya yang telah tak bernyawa itu dengan penuh kemirisan. Darah dan air mata bercampur membasahi lenganku, serasa ingin mati saja setelahnya. Tidak, aku masih punya tanggung jawab. Kuletakkan dia diatas tanah dan kubisikkan kata ‘maaf’ di telinganya sebelum kembali berjalan tergopoh-gopoh untuk menyusul Rico.

Ternyata keadaan disana lebih parah.

*****
®

“Benarkah itu? Benarkah apa yang dikatakan temannya Dennis? Bahwa tidak ada yang lain selain dirinya? Bohong. Itu pasti bohong. Tapi untuk apa dia berbohong? Dia sudah lama mendiami tempat ini sehingga pasti akan sadar bila ada orang lain selain dirinya. Tapi… tapi…” kuulangi pertanyaan itu didalam hati berkali-kali seperti sedang menghapal sebuah teks drama. Drama yang tragis.

Sambil terus berlari, aku mengeluarkan opini-opini pembangkit semangat yang dengan cepat kupatahkan sesudahnya. Nampaknya aku harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orangtuaku telah meninggal. Akupun tak yakin berapa lama mereka bisa bertahan seperti Andri. Bahkan selama seminggu hidup disini, depresi telah menyambangiku dihari ketiga. Sedikit banyak aku mulai berempati terhadap Andri. Kuharap dia tidak benar-benar serius tadi.

Seakan bisa membaca kegalauanku, kakek memalingkan mukanya ke hadapanku dan tersenyum getir. Dari bahasa tubuhnya aku hampir bisa mendengar dia mengatakan, “Tenang, ya? Masih ada kakek.”

Aku lupa kalau memang seharusnya kakek-lah yang lebih pantas menjadi guide. Anak di cerita Andri tadi pastilah maksudnya kakek. Aku bisa menangkap rasa bersalah di rona wajahnya. Katakanlah, secara tidak langsung kakek yang mengurung Andri. Hatiku sedikit lebih tenang karena satu dan lain hal. Bisa dibilang aku tidak memiliki kenangan yang berarti dengan orangtuaku – yang melihatnya saja tidak pernah – dan tekadku itu hanya letupan hasrat sesaat. Sekarang aku cuma ingin kembali kerumah, menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja dengan kakek dan nenek, melupakan segalanya, serta mensyukuri apapun yang ada. Pengalamanku ditempat ini sudah cukup untuk seumur hidup. Hatiku merindu akan ketenangan jiwa sebelum mengetahui sedikitpun mengenai perkara ini.

“Kita sampai. Ini tempatnya, bersiaplah.”

Kakek menghentikan pergerakannya lantas berdiri tegak memasang kuda-kuda. Didepan kami berbaris para zombi yang sudah menunggu kami dengan ditengahnya ada dua orang yang terlihat berbeda. Dari sikap kakek aku bisa menyimpulkan bilamana mereka adalah orangtua kakek, atau buyutku. Seorang pria tua kurus yang bertatapan dengan kakek semenjak awal, memulai perbincangan dengannya menggunakan bahasa yang tidak dapat kumengerti. Kakek menjawab dengan bahasa yang sama lalu direspon dengan amarah oleh pria itu; kuketahui dari tubuhnya yang bergetar serta gemertak rahangnya yang tegas. Ibu-ibu disebelahnya hanya diam, menampilkan ekspresi terkejut tak percaya.

Tak perlu menjadi seorang ahli sulih bahasa untuk tahu bahwa satu kata yang diteriakkannya keras-keras seusainya adalah kata ‘serang!’ atau semacamnya. Bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busur, para makhluk suruhan itu berlari menuju kami – pasti bukan dengan maksud menyambut seorang kawan lama. Aku langsung membaca situasi kemudian mempersiapkan diri menghadapi pertempuran terakhir ini. Kemana perginya Dennis? Berhasilkan ia, anggaplah, merekrut Andri? Kami membutuhkan setiap pertolongan yang bisa diberikan. Atau jangan-jangan, ia malah terbunuh?

Pesta tetap berlanjut walaupun kekurangan orang. Segala upaya kukerahkan melawan mereka. Percikan api dan suara yang mengundang rasa ngilu terkadang keluar dari senjata yang saling beradu. Area itu ibarat berubah menjadi arena colloseum, dimana nisan-nisan yang mengelilingi desa tersebut berubah menjadi penonton yang menyoraki dua orang gladiator yang sedang dikeroyok oleh segerombolan bandit – layaknya adegan andalan ciri khas film kung-fu – dengan sepasang raja-ratu menonton di kursi VIP dengan tatapan orangtua otoriter yang menghukum anaknya. Mataku sesekali mengerling ke arah kedatangan kami, menanti kehadiran Dennis. Sebab sekarang berbeda. Biasanya kami hanya bertarung untuk mengambil makan kemudian kabur.

Untukku berat, karena aku tidak tahu mengenai cara menyudahinya sebelum didahului oleh terkurasnya stamina. Bagi kakek mungkin pertarungan ini seperti remis dalam pertandingan catur, mengingat status yang hampir sama diantara mereka.

Tiba-tiba para warga desa itu terdiam, lalu serempak jatuh bagaikan mainan yang dicabut stop-kontaknya. Penglihatanku memindai sekitar, mencoba membaca-baca keadaan. Tetapi ekspresi kami semua sama, bimbang. Tidak ada tanda-tanda ini sudah direncanakan oleh siapapun sebelumnya.

“Apalagi sekarang?” tanyaku.

Alam seolah mendengar pertanyaanku dan menyambutnya.

*****

Aku sejatinya senang melihat Rico dan kakek masih selamat, ditambah lagi para zombi telah terkapar disekeliling mereka. Tapi bukankah mereka seharusnya tidak dapat mati? Yah sudahlah, setidaknya itu bagus. Aku lihat mereka berdua sudah bertemu dengan pasutri yang kuceritakan. Sekarang permainan diisi oleh lima pemain, dengan kondisi tiga lawan dua. Sekalipun dua diantara kami bertiga sudah bersimbah darah, keuntungan ada di pihak kami dan itu biasanya menenangkanku.

Sayangnya kali ini tidak.

Bulu kudukku berdiri seperti memperingatkanku akan sebuah kejadian. Aku yakin bahwa sesuatu akan terjadi. Sebuah sensasi aneh yang lebih parah dari kerusakan fisik sehingga mempengaruhi pemikiranku. Pertanyaannya sekarang adalah: Apa?

Aku memperhatikan daun yang gugur disebelahku. Mulanya diam, lalu lambat laun berputar-putar. Kini aku merasakannya. Angin bertiup tak tentu arah menyebabkanku sedikit menggigil. Perubahan itu rupanya juga dirasakan oleh mereka semua. Tiupan kecil itu meningkat secara konstan menjadi halangan yang patut diperhitungkan. Aku mulai menguatkan pondasi kakiku, dan memposisikan lengan kananku melintang didepan dahiku melawan arus angin hanya untuk sekadar berdiri. Jelas ada yang salah.

Benar! Itu dia! Aku harus beritahu mereka. Aku kemudian sadar bahwa sudah tidak dapat berkelahi lagi. Aku terlalu lemah, bahkan untuk berbicara. Suaraku seakan enggan untuk meninggalkan tenggorokanku. Tidak, tidak lagi. Kukumpulkan segenap kekuatan lalu berteriak pada mereka, “Rico! Kakek! Kita harus bergegas! Waktunya tinggal lima menit lagi!”

“Dennis! Kau selamat!” kata Rico sembari menengok kearahku. Ia tersenyum lega.

“Bagaimana dengan Andri?”

Aku menggeleng penuh penyesalan. “Jangan pikirkan dia! Waktu semakin menipis!” Pastinya kematian para zombi menandakan pengaruh mantra sudah melemah.

Awan gelap yang setia menutupi desa ini bergerak menuju satu titik tepat diatas kami. Semuanya berduyun-duyun datang dari pelbagai arah bak domba yang dipandu gembala. Mereka membentuk sebuah pusaran angin raksasa dilangit dengan sebuah lubang hitam yang diramaikan oleh kilatan petir ganas disekitarnya. Persis seperti didalam cerita. Beberapa nisan mulai terangkat dan meninggalkan tempat dimana seharusnya mereka berada. Sedangkan sinar matahari agak memudar seperti pergi lantaran tidak ingin mengganggu euforia yang terjadi. Sebuah pohon kelapa yang sedari tadi bergoyang-goyang gelisah tertiup badai akhirnya tercabut dari singgasananya. Jeleknya, ia tumbang ke arahku.

“Aaaahh!” teriakku sejadi-jadinya. Pohon itu menghimpitku dan kurasa kakiku patah. Rico langsung berlari menghampiri. “Dennis! Kau tidak apa-apa? Bertahanlah! Kek! Hanya kau harapan kami! Hanya kau yang bisa melawan mereka! Lakukanlah! Aku disini menolong Dennis!”

Suara Rico tenggelam ditengah hingar-bingar deru angin. Kakek tidak berkata-kata, namun langsung bertindak. Ia menabrak ayahnya lalu meninjunya di wajah berkali-kali sebelum perlawanan diberikan. Mereka berkelahi dengan sengit seakan terlihat lebih seperti musuh bebuyutan daripada hubungan ayah-anak. Keduanya tampak keras kepala.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mulai menggunakan senjata, yaitu segala yang dapat mereka raih dan gunakan untuk dilempar. Berawal dari kapak, golok, bahkan tubuh zombi yang mendingin itu. Kejadian ekstremnya adalah mereka mencabut pohon kelapa berukuran sedang dengan sebelah tangan serta memainkannya seperti pedang seringan tusuk gigi. Ibu-ibu itu hanya terbujur kaku menyaksikan konflik tersebut. Mungkin kaget, bingung harus membela yang mana sehingga dia memilih untuk diam.

Jamku menunjukkan saatnya untuk khawatir. Tinggal 15 detik lagi.

Aku benar-benar panik. Kakek harus cepat-cepat membunuhnya, jika ia tidak ingin kejadian ini membunuh kita semua. Empat detik telah berlalu, belum ada tanda-tanda perkelahian akan berakhir ditangan kakek. Sepuluh detik terakhir, telingaku serasa tuli. Kebisingan yang sedari tadi melanda sekejap hilang dari pikiranku, digantikan oleh suara detak jantungku yang teramat keras lagi jelas. Denyutnya berdetak pelan mengikuti alur kecepatan detik seolah membantuku menghitung mundur kehancuran kami.

Lanskap didepanku seperti berubah menjadi slow-motion dengan tidak adanya kemungkinan bahwa adegan kekerasan itu akan berakhir dalam waktu dekat. Mereka imbang.

