Sabtu, 24 Juli 2010

Desa Kabut Misterius III - The Eternal Path

Desa Kabut Misterius, 7 hari setelah malam itu, 02:45 am
Desa Kabut Misterius, begitulah akhirnya aku menamainya. Sebuah tempat dimana misteri menjadi atmosfer, sebab, akibat, bahkan napas dan detak jantung yang tetap menjaga hidupnya nuansa mengerikan. Sebuah tempat yang telah mengubah kehidupan segelintir orang. Sedihnya, perubahan itu tidak sedikitpun terlepas dari kata ‘pedih’. Dan sedihnya lagi, aku termasuk dalam segelintir orang yang harus berjuang bahkan untuk sekedar yakin akan ada hirupan oksigen lain esok hari.

Seharusnya sekarang menjadi hari ketujuh aku berada di tempat terkutuk ini. Entahlah. Pasalnya, terakhir kali kemari aku tahu ada perbedaan waktu yang cukup signifikan antara waktu sebenarnya dengan waktu di desa. Mencatat kondisi dan menulis buku harian adalah rutinitasku selama berada disini. Rutinitas yang juga dilakukan oleh pendahuluku, Van Sandick. Adalah ruangan bawah tanah berlokasi dibawah sebuah surau tua dan reot tempatku bersembunyi sekarang. Ruangan ini memiliki luas sekitar satu setengah kali lapangan voli, sirkulasi udara yang baik, dan dedaunan yang tumbuh didindingnya bila sewaktu-waktu lapar atau butuh bahan untuk meracik obat. Terima kasih pada Van Sandick yang telah menyelamatkan jiwaku dengan membangun tempat ini.

Ohya, orang yang menggelepar serta bersimbah darah disebelahku namanya Rico Mangunpraja. Tenang, dia tidak mati. Untungnya disini banyak buku-buku tentang pengobatan tradisional hasil penelitian orang Belanda itu. Rico hanya sedikit lalai saat ‘serangan harian’ diluncurkan kemarin. Kalau kala itu dia tidak cepat sadar, bisa saja dia harus belajar untuk menggunakan tangan kirinya saja. Aku menjalin hubungan lebih dekat dengan jam tanganku - satu-satunya benda berdetak dan berbunyi selain jantung - lilin, pulpen besi sekarat, kertas, serta parang. Karena memang benda-benda itulah yang fasih kupergunakan disini.

Keakrabanku dengan benda-benda tersebut juga membuatku sadar akan kegunaan lainnya. Misalnya, pulpen besi tidak hanya digunakan untuk menulis. Bila ujungnya diasah dengan menggunakan parang hingga lancip, dapat efektif sekali dipakai menusuk. Parang selain digunakan untuk memotong, cukup baik sebagai asahan atau sebagai alat menyerang jarak jauh jika handle-nya disambungkan pada rantai. Dan siapa kira? Kertas tua juga bisa menahan darah agar tidak terus mengalir. Dengan ketersediaan tumpukan buku tua yang begitu memadai, kertas bagaikan udara.

Yah, seminggu terperangkap disini dengan segala kondisinya mungkin telah menajamkan kreatifitas dan naluri kesadisanku. Darah yang tadinya sangat tabu bagi mataku, kini dengan santainya mengalir di tangan, kaki, bahkan kepala tanpa sedikitpun aku merasa risih. Sekarang aku harus kembali merawat Rico agar ia cepat pulih. Akan kuteruskan nanti. Aku biasa menulis 3-4 kali sehari, selama hanya itu hal berguna yang bisa kulakukan demi membunuh waktu. Semoga kumpulan catatanku akan ada manfaatnya dalam menemukan jalan mengakhiri ironi ini…

Semoga…


*****
®

Aku tidak bisa bergerak. Mati rasa. Tungkai dan lenganku tidak sekooperatif biasanya. Entah karena luka yang kuderita, atau justru karena teknik pengobatan yang buruk oleh Dennis. Perban yang membalut tubuhku kini harus bertambah lagi.