Tiga detik sebelum tombol reset ditekan, menelan ludah pun merupakan pekerjaan yang berat bagiku. Tiba-tiba sebuah pisau dapur besar dengan kecepatan mengagumkan melesat dan menembus dada ayahnya kakek dari belakang. Yang lebih mengejutkan lagi adalah karena itu dilakukan oleh istrinya. Nampaknya dia mengambil sebuah risiko dari tindakan yang mungkin belum dipahami sepenuhnya. Alis beserta bibirnya membentuk ekspresi bersalah, tapi yakin telah melakukan sesuatu yang terbaik. Pria tua itu mengerang keras sebelum jatuh ke tanah. Jarum detik di jam tanganku berhenti tepat satu detik sebelum batas waktu. Kelihatannya medan listrik yang terlampau kuat disini telah mengacaukannya. Sekarang apa? Bolehkah aku tersenyum demi merayakan kemenangan?

Untuk beberapa saat lamanya, badai mereda sehingga terbitlah senyum di wajahku dan Rico saat kami secara kompak bertatapan. Parahnya, ungkapan ‘permainan belum berakhir hingga peluit berbunyi’ membuktikan kebenarannya. Bagaikan sengaja mempermainkan kami, lubang yang mengecil di angkasa itu sekarang kembali membesar dua kali lipat dari semula. Angin yang sempat berhenti kini bertiup lebih kencang. Tapi… tunggu! Ada satu komponen yang kurasakan berbeda. Kurasa Rico juga merasakannya.

Sesuatu yang diluar rencana telah terjadi. Is it the worst case scenario?

*****
®

Aku tadinya merasa yakin segalanya telah usai.

Dennis bilang padaku bahwa pisau itu menembus dadanya pada pukul 23:59:59. Yang artinya jika selama ini dia tidak pernah salah, kekacauan ini seharusnya berhenti. Tapi mengapa tidak? Hanya ada satu penjelasan. Antara kesalahan hitung atau kesalahan tafsir, yang pasti proses penetralan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sejujurnya melakukan semua ini menurutku cukup gambling, mengingat tidak ada jaminan apa yang telah kami anggap benar itu memang benar. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mempasrahkan diriku. Bila hidupku harus berakhir seperti ini, setidaknya kami sudah berusaha sekuat kami.

Alam kembali memainkan konsernya.

Semua yang tadi sempat terjadi – angin ribut, badai, petir, melayangnya benda-benda disekitar, serta lubang hitam – kemudian agak mereda, kembali terjadi dengan kekuatan yang masing-masing dilipatgandakan. Malahan sekarang terbentuk sebuah puting beliung raksasa yang bermuara dilubang hitam itu, yang bisa dikatakan sebagai penyempurna mekanisme penghancuran diri. Disaat inilah aku mulai merasakan keanehan yang ternyata juga dirasakan oleh Dennis. Ada yang kurang. Alih-alih menakutkanku, gejala-gejala mengerikan ini tidak sedikitpun meningkatkan ritme detak jantungku. Pertanyaan tersebut terjawab ketika puting beliung mulai mengangkat pohon yang menindih Dennis.

Semua ini tidak lagi berdampak pada kita. Berbagai pemandangan yang ada, ibarat hanya dihasilkan oleh sebuah proyektor film 4D besar dengan special effect yang dirancang sedemikian rupa, sehingga menampilkan realitas yang luar biasa. Pakaian kami memang berkibar dan kami masih merasakan dahsyatnya angin itu, namun selebihnya tidak ada pengaruh apapun lagi. Kami tidak tersedot kedalam puting beliung. Itu yang penting. Senyum yang sempat hilang itu kini kembali disertai kelegaan dan kegembiraan yang amat sangat. Kami telah berhasil menghapus mantra itu tepat pada waktunya. Aku mengepalkan tangan ke arah Dennis tanda kemenangan yang ia sambut dengan melakukan hal yang sama. Selain kami, semuanya terhisap ke dalam puting beliung lalu ke lubang hitam bagaikan melihat pengurus rumah tangga membersihkan debu menggunakan vacum cleaner.

“Ohya, dimana kakek? Kau lihat?” tanya Dennis yang langsung membekukan bibirku.

Kepalaku menoleh ke kanan-kiri mencari-carinya. Untung tidak lama sebelum inderaku menangkap kehadirannya. Ia berdiri tegak agak jauh didepanku, tersenyum sambil melambaikan tangan. Tak pelak, aku berlari ke arahnya dengan perasaan gembira yang meluap. Keinginanku untuk menjalani hari-hari yang damai bersama kakek dan nenek tanpa lagi dilingkupi oleh rasa penasaran tentang orangtuaku tercapai sudah. Aku akan menghabiskan sisa hidupku mengabdi kepada mereka berdua, membuat mereka bahagia karena tidak ada lagi yang dapat kulakukan untuk mereka.

Namun sebelum aku menghampirinya, aku berhenti. Kakek mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan telapaknya padaku. Posenya seperti sedang menghentikanku. Apakah dia tidak ingin aku mendekat? Ada apa?

“Kakek? Kenapa, Kek?” tanyaku yang hanya dibalas senyuman.

Perubahan pada tubuh kakek membuatku terperanjat. Ia mengeluarkan sinar. Sekujur tubuhnya kini perlahan-lahan melayang dengan anggun tidak seperti benda lainnya yang bergerak secara liar oleh angin tersebut. Aku masih tidak dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ini tidak ada didalam buku maupun cerita. Mungkinkah ada bagian yang terlewatkan? Hanya ekspresi kebimbangan yang kutampilkan.

“Rico cucuku… Jangan kaget.” Dia sekali lagi tersenyum lebar dengan maksud untuk menenangkanku. “Tidakkah kau ingat buku itu mengatakan bahwa, ‘Semua yang berhubungan langsung dengan mantra itu tidak selamat’? Kakek berhubungan langsung. Kakek ada ditempat ini ketika mantra itu dilemparkan oleh ayah kakek. Jadi suka tidak suka, kakek akan terseret nantinya.” Ujarnya sembari menatapku untuk yang terakhir kali.

“Kek.. tapi.. tapi.. pasti ada pengecualian, kan? Ti-tidak mungkin, pasti ada cara lain kan? Kakek bilang saja, nanti akan ku– “

“Tidak ada yang bisa kau perbuat, cucuku sayang. Tidak ada.”

“Tapi… aku sudah merencanakan untuk tinggal bersama kakek dan nenek! Menghabiskan masa mudaku menjadi pelayan atas kebahagiaan kalian! A-aku… aku mau membalas budi kalian berdua, khususnya kau, Kek… Aku ingin mengulang kembali perasaan masa-masa kecilku, dimana kita bersenang-senang saat kau mengajakku keliling sawah tanpa beban, tanpa masalah. Sedikitpun aku tidak akan rela kau pergi, Kek! Tolong, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku dan nenek, Kek!”

Kakek sudah tidak lagi menjawab. Ia hanya tersenyum sembari menangis. Dorongan keras dari angin pada saat itupun bahkan tidak mampu menyapu air mataku yang mengalir deras. Air mata seorang anak desa sebatang kara yang harus kehilangan satu dari dua orang paling berharga dalam hidupnya. Satu dari dua orang anggota keluarga terakhir yang pernah ia ketahui.

Tubuh kakek terus melayang ke atas dan pada titik tertentu, ia berhenti melayang. Sinar yang dipancarkannya semakin kuat dan terang sehingga membuatku tidak dapat lagi membedakan aksesoris mukanya. Sejenak kemudian tubuhnya terpecah menjadi partikel-partikel kecil bagai kunang-kunang yang terbang dengan tenang melewati badai menuju pusat lubang hitam. Saat butiran partikel terakhir memasuki lubang hitam tersebut, kilatan petir yang menyambar semakin banyak dan akhirnya menimbulkan suatu cahaya membutakan disertai dentuman keras hingga membuatku lumayan terpelanting ke belakang.

Namun seketika hening. Sunyi senyap. Tak terdengar sedikitpun suara. Kala mataku sudah kembali bisa melihat, semua pusaran angin, lubang hitam, petir, puting beliung, dan yang menandakan bekas-bekas keberadaan desa tersebut hilang sama sekali. Kami kembali berada dihutan; yang tadinya portal untuk memasuki desa.

Tetesan air hujan mulai turun dari langit membasahi ragaku seakan prihatin atas kerapuhan jiwaku. Aku tentu masih akan terdiam dalam depresiku jika aku tidak dikagetkan oleh teriakan Dennis. “Rico! Lihat ke atas! Ada sesuatu yang melayang diatas sana!”

Teriakan itu direspon olehku dengan dongakan kepala.

Aku memang melihat sesuatu.

*****
®

Itu sebuah kertas. Entah darimana datangnya. Gerimis telah membuatnya jatuh tidak terlalu jauh dari raihan tanganku. Tanganku langsung menggapai-gapainya tak sabar. Tanpa melihatnya terlebih dahulu, aku menangkap kertas itu dan membopong Dennis untuk berteduh dibawah pohon agar basahnya kertas itu tidak semakin parah hingga rusak dan sulit dibaca.

Surat itu dari kakek.

Tanpa ragu dan banyak tanya aku langsung membacanya.

“Untuk cucuku tersayang, Rico Mangunpraja.

Beberapa hari lalu kakek mendengar ada tamu yang menyebabkanmu teringat kembali akan cerita kakek empat tahun silam. Maka, kakek memutuskan untuk ikut mendampingimu karena kakek ikut bertanggung jawab akan hal ini.

Sesampainya didesa ini, melihat kembali kampung kakek setelah sekian tahun lamanya, entah kenapa membuat kakek berpikir bahwa disinilah kakek berasal dan disinilah kakek akan berakhir. Kalau surat ini sampai ditanganmu dan kau baca, berarti perasaan kakek itu benar.

Kakek menulis surat ini ditengah persembunyian yang berpindah-pindah. Ditempat itupun kakek selalu mengawasimu, cucu kakek satu-satunya yang ternyata sudah beranjak dewasa. Kadang kakek teringat bagaimana kita saat kau kecil, bertiga dengan nenek, berjalan-jalan dan bersenang-senang tanpa beban dipematang sawah. Kakek bahkan masih ingat tawa riangmu saat kita berkejaran disana, sebelum akhirnya kau harus pergi meninggalkan kakek dan nenek sendirian dirumah kita. Tapi kami paham, kau merantau demi kebaikanmu sendiri. Dan apa yang baik buatmu, baik buat kami juga.

Semakin lama kakek berada disini, semakin kakek menyadari bahwa tidak banyak yang telah kakek berikan padamu. Yang ada malah perasaan bersalah kakek, ketika empat tahun lalu kau menangis waktu kakek harus menceritakan kebohongan kakek selama ini dan ketika melihat matamu yang berkilat-kilat saat mengetahui kemungkinan selamatnya orangtuamu. Kakek pikir lumrah kau begitu, sebab setiap anak memang harus tumbuh bersama orangtuanya, sedangkan kau tidak. Kau anak yang kuat, kakek tahu itu. Hingga kakek memutuskan untuk memberikan segalanya termasuk hidup kakek demi menyelamatkanmu. Lagipula, kakek sudah hidup terlalu lama. Kakek pun tidak akan sanggup bila harus hidup lebih lama menyaksikan orang-orang yang kakek sayang menua lalu mati meninggalkan kakek sendiri.

Sebenarnya kakek tidak ingin surat ini sampai dibaca olehmu.
Tapi bila ya… Maafkan kakek dan jaga nenek, ya?

Sungguh kakek masih ingin duduk disisi tempat tidurmu, mengelus rambutmu, menyaksikan engkau tersenyum terbuai di alam mimpi seperti dulu. Fufu… namun kelihatannya tidak akan terjadi, kan? Kakek menyesali hal itu, tapi tetap yakin inilah yang terbaik.

Rico cucuku… boleh kakek minta untuk kamu tidak melupakan kakek? Sebab air mata yang kini menggenang di mata kakek, yang hanya tinggal menunggu waktu untuk jatuh bercucuran mengotori kertas ini, adalah tanda kakek tidak akan pernah melupakanmu dan nenek. Harta kakek yang paling berharga. Nak, jadilah orang yang berguna dan membanggakan nenekmu sepeninggal kakek.

Mungkin… tidak banyak yang dapat kakek sampaikan disaat-saat terakhir kakek melihatmu. Mungkin kakek hanya bisa tersenyum pahit ketika bola mata kakek memandangmu dan memutar ulang kembali semua masa-masa bahagia kita bertiga. Kakek hanya berharap kau paham jika ini yang terbaik untuk kita.

Kakek pergi dulu, ya? Maaf kalau nanti kakek tidak bisa kembali untuk memelukmu.

Kakek sayang kamu.

Dari Kakek.


Aku tidak dapat berkata apa-apa. Bibirku bergetar dan tanganku berguncang hebat. Jangan ditanya masalah air mata. Ia sudah mengalir deras tanpa henti sejak membaca paragaraf kedua, membasahi surat tersebut lebih parah dari yang diakibatkan hujan. Aku tidak tahu harus apa sekarang. Aku hanya berharap seseorang menamparku dan membangunkanku dari mimpi buruk ini. Bangun, melihat kakek dan nenek menyambutku seperti yang biasa mereka lakukan tiap pagi dirumah. Menjalani kehidupan normal bersama dua orang yang begitu berarti dalam hidupku, itulah keinginanku. Seberapa sulitkah itu untuk dikabulkan? Memangnya salahku apa? Bila aku tak cepat disadarkan oleh tatapan Dennis yang mengiba melihatku, mungkin aku akan mulai menyalahkan Tuhan.

Pandanganku gelap. Hitam. Aku tidak melihat apapun lagi.

*****

Dari sikap Rico saat membaca kertas itu aku bisa tahu kalau itu dari kakeknya.

Hiasan langit yang berhamburan seolah hadir menemani kegundahan Rico. Kesedihan yang kurasakan lantaran menemui Andri telah berkhianat, tidak seberapa dibanding kesedihan yang ia rasakan. Tidak hanya harus menghadapi kenyataan orangtuanya telah meninggal, kakeknya pun tiada. Aku tidak ingin mengusiknya dulu.

Ia butuh waktu untuk sendiri.

Saat ia akhirnya pingsan, awalnya aku cukup kaget mengenai apa yang terjadi padanya. Lalu kemudian aku merasa wajar. Aku yakin ia sangat kelelahan, baik fisik maupun mental. Karena kakiku patah, aku tidak bisa membawanya sendiri pulang. Hanya menunggu pagi hingga ada seseorang yang lewat. Dari kejauhan aku mendengar suara petasan tanda merayakan datangnya tahun dan millenium baru. Bagiku dan Rico, sungguh cara yang menyayat hati menyambutnya.

Ikatan yang kuat antara Rico dengan kakeknya membuatku malu. Teringat bahwa aku tidak begitu dekat dengan orangtuaku, sebuah hal yang ternyata begitu pantas untuk kusyukuri. Sama halnya dengan Andri, kini aku paham mengapa aku begitu getol mencarinya. Sejak kecil aku begitu tertutup, sering menyibukkan diri tanpa peduli lingkungan luar sehingga tidak banyak yang mau berteman denganku. Tumbuh dewasa, sifatku tidak berubah dan diperparah dengan hilangnya Andri. Aku jadi begitu menggilai pekerjaan. Setidaknya hingga sekarang. Aku akan berubah. Dari Rico aku mempelajari sesuatu yang sangat berharga.

Bahwasanya ada sebuah kata yang begitu berarti didunia ini.

Yang mana ia lebih luas dari langit,

Lebih dalam dari samudra, serta lebih rumit dari fisika.

Terkadang ia bisa lebih kuat dari baja, namun terkadang lebih rapuh dari embun pagi.

Itulah persahabatan.

Dan satu hal yang lebih sulit dibanding mengikatnya,

Adalah mempertahankannya.

Persahabatan. Sungguh perasaan yang manis.

Kini aku tidak sendirian lagi…

-----------------------------------------------------------------------------

THE END

The End of Chapter Three, Final Chapter – “The Eternal Path”.

But the start of a new life…

Created by: Amadeo D. Basfiansa

Desa Kabut Misterius II - The Meeting and The Revelation of Secret

Siang ini, panasnya Jakarta hampir tidak bisa kutoleransi. Gelombang panas yang dipancarkannya seakan membuat burung-burungpun enggan mengembangkan sayapnya. Sebagian dari penduduk Kota Metropolitan ini sedang berada di ruangan ber-AC dalam keadaan tidur, atau mungkin bersantai. Sebagian lagi berada di dalam mobil mewah mereka yang rasa panasnya telah tertiup oleh pendingin yang menyejukkan. Sebagian yang lain, ya seperti aku ini. Berdesak-desakan di dalam angkutan umum, berdiri, merasakan tiga kali lipatnya rasa lelah. Ditambah lagi hawa panas yang bahkan mungkin bisa membuat orang Arab-pun melepas baju.

Untungnya, pengembaraanku di Jakarta berakhir sudah. Aku adalah satu dari sekian banyak orang yang beritikad baik untuk menimba nasib di kota ini. Namun aku juga adalah satu di antara mereka yang gagal peruntungannya. Tidak menutup kemungkinan itu dikarenakan asalku yang dari desa dan ijasahku yang bernilai kurang.

Oh ya, di map lusuh nan kusam berwarna merah tua yang telah menjadi teman seperjalananku selama empat tahun terakhir tertera nama Rico Mangunpraja. Nama yang telah melekat pada diriku selama 26 tahun. Agak sedikit aneh memang hubungannya antara kata pertama dengan yang kedua, tapi biarlah. Terkadang orangtuaku memang ingin merasakan hidup sebagai orang kaya. Setidaknya itu dimulai dengan memberi nama anak mereka nama yang tidak biasa. Sekalipun “Mangunpraja”-nya masih belum rela ditinggalkan.

Terkadang aku terkekeh sendiri memikirkannya. Tentang betapa lugunya orang desa yang berpikir bahwa sebuah nama bisa sebegitu besar pengaruhnya terhadap nasib seseorang. Walaupun terkadang keluguan itu bisa meninggalkan bekas berupa kerinduan yang dalam.
Begitu dalam sehingga bisa merubah tawa, menjadi duka.

*****

Perjalanan pulang menuju kampung halamanku di Yogyakarta, terasa lebih lama dari seharusnya. Maklum, naik-turun, gonta-ganti angkutan umum dengan pemandangan yang relatif sama membuat orang termalas-pun, bisa bosan juga. Sekalinya dalam setiap angkutan umum itu aku melihat mimik yang berbeda-beda. Banyak. Ada yang terlihat jelas sedang senang, mungkin karena dinanti keluarganya di kampung. Suasana kekeluargaan yang sedikit demi sedikit terkikis dan punah di kota. Ada yang terlihat bosan dan khawatir. Namun ada satu pemandangan yang paling malas kulihat, bila ada orang tua. Entah itu seorang kakek, atau nenek. Apalagi kalau dua-duanya. Sebab,-.

“Kebumen! Kebumen! Yang mau turun di Kebumen! Sudah sampaaai!”

Suara kenek itu memutus memoriku. Baguslah. Memang seharusnya itu tidak kuingat. Aku sering menangis sendiri karenanya. Sebuah tragedi biasa yang tidak biasa alasannya. Itu yang menyebabkanku belum bisa menerima hingga sekarang. Beberapa orang turun. Aku tidak. Akhirnya aku dapat tempat duduk setelah berdiri selama kurang lebih tujuh angkutan umum selama tiga hari. Kucoba untuk tidur demi mempersingkat waktu.
Bis yang lowong ini, dengan angin alam yang berhembus menerpa pipiku benar-benar meninabobokanku, setidaknya sehingga seseorang berkata:

“Bangun! Bangun! Bangun! Sudah sampai, dek. Kamu mau turun disini, kan?”

“Oh, iya! M-Makasih ya, pak!”. Suara yang pertama samar-samar terdengar kemudian semakin jelas di telingaku. Untung kenek ini tahu tujuanku, kalau tadi masih tidur, gawat.

Aku melangkah menuju pintu keluar bis ini sambil tertunduk. Jadi nanti efek dramatisnya saat kepalaku diangkat, kelihatan. Sudah lama rasanya sejak dulu meninggalkan tempat ini. Kota kecil ini namanya Kasihan. Jangan kaget karena memang begitu adanya. Di sekitar Yogya ini ada banyak kota kecil lain yang namanya aneh, seperti Sedan, Terong, Panggang, dan Pajangan.

Setelah menginjakkan kaki di ranah itu, kuangkat kepalaku.
Indah. Benar-benar indah.

Kedamaian yang sangat langka dan elok. Pemandangan seperti ini, di kota, hanyalah ada di lukisan-lukisan mahal. Sekarang aku tahu mengapa dihargai mahal. Bukan hanya karena teknik dan kelihaian pelukisnya, tapi juga karena yang dilukisnya mungkin adalah penampakan yang laksana mimpi bagi mereka yang melihatnya. Penampakan yang seolah-olah hanya lukisan yang mampu menampilkannya.

Daya tarik tempat yang sunyi, bulan perak, dan kemegahan bintang-bintang... Surga tempat para pengembara menyaksikan keagungan terbit dan tenggelamnya matahari di alam bebas, tak terpengaruh manusia, hanya diganti dengan berlalunya waktu yang abadi. Secara tak sadar, kata-kata itu terucap di hatiku, melihat keindahan tempat yang teramat.

Kini aku sudah sampai di depan rumahku yang juga merupakan rumah orangtuaku, dan rumah kakek-nenekku. Kami memang keluarga yang kurang beruntung. Itulah tujuanku pergi ke Jakarta. Tapi aku pulang karena kurasa ilmu yang kumiliki akan lebih berguna disini.