Disela-sela waktu saat aku tidak bisa bergerak seperti ini, kadang-kadang aku tidak habis pikir mengenai betapa bodohnya aku yang selalu bertindak tanpa berpikir lebih dahulu. Potongan-potongan kalimat penyesalan tidak jarang tiba-tiba muncul dalam benak. Seperti “Kalau saja…” dan “Coba jika waktu itu tidak…”. Hal terbaik yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mempasrahkan diriku kepada teknik pengobatan otodidak dadakan yang dimiliki Dennis.

Kurang lebih lima jam setelah tak sadarkan diri, mataku menjadi indera pertama yang patuh perintah. Gerakan bolanya nanar melihat seisi ruangan. Tidak ada yang berubah. Nyala api yang menari-nari di atas sebuah wadah lilin kecil dengan bentuk khas tahun 60-an yang ditaruh secara sengaja di atas meja kayu usang, seakan mempunyai daya untuk menggoyangkan ruangan ini. Dennis yang sedang duduk bersimpuh disudut ruangan terlihat sedang mengerjakan sesuatu. Nampaknya ia mencoba membuat obat dari dedaunan lagi. Badanku masih tergeletak lunglai di tengah ruangan ini, tanpa alas yang berarti. Hanya kertas. Pikiranku melayang tak tentu arah. Terang saja, siapa yang sangka kehidupan monoton seorang bocah kampung bisa menjadi sebegini absurd? Sedikit demi sedikit, otakku yang masih lelah mencoba mengingat kejadian seminggu lalu.

Hari pertemuanku dengan Dennis.

Ya, lambat laun semakin jelas. Waktu itu larut telah menjelang, dan aku yang setengah sadar bergerak terseret-seret kearah pintu rumahku. Suara decit ban mobil karena bergesekan dengan kerikil di depan rumah serasa memanggilku untuk memeriksa. Setelah kubuka pembatas rumah yang terbuat dari kayu itu dengan terkantuk-kantuk, sorot lampu depan mobil yang terlihat sengaja diarahkan ke pintu rumah sempat membutakan mataku selama beberapa saat. Pada saat itu posisi Dennis sudah berada di depan pintu. Lampu benderang membuat sosoknya tidak terlihat jelas. Aku yang belum mengenal Dennis, hanya dapat menjawab secara terbata-bata sebuah pertanyaan yang diajukannya saat itu.

Dengan sedikit berbasa-basi, menyilahkannya masuk dan duduk di ruang tamu adalah hal terbaik yang bisa kulakukan. Tapi ia menolak dengan alasan ada sesuatu yang penting dibicarakan namun ia takut mengganggu. Kali ini nada bicaranya menurun. Lalu kusarankan untuk berbicara di sebuah saung tidak jauh dari situ.

Di tengah pemukiman yang sepi, langkah dua orang dewasa, gemerincing lampu minyak, dan suara gelas yang beradu dengan termos berisi kopi terdengar menggema. Sepatu vantouvelnya membuatnya nampak tersiksa berjalan di jalanan desa yang layak menjadi jalur off road. Senandung bersahut-sahutan dari hewan-hewan malam pun sayup-sayup menghilang. Seolah ikut membisu karena ingin mendengar cerita Dennis.

“Maaf jika kedatanganku mengganggu. Maaf juga mengenai lampu itu. Aku tahu itu bukan cara terbaik untuk bertamu. Tadi itu aku masih sedikit emosi.” ujarnya sembari melepas sepatu dan duduk di atas ruang meeting ala kadarnya itu.

“Tak apa, sudah lewat. Ceritakan saja apa maksud kedatanganmu ke sini dan bagaimana kamu bisa mengenal kakekku.” jawabku dengan hati yang agak menggerutu.