*****

Di depan mataku ada dia. Sosok orang yang paling ingin kutemui sekarang melebihi siapapun. Bukan pacar, tapi seorang kakek yang telah mengisi ruang kosong ingatanku semenjak kecil.

Kudekati ia dengan setengah berlari, lalu kupacu langkahku karena tidak sabar lagi untuk menjalani kehidupan dulu, yang diidam-idamkan penduduk kota sekarang. Semakin dekat aku semakin sadar bahwa ia tidak hanya sekadar duduk. Ia sedang membuka sebuah peti. Peti yang bagiku terlihat seperti yang ada di film-film bajak laut. Berwarna kecoklatan, dengan tutup berbentuk setengah tabung.

“Kek! Aku pulang!”, teriakku dengan nada gembira.

“Rico! Itu kamu, nak?”. Sahutnya dengan suaranya yang khas kakek-kakek. Kami berpelukan agak lama untuk melepas rindu, dan setelah kuceritakan dengan singkat bahwa aku tidak bisa mencari pekerjaan di Jakarta, aku mengalihkan topik pada peti yang sedari tadi mengusik perhatianku. Ada ukiran kasar yang bertuliskan V.S. “Peti apa itu Kek?”, tanyaku. “Ini? Peti ini...Ah, mungkin memang sudah saatnya kamu tahu. Peti ini menyimpan sesuatu yang telah kamu cari selama bertahun-tahun. Ia ____”

“Rico! Kamu sudah pulang, Nak? Ya Allah, kenapa masih disini? Masuklah nak, kamu terlihat kelelahan. Biar Nenek buatkan minuman. Nanti saja kamu lanjutkan bicara dengan kakekmu. Nenek ‘kan juga kangen, Nak.”. Begitulah Nenekku, ternyata ia masih suka menimpali dan memotong pembicaraan orang lain kalau ia ingin bicara. Tapi ada benarnya juga, sih. Ini sudah hampir maghrib dan hanya Aqua gelas yang mendatangi mulutku sejak pagi.

*****

Makan malam kali ini aku tertawa seperti orang yang belum pernah tertawa.

Aku menceritakan pengalamanku selama empat tahun berada di Jakarta. Ketika pertama kali datang dan nyasar, ketika pertama kali salah masuk kamar kos, hingga ketika pertama kali ditendang keluar saat melamar bekerja sebagai sales alat rumah tangga di perusahaan otomotif. Karena pertama kali, kukira otomotif itu oto-nya berarti otomatis dan motif-nya berarti yang banyak motifnya, ya, alat rumah tangga. Kami bertiga tertawa bahagia melepas rindu. Bagi kami, empat tahun tidak bertemu itu saat yang sangat lama. Terlebih karena kami bertiga memang sangat dekat sejak aku masih kecil. Mereka berdua yang merawatku. Sepiring nasi yang hanya ditiban tahu, tempe, dan sambal itu pun terasa seperti masakan restoran bintang lima.

Singkatnya, setelah selesai makan malam dan shalat Isya, rasa penasaran mulai kembali datang menggerayangiku mengenai peti tadi. Kupanggil lagi kakekku untuk menceritakan apa yang tidak sempat ia katakan tadi.

“Kek, petinya mana? Tadi kakek mau cerita apa?”, tanyaku.

“Petinya ada di samping rumah. Ambillah. Dan coba kau buka sendiri di kamarmu.”.

“Terus, yang mau kakek ceritakan tadi....”.

“Sudahlah, ambil dan buka saja. Anak sepandai kau pasti mengerti.”

“Ya sudah”, pikirku.

Namun ada yang aneh. Perilaku kakek seperti orang yang tidak sanggup mengatakan sesuatu, tapi panik, sehingga gaya bicaranya tadi seperti sedang marah. Jalanku kupelan-pelankan. Rasanya seperti akan mendapatkan sebuah hadiah ulang tahun yang luar biasa. Kupingit-pingit perasaan penasaranku. Itu dia. Kuangkat peti disamping rumahku itu. Lumayan berat. Sesampainya di kamar, kupandangi peti itu. Peti yang katanya memuat yang kucari selama bertahun-tahun. Memangnya apa? Aku sendiri tidak terlalu sadar tentang apa yang kucari. Dan inisial apa ini? V.S.? Pembuatnya tampaknya membuatnya dengan golok atau pisau. Pasti dengan keadaan terpaksa. Karena bila ia tidak terburu-buru, peti bagus seperti ini – yang bahkan cukup mahal dibeli jaman sekarang – tidak akan diberi tanda sekasar ini.

Tanganku kaku. Seakan ia menolak untuk membukanya. Atau, peti itu yang menolaknya?
Kupalingkan mukaku daripadanya. Aku memutuskan untuk tidur saja. Aku baru sadar akhir-akhir ini kurang tidur dan mungkin sekarang saat yang tepat untuk balas dendam. Meskipun, alasan sebenarnya adalah; terkadang hal-hal yang indah di dunia ini hanya dilindungi oleh selapis tipis membran rapuh yang melindunginya dari hilangnya keindahan itu.

Ia adalah kebohongan, ketidaktahuan, dan ketidaksadaran. Bukan jarang dalam kehidupanku aku menemukan yang tadinya kuanggap keindahan, runtuh seketika hanya karena aku tahu. Seperti ketika aku mudah menemukan banyak teman saat pertama kali merantau, ternyata semata-mata karena mereka ingin memanfaatkanku. Kuketahui itu tanpa sengaja. Andaipun ku tak tahu, sebenarnya tidak ada masalah dengan pertemanan tersebut. Mereka hanya menyuruh yang ringan-ringan saja, tapi aku tidak suka yang seperti itu.

Kuhempaskan badanku ke atas kasur setelah meminta ijin pada mereka berdua untuk tidur lebih awal. Buru-buru kupejamkan mata agar tidak lagi terpikir mengenai peti berinisial V.S. tersebut.

Ternyata tidak mudah. Tidak semudah dan secepat itu.

*****

Aku bermimpi buruk.

Aku berada di sebuah kebun luas yang kosong di malam hari. Tanpa lampu, dan pencahayaan sedikitpun. Pohon palem mengelilingiku di radius sekitar 200 meter. Di atas terlihat awan yang berbentuk pusaran angin dan bergerak berputar. Angin yang kencang mulai menghembusku dari belakang. Di tengah keheningan yang dicampur suara angin dan gesekan daun itu, aku mendengar suara.

“BUKA! BUKA! BUKA!”.

Suara yang berat dan menggelegar sontak membuatku terperanjat. Di mimpi itu aku merasakannya mulai asli, sekujur tubuhku terasa kaku setelah mendengar bentakan keras tersebut. Bentakan yang antara satu kata dengan yang lainnya tidak terlalu dekat, namun juga tidak terlalu jauh. Angin dan pohon-pohon yang ada disitu seakan mendukung angkernya suara yang bergema tadi dengan goyangan mereka yang serasa mau roboh.

“B-Buka apa? Apa yang harus kubuka?”. Tidak ada balasan. Sejenak kemudian aku melihat dua sosok yang sangat kukenal, hanya bayangannya saja, kuingin sebutkan tapi entah kenapa mulutku kelu. Dari kejauhan mereka juga memerintahkanku untuk membuka sesuatu. Suaranya tidak sekeras suara gaib tadi, jauh lebih halus, namun justru terkesan lebih menyeramkan. Kemudian hilang. Kucoba untuk berlari mengejar bayangan tadi, namun tak mampu.

Kugerakkan tubuh dan kepalaku ke kanan-kiri dengan waspada. Tiba-tiba muncul sosok lain. Bukan bayangan. Kali ini sekujur tubuh penuh seseorang, yang tidak atau belum kukenal. Ia berdiri tegak dibelakangku agak jauh, dengan tangan terlipat di depan dada, dan pandangan yang tajam ke arahku. Tanpa suara ia berlari kencang ke arahku. Ke arahku yang masih terbujur kaku karena bingung dengan pandangan mata mengintimidasi itu. Ia berlari semakin dekat, kemudian _____.

“Hah! Hhh...hhh...hhh...”, napasku tersengal-sengal setelah terbangun dari mimpiku. Kupegang bajuku. Basah. Aku sangat berkeringat.

Kuambil posisi duduk dan kulihat sekarang baru pukul 1:30 malam. Tidak ada cahaya dari lampu telop milik nenekku yang artinya mereka berdua sudah tidur. Dalam keadaan masih pusing dan bingung, pandanganku menyapu seisi kamar itu dan berhenti pada satu titik. Peti coklat. Peti tua itu. “Apa ini yang disuruh untuk dibuka tadi? Seberapa pentingnya sih? Ini Cuma peti biasa, kan?”, kukatakan itu di dalam hati untuk menghibur diriku yang sebenarnya sedang ketakutan setengah mati. Kuberanikan diri untuk sekali lagi mendekati dan mencoba membukanya. Angin malam yang menyelinap masuk seperti datang untuk menemani diriku.

Akhirnya kubuka. Perlahan-lahan namun pasti.

*****

Ternyata isinya tidak se-menyeramkan kesan untuk membukanya. Ada foto, beberapa pakaian lama yang robek, peralatan penelitian yang telah usang, dan buku. Sekarang ketakutanku berubah menjadi kebingungan. Aku tidak mengerti maksud kakek memberikanku ini. Kuterawang penglihatanku ke arah luar jendela kamarku sambil berpikir. Ditengah-tengah konsentrasiku aku mulai menyadari sesuatu. Empat tahun tinggal di Jakarta tidak hanya membuatku lupa akan keanggunan alam desa ini. Tapi juga membuatku lupa akan betapa sunyi dan heningnya tempat ini bila malam
menghampiri.

Kuperhatikan bulan purnama yang menjadi satu-satunya alat penerangan di desa ini.
Sawah dan kebun yang membatasi antara satu rumah dengan yang lain membuat jarak antaranya bisa mencapai 1 Km. Tanpa disadari, angin yang perlahan-lahan menyambangi kamarku ini mulai memaksaku untuk menaruh tanganku bersilangan dengan tangan yang lain, memaksaku untuk melipat kakiku, namun juga memaksaku untuk keluar. Aku berjalan dengan sedikit berjingkrak agar tidak membangunkan mereka yang sedang tidur.

Diluar ternyata suasananya lebih mengerikan.

Kosongnya ladang membuat lolongan anjing hutan bergema sehingga terdengar seperti serigala yang haus darah. Tiupan kencang dari angin membuat daun-daun bergesek kompak dan terdengar layaknya penyelundup yang bersembunyi di balik semak-semak. Suara kepakan sayap burung-burung yang terkesan panik dari balik pohon bak mengisyaratkan bahaya. Kulangkahkan kakiku menuju belakang rumah. Ranting pohon yang entah datang dari mana menjadikan langkahku berisik dan membuatku takut sendiri. Dibelakang rumah kulihat ada yang sedang berdiri tegak melawan angin. Itu kakek! Tapi berdirinya begitu tegak, tidak selayaknya orang berumur 9/10 abad.

“Sudah kau buka?”, tanyanya dengan moda suara seperti orang yang lebih muda 60 tahun.

“Sudah, tapi aku bingung. Apa yang ingin kakek sampaikan?”

Kemudian ia memandangku dengan pandangan yang tegas, namun ramah. Ia tidak pernah terlihat seserius ini bahkan ketika ia marah. Kemudian ia berkata, “Biar kuceritakan saja. Jadi begini. Dulu, setelah ibumu melahirkanmu, orang tuamu berniat untuk pindah ke desa lain. Keputusan mereka bagi kakek terlalu terburu-buru. Mereka berangkat saat bulan purnama, seperti malam ini. Mereka bilang mereka sudah tahu yang mereka juju, tapi kakek tahu mereka bohong. Tidak ada gunanya menahan mereka karena mereka berdua memang keras kepala. Sehingga, malam itu, sembari menggendongmu, ayahmu membawa pakaian kalian dan berjalan bersama ibumu. Esoknya, kakek berusaha mencari kalian tapi setelah kakek melewati hutan yang kalian lewati kemarin malamnya, kakek kaget. Separuh hutan hilang, yang tersisa hanya cekungan besar. Kelihatannya seperti ada yang mengangkat bagian hutan itu ke suatu tempat. Kakek sudah mencoba bertanya ke semua orang tapi tidak ada satupun yang mengetahui. Kemudian pada purnama berikutnya, kakek mencoba mengikuti arah perjalanan kalian waktu itu. Saat sampai di hutan itu, ada kabut tebal yang menghalangi pandangan. Dibalik tabir kabut itu, ada seseorang. Ia orang Belanda. Ia, dengan pakaiannya yang compang camping, berjalan sambil menyeret peti di kamarmu dan menggendongmu yang sedang tertidur. Perawakannya tinggi, namun kurus. Tampaknya sudah lama ia tidak makan. Kakek langsung menyuruhnya untuk pulang ke rumah kita, ia tidak berbicara apapun. Lalu ___”

“Tunggu dulu, kek! Berarti maksud kakek orang tuaku tidak meninggal karena penyakit? Tetapi hilang di hutan konyol itu?”, seruku dengan nada marah. Sambil tertunduk lesu, karena sudah berbohong padaku selama ini ia menjawab, “Ya...” Aku langsung berlari ke arah hutan yang ditunjuk oleh kakek tadi. Ia berusaha untuk menahanku tapi aku tidak mau dengar. Air mata yang tanpa kuperintahkan mengalir deras menuju pipiku. Sekalipun kecil, tapi kemungkinan orangtuaku masih hidup, ada.

Orangtua adalah harta paling berharga bagi seorang anak, begitu pula sebaliknya. Perjuangan dan peran mereka untuk menumbuhkan seorang anak tidak tergantikan bagaikan sidik jari yang berbeda di tiap jari.

Aku kalap. Pandanganku serasa menyempit. Aku berlari nyaris tak tentu arah. Menuju hutan tersebut pastinya. Lalu.....
“............................................
.....................................................
..............................................................”

Kumulai sadarkan diri. Langit-langit rumah yang kukenal lambat laun mulai menemui titik fokusnya di mataku. Aku ingin bergerak tapi tidak bisa.
Di sebelah kananku ada nenek. Ia tertidur. Kepalaku dikompres. Apa yang terjadi? Apa yang kulewati? Perlahan dari pojok ruangan, kakek mulai keluar dari pintu. Aku diam tanpa kata. Entah mau takut, atau tidak percaya. Entah mau jadi pengecut, atau menuntut yang sebenarnya.

Ia menaruh telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkanku untuk tetap diam.
Yang membuatku kaget, ia mengangkatku dari tempat tidur seperti ia mengangkatku 20 tahun lalu. Badannya tegak, langkahnya tegas, dan bicaranya tadi cukup lugas. Tidak sejalan dengan usianya.

Kemudian ia menaruhku di tempat tidur kamarnya. Lalu ia berkata, “Kamu di sini saja. Ada yang mau kakek bicarakan. Hanya kita berdua. Nenekmu tidak pernah dan tidak boleh tahu.”

Jam besar, mungkin peninggalan moyangku, yang berdiri kokoh di antara barang-barang lain yang tidak setinggi ia, tiba-tiba detiknya begitu terdengar. Terasa keras sekali di suasana sesunyi itu. Hatiku tidak bisa menyembunyikan perasaan penasaran mengenai yang terjadi hari ini. Sekalinyapun, hatiku juga tak bisa menyembunyikan perasaan baru bahwa sekarang, aku takut dengan kakek.

*****

“Maafkan kakek ya, Nak?”, katanya lirih.

“Maaf kenapa Kek?” jawabku.

“Kau tahu kenapa kau ada di sini?

Kakek tadi melemparimu dengan batu hingga kau pingsan, Nak”.

Tidak ada kata lain yang terpikir secara spontan olehku pada saat itu kecuali, “Bagaimana bisa, Kek? Bukankah aku sudah berlari jauh?”.

“Bacalah buku yang ada di peti itu. Halaman setelah tanda lipatan. Aku akan menemanimu di sini. Nanti akan kujelaskan semuanya”. “Ba-baik, Kek”. Aku menangkap nada penyesalan dalam gaya bicaranya. Kumaklumi. Memang tadi itu aku agak terburu-buru dan tidak mau mendengar karena terlalu sedih.

Aku mulai membaca:

“Ini adalah hari ketujuh aku berada di tempat persembunyianku ini. Setidaknya begitulah menurut jam tanganku, satu-satunya penunjuk waktu yang sudah mulai usang. Entah sebenarnya berapa lama aku disini. Aku berhasil bertahan hidup karena tempat persembunyian yang kubangun tidak diketahui oleh warga desa. Tidak ada yang tidak logis disini, kecuali fakta bahwa orang itu berhasil memisahkan desa ini dengan waktu yang sebenarnya. Selama seminggu di sini, aku melihatnya. Setelah dibunuh satu per satu oleh keluarga itu, penduduk desa ini kembali bangun pada masa tertentu. Mereka benar-benar telah mengacaukan ruang dan waktu di tempat ini.
Aku meralat tulisanku dulu. Aku baru memperhatikan sesuatu.

Ada satu hal yang aneh. Ketika anak itu dibunuh, semua perhatian langsung mengacu pada kemarahan ayah dan ibunya. Tidak ada yang memperhatikan bahwa anak itu tiba-tiba hilang...”


“Kek? Tolong langsung ceritakan padaku.” Kataku sembari menutup buku tersebut.

“Baiklah...hhhh, Nak. Bukankah tadi diceritakan bahwa ada anak yang dibunuh yang hilang? Itu adalah kakek..”

*****

Lampu minyak yang menerangi kami berdua, merefleksikan cahaya ke dinding yang terbuat dari anyaman. Bayanganku normal, kakek tidak. Dibayangan tersebut tidak kulihat jenggot dan badannya yang membungkuk. Melainkan bayangan pria muda yang cukup proposional. Ketakutanku berhasil mengalahkan kemauanku untuk menginterupsi, bahkan untuk bernapas dengan normal.

Lalu kakek melanjutkan, “Tahun 1883 lalu, tepatnya 112 tahun yang lalu, umur kakek 10tahun. Ada sebuah kejadian pada masa itu, yang bisa kau lihat dihalaman depan buku tadi. Intinya, kakek tidak meninggal seperti yang dikira ayah dan ibu kakek, juga orang Belanda tersebut. Kakek masih dengan sedikit kesadaran merangkak kabur menuju hutan, karena mental kakek pada saat itu, melihat puluhan orang dengan obor di malam hari, dengan pandangan yang kalut dan siap menghilangkan nyawa, masih belum siap.

Lalu ayah kakek mengucapkan mantra itu, yang membuat kakek masih bisa hidup hingga sekarang. Mantra tersebut membuat kakek tidak bisa mati, seperti halnya orangtua kakek. Hanya saja, kakek masih sempat menemukan pintu keluar. Pintu yang kakek kira tidak akan terbuka lagi, sampai akhirnya orang Belanda itu kembali dengan menggendongmu.

Dia, Van Sandick, menceritakan semua yang terjadi di sana, dan kukira sudah tidak ada lagi harapan bagimu untuk menemukan orang tuamu, karena keadaan disana. Tak lama kemudian, kakek berikan buku asli Sandick pada seseorang yang pada waktu itu sempat membantu kakek bertani, namanya Andri. Sebelumnya kakek salinkan pada catatan kakek sendiri, menunggu saat yang tepat bagimu untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kamu kehilangan orang tuamu, karena kakek tahu, kau masih belum bisa menerima alasan kakek dulu.”

Aku menerawang pada sela-sela jendela yang terbuka. Pandanganku kosong. Angin yang berhembus tadi, kini berhenti. Ruangan seluas 9 m2 itu, terasa lembab dan panas karena lampu telop menyala dan membuat bayangan dalam kamar bergoyang-goyang. Aku nyaris tidak percaya. Kalau bukan karena mimpi anehku, keberadaan kakek, dan peti itu, pasti aku sudah menganggap kakek gila.

Perlahan kakek menjauh dariku dan keluar ruangan tersebut. Ia tahu aku butuh waktu untuk sendiri. Kemudian tidak ada pilihan bagiku kecuali tidur. Percuma memikirkannya karena ini sangat larut dan aku kelelahan.

*****

Sekarang tanggal 29 Desember, tahun 1999.
Empat tahun setelah kejadian malam itu.
Aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama.

Aku berkata dalam mimpi itu, “Buka apa? Bukankah sudah kulihat isi peti itu?”
Tidak ada yang menjawab, aku kembali terbangun saat sosok itu berlari ke arahku lagi.

Perasaanku memaksaku untuk mengambil kembali catatan itu dan membacanya.
Keringat mengalir dari dahiku terus turun melewati alis, kemudian pipi dan dagu, kemudian menetes saat kubaca catatan itu. Juga fakta bahwa sebenarnya itu adalah letusan krakatau. Catatan itu akhirnya sudah kubaca semua, dan tidak ada satupun kode atau pesan tersembunyi. Aku sedang memutuskan untuk kembali tidur ketika aku mendengar deruman mobil di depan rumah.

Fisik dan mentalku sudah terlalu lelah untuk berspekulasi. Walaupun sangat aneh ada mobil yang datang malam-malam begini. Terlebih aku tahu kakek tidak punya kenalan di luar desa ini. Gesekan kakiku dengan lantai, yang merupakan semen, menghasilkan bunyi yang meneror. Hampir aku mengira ada yang mengikutiku dari belakang karenanya.
Di depan pintu pelan-pelan kubuka pintunya sambil berkata, “Siapa?”.