“Oke. Pertama, namaku Dennis. Aku datang lagi ke desa ini berkenaan dengan kejadian 10 tahun lalu...” Kemudian ia bercerita panjang lebar mengenai tempat terkutuk itu. Tentang keadaan disana, bagaimana ia hampir dibunuh, kode-kode, dan… tentang temannya, Andri, yang ia tinggalkan disana. Semua kondisinya mirip. Persis dengan yang diceritakan oleh kakek. Hanya saja yang ini terdengar lebih dramatis. Mungkin perasaan bersalahnya terhadap Andri juga telah mencairkan hatiku.

“Beberapa hari yang lalu, ketika aku mengingat-ingat kembali memori pahit itu aku memutuskan untuk membuka kembali koper peninggalan Andri. Kemudian aku menemukan sesuatu yang menjadi alasan utamaku untuk kembali ke sana. Biar kuperlihatkan padamu…” Tangan kanannya meraih tas ransel yang sedari tadi menggantung di pundaknya. Rasa kantukku yang semula menghantui, sontak lebur mendengar ceritanya dan kini berubah drastis menjadi rasa tegang yang memompa. Detik-detik ia menggeser resleting tas itu, mencari bendanya, dan mengambilnya keluar nyaris terasa seperti penantian detik-detik pergantian tahun.

“Ini.” katanya sambil menunjukkan benda yang ia maksud.

“….! Itu…”

*****

“Nah, sudah! Cobalah duduk.” perintahku pada Rico yang sempat mengerang saat kubebat tadi.

“Ukh… terima kasih, ya. Maaf, aku jadi merepotkan lagi.”

“Tidak masalah. Sejak masuk ke sini, kita memang harus memikirkan kemungkinan seperti itu. Hal-hal semacam itu lumrah. Lain kali bisa saja aku yang berada dikondisimu.”

“Yah, pokoknya terima kasih. Selanjutnya apa?”

“Kamu masih terlalu rentan dan lemah. Biar aku saja yang mengambil buku itu.”

“Sudah ada rencana?”

Aku mengangguk tanpa suara. Kutampilkan senyum dan wajah yang meyakinkan. Hidup kami disini sangat bergantung pada buku itu. Karena, ternyata memang ada lagi selain catatan hariannya. Sebuah kode. Sialnya kami belum sempat menafsirkan kode yang tercantum pada buku tersebut. Dan sekarang, buku itu hilang. Rico sakit, sehingga praktis aku harus mencari serta mengambilnya sendiri.

Semoga Rico tidak melihat aku menyilangkan jari ketika ia menanyakan rencana.

Karena aku sama sekali tidak punya rencana.

Hanya keluar, cari, ambil. Aku tahu aku akan butuh rencana nantinya. Tapi waktu tidak boleh dibuang untuk berpikir. Aku harus cepat bertindak. Setelah membantu Rico duduk dengan nyaman untuk beristirahat demi memulihkan diri, aku langsung melangkah pergi. Detak jantung yang mengiringi jalanku, seakan juga bolak balik mempertanyakan keputusanku untuk melakukan ini sendiri. Sebab diluar sana, lengah ibarat dosa. Tapi kumantapkan hatiku.

Didepanku ada pintu. Sebuah penghalang dari kayu berkenop yang memisahkanku dari tempat persembunyian. Kujulurkan tanganku untuk memutar gagang pintu itu dan…

“Hei! Siapa yang mengunci pintu? Hoi, Rico!”

“Kau kira aku bodoh, hah? Kamu tidak punya rencana, kan? Dasar. Seminggu bersamamu sudah membuatku cukup mengenalmu untuk sekedar tahu kalau kamu itu nekat. Pintu itu memang kukunci dan kuncinya kusimpan. Tunggu sampai aku pulih, baru kita rencanakan baik-baik cara mengambil buku itu.” katanya dengan seringainya yang selalu membuatku kesal. Hm, oke. Setidaknya ia benar. Kurasa aku memang butuh bantuan.

“Kapan kau ambil kunci itu?”