“…….! Hei!”, teriakku spontan sambil menutup mata dengan telapak tanganku.
Pengendara mobil tersebut menyalakan lampu depannya ke arahku sebelum ia berdiri di depan rumahku dengan bersedekap. Untuk ukuran rumah dan desa tanpa penerangan selain bulan, cahaya itu benar-benar membutakan.

Saat mataku mulai beradaptasi, aku mulai bisa melihat sosok itu sekalipun hanya dalam bentuk siluet. Ternyata dia! Dialah sosok dalam mimpiku itu. Kukenal bukan karena wajah, tapi pandangan mata yang sangat memendam amarah dan terkesan kesal padaku.

Dengan nada suara yang dingin ia berkata,
“Apakah kamu orang yang memberi buku pada seseorang bernama Andri yang datang ke tempat ini sepuluh tahun lalu?”.

Aku langsung ingat cerita kakekku dan menjawab dengan terbata-bata, “B-bukan. Itu k-kakekku. Tapi aku tahu semuanya. S-siapa kau?”

------------------------------------------------------------*

Namaku Dennis…
Ada yang harus kita bicarakan....

-------------------------------------------------------------*



The End of Chapter Two – “The Meeting and The Revelation of Secret”.

To Be Continued on Chapter Three, Final Chapter – “The Eternal Path”.

Created by: Amadeo D. Basfiansa

Jumat, 23 Juli 2010

Desa Kabut Misterius I - Memory from The Past

Namaku Dennis. Aku sedang duduk di sebuah kamar, di samping jendela di rumah ibuku, yang terletak di sebuah desa yang belum terlalu dijamah oleh teknologi. Di desa ini penerangan paling mewah adalah lampu minyak. Tidak ada satupun warga yang memiliki lampu bohlam sebab ketersediaan listrik yang kurang memadai. Sehingga bulan purnama yang kupandangi sedari tadi, selain memberikan sedikit penerangan pada para penduduk, juga memberikan efek menyeramkan, karena sinarnya yang mengenai pohon justru merefleksikan bayangan yang mengerikan.

Angin yang berhembus melalui jendela yang terbuka lebar, menyelimuti tubuhku dan membuat rasa dingin menusuk hingga tulang. Suara daun-daun yang bergesek lantaran tertiup angin terdengar bak sedang merintih. Mencekam. Lolongan anjing liar yang terdengar dari kejauhan seakan memecah lamunanku dan tiba-tiba menggali kembali sebuah kenangan di masa laluku yang telah kukubur dalam-dalam. Perlahan namun pasti, serpihan-serpihan kenangan itu tersusun kembali. Semakin diingat, semakin jelas gambaran kenangan itu dibenakku.

Peristiwa ini terjadi sekitar 10 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1989, saat aku dan teman baikku, Andri, melakukan sebuah perjalanan. Mungkin itulah saat terakhir aku melihat mukanya yang senantiasa cerah. Aku ingat sekali. Tujuan kami pada awalnya adalah merayakan ulang tahunnya yang ke-20 dengan cara yang sedikit berbeda, yaitu merayakannya di sebuah tempat yang ia pilih sendiri. Semenjak kami memulai perjalanan, ia tak pernah memberitahu letak sesungguhnya dari tempat yang ia maksud. Ia hanya memberitahukan jalan. Dia juga membawa sebuah buku, yang belum pernah dan tidak ia ijinkan aku untuk melihatnya sebelum kami sampai di tempat yang ia juju.

Malam itu, setelah melalui perjalanan selama empat jam, aku dan Andri memutuskan untuk berhenti sejenak dan mencari tempat istirahat. Tidak mungkin kami meneruskan perjalanan. Sudah terlalu larut. Bensin mobil kami hampir habis. Di masa itu jarak antar satu pemukiman dengan pemukiman lain cukup jauh dan sama sekali tidak ada alat komunikasi. Tingkat keamanan juga rendah. Jadi, kami memutuskan, untuk mencari tempat menginap.

Kabut mulai menghalangi pandangan dan angin dingin berhembus. Seperti malam ini. Andri segera berjalan sedikit cepat untuk memeriksa keadaan sekitar, sementara aku hanya bisa melihatnya dari belakang karena jika aku kedinginan, akan sulit bagiku untuk bergerak dengan cepat. Sejauh mata memandang, nyaris tidak terlihat apa-apa.

Dalam waktu singkat Andri menghilang dari hadapanku. Aku melihat sekeliling. Di sebelah kananku hanya ada sebuah surau reot yang kelihatannya sudah tidak digunakan dan ditinggalkan bertahun-tahun. Di sebelah kiriku terdapat sederet pohon pisang yang dibelakangnya terlihat banyak batu.

“Mungkin dibelakang sederet pohon pisang itu ada sungai.” pikirku.

Aku tidak bisa melihat dengan jelas batu-batu itu karena kabut. Tapi sudahlah.

Selang beberapa menit kemudian, Andri datang dengan sedikit tergesa.

”Ayo! Cepatlah! Agar kita bisa segera beristirahat! Tadi aku lihat ada dua rumah yang lampunya masih menyala.” katanya.

Kami mulai berjalan dengan sedikit cepat. Memang jarak antar satu rumah dengan rumah lain di lokasi itu agak berjauhan sehingga kami harus sedikit berlari agar bisa cepat sampai. Tidak ada satupun rumah yang terkesan modern. Semuanya semi-permanen. Malah ada beberapa yang hanya terbuat dari anyaman. Kemudian kami berdua melewati sebuah rumah, yang engsel bagian atas dari pintunya sudah copot dan tergeletak miring seolah menghalangi orang masuk ke sana. Entah mengapa aku terdorong untuk memasukinya. Rasa penasaranku mulai bergejolak. Akhirnya kami berdua memasuki rumah tersebut walaupun pada awalnya Andri tidak setuju. Namun, hujan yang kemudian turun membuat kami terpaksa memasuki rumah tersebut untuk berteduh sebentar.

Rumah itu jelas kosong. Jarak penglihatanku bergantung pada sebuah lampu minyak yang kutemukan di samping rumah. Rumah itu kecil, dan hanya dengan beberapa langkah saja kami sudah sampai di dapur. Seperti perabot yang lain, peralatan dapur itu tidak terurus. Hanya saja, tampaknya sebelum ditinggalkan, pernah terjadi perkelahian di tempat itu.

Berantakan. Itulah kesan pertama yang timbul di benakku ketika melihat kondisi dapur tersebut. Ada pecahan piring di lantai, gelas dalam posisi tumpah, dan lain-lain. Anehnya, ada gergaji di sana. Untuk apa? Biarlah. Aku kembali ke depan untuk menemani Andri yang sedari tadi menungguiku karena dia takut untuk masuk lebih dalam. Ketika berjalan, kakiku tanpa sengaja menginjak sesuatu. Tenyata itu sebuah foto. Ada gambaran tiga orang di sana. Tampaknya satu keluarga.

”Hei! Hujan sudah berhenti. Mau berapa lama kau disini?”

”Ya, sebentar!” Suara Andri mengagetkanku. Segera kutaruh kembali foto itu diatas sebuah meja. Benar saja, hujan telah berhenti dan kabut kembali datang.

Akhirnya kami sampai pada rumah pertama yang penerangannya masih menyala. Kami mengetuk pintu rumah itu dan dengan diiringi suara decit pintu yang menyakitkan telinga, keluarlah sosok seorang pria tua dengan pakaian yang lusuh dan compang-camping. Tubuhnya yang kurus membuat matanya terlihat menonjol dan seakan mau keluar. Dia hanya menampakkan setengah tubuhnya pada kami. Tidak terlihat semua karena setengahnya ia tutupi dengan pintu.

”Boleh kami numpang menginap, pak?” tanya Andri.

”Tidak! Rumahku kecil dan itu hanya cukup untukku dan anakku! Sekarang pergilah sebelum kau membangunkannya!” Bentak pria tua itu dengan suara yang serak dan dalam. Pemilik rumah dan rumah itu sendiri, sejak kami mendekatinya, memang memberikan aura yang buruk. Mungkin seandainya kami disuruh untuk tidur disanapun kami tidak akan mau.

Kami mendatangi rumah lain yang masih ada penerangannya. Tidak begitu jauh. Sekitar 100 meter. Kami mengetuk pintu rumah itu dan keluar seseorang. Ibu tua. Kini jauh dari kesan menyeramkan. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi rumahnya yang terlihat bisa roboh kapan saja membuat kami berdua iba. Ia begitu ramah dan menyilahkan kami masuk. Karena sudah terlalu larut, kami tidak berbasa-basi. Setelah kami mengutarakan niat kami, alhamdulillah ia langsung menyanggupi.

Kami diantarkan ke dua kamar yang berbeda. Ibu tua itu berkata, ”Tidurlah. Memang tadinya ada dua orang yang menempati kamar ini. Tapi tak apa, mereka sedang pergi.”

Kami berterima kasih dan langsung memasuki kamar masing-masing. Aku hanya dapat meraba-raba dan kemudian berbaring di kasur. Gelap. Sama sekali tidak ada cahaya di kamar itu. Sebelum memejamkan mata, aku terus memikirkan hal yang janggal saat berada di rumah pria tua tadi. Dia bilang bahwa di rumah itu ada anaknya tapi hanya ada satu alas kaki. Rumah pria tua tadi juga terlihat sedikit lebih besar dibanding rumah ini dan rumah-rumah yang telah kami lewati tadi. Jadi, walaupun ada anaknya, pasti masih ada ruang untuk kami menginap.

*****

Rasa pusing sontak menghampiri. Sejurus kemudian aku jatuh terlelap karena hanya itulah yang dapat kulakukan. Dalam tidurku aku bermimpi. Aku berada dalam sebuah ruangan serba gelap dan tiba-tiba terdengar suara Andri. Tidak jelas apa yang dikatakannya. Tapi nada bicaranya aneh. Bukan sedang menjerit dan bukan pula sedang merintih.

Lalu aku terbangun. Terasa lebih segar memang, namun masih sedikit pusing. Mungkin karena terkena hujan semalam. Pagi sudah menjelang. Namun sedikit sekali cahaya yang masuk melalui jendela. Ternyata, kabut tebal masih menyelimuti. Namun, cahaya itu cukup membuat seisi kamar itu terlihat. Aku melihat sekeliling dan ada sebuah benda yang membuatku kaget.

Sebuah foto. Sama dengan yang kutemukan di rumah yang sudah ditinggalkan itu. Ternyata wanita di foto itu adalah pemilik rumah ini dan pria di sebelahnya adalah pria tua semalam. Kondisi bingkai yang sudah buruk membuat bagian belakang bingkainya jatuh bersamaan dengan foto tersebut.

Saat ingin kuambil, foto itu dalam posisi telungkup dan dipojok kanan bawah ada sebuah tulisan yang hampir pudar. ”2-0;0’.8-83”. Itulah yang tertera di balik foto itu. ”Angka apa itu?”. ”Nomor identitas seseorang? Atau ini kode?”. Beribu pertanyaan senada seketika muncul di pikiranku.

”Terserahlah”, pikirku. Tidak usahlah merepotkan diri sendiri dengan sesuatu yang sama sekali bukan urusanku. Dengan langkah yang gontai karena masih agak pusing aku keluar kamar itu dan hanya mendapati ibu tua itu. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Andri.

”Apakah teman saya masih tidur, Bu?”

”Tidak. Ia sudah bangun dari tadi. Dia ingin shalat shubuh dan kuberitahu bahwa tempat shalat yang layak dan mengambil air jaraknya sekitar 2 km dari sini. Ia langsung pergi dan tidak membangunkanmu karena melihat kau tertidur pulas.”

”Ke mana perginya?”

”Berlawanan dengan arah datangmu.”

Seraya mengucapkan salam aku melangkah menjauh dari rumah itu. Kabut masih tebal, namun aku masih dapat melihat segala sesuatunya dengan baik. Cahaya matahari nampaknya enggan menyinari bumi karena tertutup awan yang begitu mendung dan juga tebal.

Sepanjang sekitar 2 km perjalanan telah kulewati. Jangankan tempat shalat, rumah pemukiman warga pun sudah semakin tidak terlihat. Yang terjadi sekarang adalah aku berada di tengah-tengah rawa yang semakin lama semakin kumasuki. ”Apakah ibu tua itu membohongiku? Buat apa?”. Aku pun berpikir, ”Mungkin aku tersesat. Tapi selama ini hanya ada jalan setapak, dan tidak ada yang lain”.

Kemudian aku melirik pada penunjuk waktu elektronik yang berdetak di tangan kananku. Sekali lagi aku terperanjat kaget dan tidak mempercayai mataku. Pada alat sederhana peninggalan ayahku itu terlihat bahwasanya sekarang sudah pukul sembilan pagi.

”Apa-apaan? Masa jam segini Andri belum sampai rumah? Di daerah ini, Shubuh itu kan paling telat jam enam pagi. Dengan jarak tempuh kurang lebih 2 km, dan waktu mengambil air juga shalat, jika sambil berjalan santai paling telat dia sudah sampai di rumah sekitar jam tujuh! Ada yang tidak beres! Aku harus cepat kembali!”

Dalam perjalanan kembali, sambil berlari aku melihat sesuatu yang tidak sempat kulihat saat pergi tadi. Itu ada di pinggir jalan. Aku melihat sebuah topi. Milik Andri! Robek! Firasatku buruk. Benar-benar buruk. Setelah kuambil topi tersebut, aku melihat segumpal kertas di depannya. Kutegakkan posisiku, dan aku melihat bahwa kertas itu ada banyak. Disekitarnya juga ada beberapa tetes darah yang mulai mengering. ”Berarti masih baru!” pikirku.

Setelah ditelusuri, gumpalan kertas itu totalnya ada sembilan buah. Anehnya, mereka membentuk motif yang teratur.

"• • • — — — • • •".

Pola itulah yang terbentuk. Sejenak aku terdiam dan berfikir. Setelahnya pula aku langsung panik dan ketakutan setengah mati. Kalap. Bimbang. Tatkala setelahnya aku sadar, bahwa Andri sudah menulis sebuah kode. Kode yang dibuatnya dalam keadaan darurat. Itu kode morse. Artinya adalah S.O.S.

Andri memang cerdas. Untung dia tahu kalau aku bisa membaca kode itu. Maka, berlarilah aku menuju rumah itu lagi. Entah kenapa aku menaruh curiga pada pria dan ibu tua itu. Perilaku mereka yang aneh, foto itu, angka itu, juga fakta membingungkan mengenai kemana perginya semua penduduk desa tersebut mengingat belum ada satu pun yang menunjukkan batang hidungnya kendati sekarang hampir jam setengah sepuluh. Mungkin bukan mereka penyebab hilangnya Andri, tapi mereka patut diawasi. Aku tak bisa menyelesaikan ini sendiri. Aku harus utarakan pada penduduk desa lain.

Beberapa menit kemudian, dengan nafas yang terengah-engah, aku sudah sampai di wilayah desa itu lagi. Tapi aku tidak mau mendekati kedua rumah itu. Biarlah mereka menganggap aku sedang pergi. Aku yakin, mereka pasti memperkirakan bahwa aku akan kembali. Jadi, aku sebaiknya waspada.

Aku mengendap-endap dibalik pohon-pohon pisang yang bisa dibilang mengisolasi desa ini. Namun itu bukanlah keahlianku. Saat aku nyaris melewati kedua rumah itu seseorang menarik tanganku dari belakang. Itu si ibu tua. Dengan wajahnya yang ramah ia menanyaiku tentang mengapa aku mengendap-endap. Singkatnya aku meminta untuk berbicara di dalam rumah saja. Akan jauh lebih berbahaya kalau kukatakan di luar. Di dalam rumah, kuceritakan semua. Mengenai kesan tentang pria tua, foto, hingga topi dan kode yang dibuat Andri. Sebenarnya dalam hati aku pun takut mengatakan ini dan ingin pulang saja. Tapi aku harus.

Tanpa banyak berkomentar, ibu tua itu langsung bercerita, ”Dulu di sini adalah desa yang damai. Para warganya saling menolong. Hingga pada suatu saat, ada sepasang suami-istri yang mulai dijauhi karena anak mereka dikabarkan mempelajari ilmu-ilmu hitam. Semua warga desa ini, kecuali keluarga itu, membenci segala hal yang berbau gaib. Sehingga keluarga itu mulai menimbulkan kegelisahan lantaran mulai banyak hal-hal yang aneh terjadi. Suatu waktu, terjadilah hal yang paling aneh. Saat hari mulai siang, terdengar suara letusan hebat. Sangat kuat. Penduduk langsung memusatkan pikiran mereka pada anak berilmu hitam dan keluarga nyentrik itu. Langit mendadak hitam, dan banyak asap berterbangan. Banyak pohon yang tumbang dan setelah itu tidak ada seorangpun yang bisa melihat matahari selama sekitar 10 hari. Selama 10 hari itu pulalah kemarahan dan kegelisahan warga memuncak. Mereka diberitakan menculik anak itu dan membunuhnya dengan sadis di depan kedua orangtuanya. Ayah anak itu langsung marah bukan kepalang, dan dia mengutuk desa ini. Salah satunya agar desa ini dan seluruh warga yang ada di dalamnya tidak lagi bisa melihat matahari dan terus dirundung kabut.”

Kemudian ibu tua itu berhenti dan berbalik lalu berjalan menuju dapur.
Aku tidak mengerti maksudnya. Apa ibu tua ini mengerti situasi yang sebenarnya terjadi? Sesaat kemudian dia mulai berbicara lagi, ”Nak.....”.

*****

Dengan hitungan detik dia berbalik dan langsung melemparkan pisau ke arahku. Besar sekali. Seperti untuk memotong daging. Air mukanya yang ramah hilang sudah. Diganti dengan wajah yang betul-betul menyeramkan. Belum sampai di situ. Dia terus melemparkanku, pisau, beling, piring, garpu, dan alat-alat tajam lainnya sehingga memaksaku untuk mendekati pintu dan keluar. Kuputuskan untuk berlari menuju mobil. Karena itulah satu-satunya tempat di area sinting ini yang paling kukenal, dan kurasa paling aman.

Sambil berlari, aku terus berpikir, ”Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dengan ibu tua itu? Kenapa dengan desa ini? Di mana Andri? Apa aku sedang bermimpi?” Tak dinyana, saat ibu itu sampai dihalaman rumahnya untuk mengejarku, dia berhenti, dan dia berteriak, ”Ed! Keluarlah! Anak itu sudah tahu semuanya!”.

”Kepada siapa ia berteriak? Atau jangan – jangan .....”

Pada saat itu aku sedang berlari sambil melihat ke arah belakang, sehingga tidak memperhatikan jalan di depan. Seketika aku menabrak sesuatu. Sesuatu yang keras. Aku pun terjatuh. Sejenak kuberharap bahwa pada saat itu aku akan terbangun dan mendapati segalanya hanya mimpi belaka. Tapi bukan. Perlahan-lahan kutengadahkan kepalaku, berusaha mencari tahu apa yang kutabrak. Dia si pria tua itu. Dengan pisau tajam di tangan kirinya dan gergaji tua yang kutemukan di rumah yang ditinggalkan itu di tangan kanannya. Kali ini aku dapat melihat sebagian tubuhnya yang waktu itu ia sembunyikan. Bagian tubuh sebelah kanannya penuh dengan luka bakar. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mengapa tubuhnya bisa sedemikian kuat? Gila. Di depan dan dibelakangku ada psikopat. Untungnya umur benar-benar telah mempengaruhi mereka. Mereka bergerak lebih lamban dariku. Tapi akurasi lemparan mereka luar biasa. Ibu itu benar-benar hampir mengenaiku di rumahnya tadi.

Pilihanku pada saat itu hanyalah bersembunyi di balik pohon-pohon pisang yang ditanam di pinggir-pinggir jalan bak lampu yang dijejer di landasan pesawat. Tanpa pikir panjang, dengan sekuat tenaga aku berlari ke balik pohon pisang itu dan terus berlari menuju mobil. Saat berlari, aku tersandung oleh sesuatu. Ketika aku akan berdiri, aku melihat sebuah batu. Batu yang sama dengan yang kulihat saat pertama kali sampai di sini. Ternyata ada banyak. Ada di kanan dan di kiri jalan. Seolah-olah desa ini dikepung oleh batu ini. Kupicingkan mataku untuk membaca tulisan yang ada di batu itu. Perlahan-lahan kuucapkan dalam hati, ”Santoso (1850-1883). I-ini batu nisan!”. Ya, semua itu batu nisan. Batu yang awalnya kukira adalah batu kali dan mengepung desa ini ternyata adalah batu nisan.

”Apa saja yang telah kedua orang itu lakukan?”. Kesal, sedih, takut bercampur aduk menjadi satu. Rasanya ingin menangis saja. Kemudian mataku tertuju pada sebuah siluet pada sebuah jendela di salah satu rumah. Buru-buru kudekati. Tampaknya kedua orang tadi tidak lagi mengejarku. Mungkin mereka sadar bahwa aku pun takkan bisa keluar dari sini. Sosok itu semakin kudekati. Tidak terlihat jelas karena kulihat dari luar jendela. Itu orang! Dengan senang hati aku mendekatinya walaupun tetap waspada.

Semakin dekat aku semakin yakin kalau itu orang. Setelah semakin dekat, aku menangis. Memang itu orang. Tepatnya pernah jadi orang. Tapi hanya sampai bagian perut. Bagian seterusnya ke bawah sudah tidak ada. Mengenaskannya lagi, bagian perutnya ditusuk dari bawah hingga atas sehingga dia terlihat sebagai orang-orangan sawah. Terjatuh. Bangun. Kemudian berlari menuju rumah lain. Itulah yang kulakukan selesai melihatnya. Itu juga yang kulakukan setelah melihat rumah-rumah lain. Isinya hanya mayat korban pembunuhan yang keji. Yang sedikit mengusik benakku adalah, mereka belum menjadi tengkorak. Tapi itu bukan masalah utamanya pada saat itu. Aku tidak berani menengok rumah lain karena semakin lama terlihat semakin kejam. Rumah terakhir yang kulihat, mayatnya hanya tersisa bagian kepalanya saja yang digantung layaknya topi digantungan topi.

Tak terasa aku sudah sampai ke mobil. Aku bersyukur kedua orang itu tidak mengejarku lagi. Dalam hati aku tetap berdoa agar Andri baik-baik saja. Tapi aku yakin, lambat laun mereka pasti melakukannya lagi. Jadi mobil bukanlah tempat yang aman. Aku melihat kembali surau tua itu. Setelah diperhatikan surau itu memiliki sebuah pintu kecil di salah satu sisinya. Aku kemudian keluar dari mobil dan menuju surau itu. Kali ini aku membawa buku yang selalu Andri bawa. Rasa penasaranku semakin tak terbendung. Kuharap buku ini dapat menjawab segala pertanyaanku tentang tempat ini.

Perlahan-lahan aku memasuki surau itu. Tiap langkahku disertai dengan bunyi-bunyian yang semakin menunjukkan kebobrokkan surau itu. Kemudian kuraih gagang pintu kecil itu. Kubuka. Ada sebuah ruangan. Tidak terlihat dari luar karena arahnya berlawanan dengan sudut pandang orang yang melihat dari jalan. Lantainya terbuat dari kayu. Hanya ada cahaya remang-remang. Sulit untuk memperhatikan langkah sendiri.

Tak disangka-sangka, aku terjatuh karena lantainya sudah begitu tua. Kejadiannya begitu cepat hingga berteriak pun tak sempat. Ternyata, ada sebuah ruangan di bawah surau itu. Sebuah ruangan bawah tanah. Kelihatannya ruangan ini tidak banyak yang tahu karena jalan masuknya pun kulewati karena faktor ketidaksengajaan. Bukan milik warga. Itu yang pasti. Ruangan itu lebih besar dari surau itu sendiri.

Barang-barangnya khas Belanda. Nampaknya dulu ada orang Belanda yang pernah kesini dan membuat ruangan ini. Kualihkan pandanganku ke sebuah meja yang terbuat dari bambu. Bermodal sebuah senter kecil sekarat yang kuambil dari mobil, aku mencoba untuk membaca tulisan yang tertera di sebuah kertas di atas meja itu. Kertas yang sangat tua. Supaya tidak rusak, tidak kuangkat dan langsung kubaca.

Bunyinya, ”Entahlah apa aku bisa selamat. Jadi kuputuskan untuk menyerahkan buku penelitianku. Akan kuberikan pada orang pertama yang kulihat bila berhasil keluar dari sini. Tertanda: Van Sandick”.

*****

Langsung kualihkan pandangan mataku pada buku milik Andri yang kugenggam. Aku merasa ini saling berhubungan. Benar saja. Di sudut kanan atas cover buku tersebut ada inisial V.S. Tidak terlalu besar. Orang lain tidak akan menyadari keberadaan inisial tersebut bila hanya melihat sekilas. Kurasa ini dia! Berarti buku penelitian Van Sandick diberikan pada salah satu kerabat Andri berpuluh-puluh tahun lalu.

Segera kubuka halaman demi halaman buku itu yang isinya memang hasil penelitian Sandick. Sampai akhirnya aku tiba pada sebuah halaman yang ditandai oleh sesuatu. Halaman itu bertuliskan, ”Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera...”.

Aku ingat sekarang. Tulisan ini adalah catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang kemungkinan berasal dari 416 M! Ini menjelaskan semua. Angka di foto itu, 2-0;0’.8-83, maksudnya adalah tanggal 20 Agustus 1883. Yaitu merupakan 7 hari sebelum Gunung Krakatau meletus! Jadi, semua keributan yang terjadi menurut yang diceritakan ibu tua itu sebenarnya bukan karena keluarga atau anak itu. Tapi itu adalah dampak letusan Gunung Krakatau!

Aku kemudian melanjutkan membaca, ”Pada tanggal 29 Agustus 1883, tepatnya dua hari setelah letusan gunung itu terjadi, aku melihat sebuah kejadian yang mengerikan. Warga desa yang tidak tahu apa-apa ini secara sadis membunuh seorang anak yang mereka kira telah menyebabkan letusan ini. Tidak ada gunanya bagiku untuk memberitahukan pada mereka kejadian sebenarnya. Rasa benci mereka sudah begitu bertumpuk. Bagai bom yang sudah siap meledak. Kemudian, ayah dari anak itu, yang ternyata juga mempelajari ilmu terlarang itu langsung mengutuk desa ini agar selamanya tidak bisa melihat matahari, ataupun dunia luar. Desa ini menjadi desa yang tidak ada di peta. Namun, dampak dari melakukan ini adalah ayah dan ibu dari anak itu kini menjadi tidak dapat mati. Dia akan terus hidup. Tak peduli apapun yang mengenainya.

Tapi pada saat itu, salah seorang warga desa yang membawa minyak tanah langsung menyiramkannya kepada ayah dari anak itu. Tidak terkena semua. Dia sempat menghindar, jadi yang terkena hanya tubuh bagian kanannya saja. Salah seorang warga lagi melemparkan obor yang menyala ke arahnya. Pria malang itupun terbakar. Belum sampai seluruh bagian, hanya sebelah kanan, karena dia langsung bertindak cepat dengan menceburkan diri ke kolam. Aku hanya bisa bersembunyi, karena setelah melakukan itu, ayah dari anak itu langsung membalaskan dendamnya kepada penduduk desa. Mereka tidak bisa lari kemana-mana. Begitu pula aku. Namun, ternyata kutukan itu memiliki kelemahan. Desa ini tidak selamanya hilang dari bumi. Saat bulan purnama, desa ini tersambung dengan bumi. Itulah yang kubaca dari buku tua yang kutemukan dalam salah satu penelitianku sebelum bersembunyi di ruang bawah tanahku ini. Begitu pulalah caraku keluar dari sini. Aku sempat mengabadikan foto keluarga itu. Tepatnya 7 hari sebelum letusan itu terjadi....”


Ternyata orang Belanda ini pulalah yang mengabadikan gambar mereka. Juga yang memberikannya pada mereka. Berarti, ibu tadi telah menceritakan kisahnya sendiri. Kisah hidupnya yang tragis sekitar satu abad lalu. Pasangan itu membalaskan dendamnya kepada tiap warga desa. Mereka mengira bahwa aku dan Andri adalah penduduk desa yang masih tersisa. Tetapi mendengar bahwa ternyata masih ada jalan keluar dari sini membuatku sedikit lega.

*****

Benar-benar keberuntungan. Malam ini bulan purnama. Sekarang tinggal menunggu. Matahari akan mulai terbenam empat jam lagi. Aku memutuskan untuk mengatur rencana menyelamatkan Andri. Sayangnya, karena ruang bawah tanah itu sudah tua, dan sedikit sekali celah oksigen, tidak lama kemudian aku jatuh pingsan. Entah berapa lama kemudian, aku kembali bangun layaknya orang panik. Kulihat jam tanganku dan tanpa terasa aku sudah tak sadarkan diri lebih lama dari waktu yang kuperkirakan. Dengan segera aku berlari keluar karena menurutku, tebalnya kabut akan membuat penampakan bulan itu menjadi lebih sebentar.

Lagi-lagi benar. Terkadang aku benci bila apa yang kukatakan benar. Sekarang waktuku kurang dari semenit sebelum bulan purnama itu kembali tertutup oleh kabut. Namun ada yang tidak kurencanakan, dari jauh aku melihat kedua pasutri itu melangkah. Mereka berdua membawa alat-alat tajam yang seakan sedang haus darah. Dengan pandangan yang seram, mereka mulai mendekatiku seraya melempariku dengan alat-alat tersebut. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke mobil.

”Tolooooong! Denniiiis! Tolooooong!”

Itu suara Andri. Syukurlah dia masih hidup. Waktu itu aku sempat memutuskan untuk menabrak dua orang itu. Namun, saat aku ingin melihat kebelakang untuk memundurkan mobilku, ibarat dimuntahkan senapan, sebilah pisau melesat dari belakang. Hampir kena. Panik. Dengan penuh tenaga, kuinjak pedal gas dan mobil ini langsung melesat ke arah pulang. Ujung jalan yang akan kulewati nyaris tertutup oleh kabut sepenuhnya. Pasti itu penghalang desa ini yang sebentar lagi akan benar-benar tertutup. Akibat pingsan tadi, kini waktuku hanya 10 detik...9...8...7...

Aku tak sadarkan diri. Setelah disadarkan oleh hangatnya mentari, aku mendapati diriku dan mobilku sedang terperosok di sawah seorang petani. Aku berhasil. Sekali lagi kuharap itu cuma mimpi. Namun kemudian aku melihat sebilah pisau yang tertancap di kaca depanku. ”Itu bukan mimpi”, pikirku. Aku menerawang keadaan sekeliling, dan ternyata benar, Andri tidak ada disampingku. Aku tidak berhasil menyelamatkannya.

*****

”Deeeeen! Makanan sudah siap nak!”

Panggilan ibuku seakan menarikku kembali menuju masa kini. 10 tahun kemudian. Semoga keberadaan waktu dalam kehidupanku sedikit demi sedikit membunuh ingatanku tentang hal itu. Setiap detik aku mengingatnya, panas rasanya hati ini karena tidak bisa menyelamatkan teman yang paling kusayangi.

Dengan hati yang masih hancur aku mengelap air yang mengalir dari indera penglihatanku. Kubuka dompetku, untuk sekali lagi melihat foto kami berdua. Dulu, beberapa saat sebelum kami berangkat menuju desa terkutuk itu. Aku melihatnya dengan penuh rasa sedih.

Tapi, tunggu! Ada yang berubah dari foto ini. Ada. Tapi apa? Entah mengapa aku yakin bahwa sampai sekarang Andri masih hidup. Dia berusaha memberitahuku. Perasaanku mengatakan aku harus kembali kesana. Tapi tidak sekarang. Aku harus mencari orang yang cukup nekat untuk mempercayai ceritaku ini. Mungkin. Hanya mungkin. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Aku rasa masih ada kesempatan untuk menyelamatkan Andri.


The End of Chapter One – ”Memory from The Past”.

To Be Continued on Chapter Two – ”The Meeting and The Revelation of Secret”.

Created by: Amadeo D. Bafiansa