“Ah, tak usah tahu. Pokoknya, rawat saja aku disini.”

“Cih, ya sudah. Berbaringlah sana. Aku menulis saja.”

Maka disinilah aku, kembali duduk manis di atas kursi yang hampir rontok karena rayap, dihadapan sebuah meja kayu yang tidak layak dipergunakan menulis karena berlubang-lubang dan bergoyang. Namun keterpaksaanku untuk menulis, mengalahkan ketidaknyamanan ini.

Desa Kabut Misterius, 7 hari setelah malam itu, 03:38 am
Ruangan lembab namun hangat karena lilin kecil yang harus kuganti beberapa saat lagi ini, membuatku ingin tidur. Tidak tahu sebabnya, mengingat buku hilang itu membuatku teringat pula akan ekspresi Rico saat pertama kali kutunjukkan buku itu padanya di atas saung yang kita jadikan ruang tamu. Buku yang ia lihat selama ini hanyalah replika dari buku penelitian sesungguhnya yang waktu itu kubawa serta. Tangannya ligat meraih kumpulan lembaran tua itu seolah sudah ia nanti-nantikan sejak lama. Pun kemudian, kusela antusiasmenya dengan sebuah foto. Hasil refleksi oleh kamera pada secarik kertas itu pulalah yang membawaku kembali kemari.

Tak lama, ia menaruh kembali buku dan foto itu lalu menatapku tajam. Pandangannya menunjukkan bahwa apapun yang akan ia katakan sesudah ini adalah kalimat yang serius. Benar saja, secara jelas dan padat ia menceritakan balik mengenai kisahnya. Juga ambisinya untuk segera kembali ke tempat itu demi mencari orang tuanya. Aku tidak tahu kalau masih ada yang bisa selamat dari sana. Tapi ya sudahlah, karena Andri masih hidup mungkin saja orang tua Rico juga. Malam itu, tanpa ijin dari kakeknya kami berdua pergi menuju pintu masuk desa itu.

Kebetulan sekali bulan purnama bersinar terang. Kami berangkat dengan niat yang berbeda namun dengan tujuan yang sama. Langkah Rico tegas, badannya tegap, serta terlihat siap menghadapi kejutan macam apapun yang akan ia temui di tempat misterius itu.

Sebaliknya aku, pria berlabel anak kota, berjalan ragu menjuju sebuah tempat yang tadinya ingin kudatangi secara menggebu-gebu. Jantungku yang bergejolak dipenuhi rasa takut dan cemas, berdegup kencang melebihi bunyi kaki yang memijak dengan lemas
Singkatnya, kami melewati portal itu dan memasuki area desa kabut misterius. Tempat ini. Aku yang masih gemetaran karena tubuh dan otakku masih trauma dengan kunjungan terakhirku, langsung menunjukkan letak tempat persembunyian yang kutemukan dulu. Tidak ada yang berubah. Kami memutuskan untuk bermalam disana, lalu mempersiapkan rencana.

Hal baru yang kuketahui selanjutnya ialah bahwa orang-orang yang menjadi korban terdahulu tidak membusuk karena mereka akan bangkit lagi. Jalannya waktu yang terpisah antara desa ini dengan dunia luar membuat para warga yang malang tersebut bisa dikatakan…. menjadi zombi.

Mungkin kusudahi dulu. Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB. Aku harus mengumpulkan bahan makanan di luar dengan segera. Kulihat Rico sudah mulai bergerak lincah. Nampaknya ia telah dapatkan staminanya kembali. Dan dari pandangan matanya, aku tahu dia sudah punya rencana…


*****
®

Satu persatu anggota tubuhku berhasil ‘kupaksa’ bergerak. Memang saatnya. Aku tidak mau berlama-lama ditempat ini, terlebih setelah aku mendapat titik terang akan yang seharusnya kulakukan. Jalan kami sekarang sudah lebih terarah berkat ditemukannya kode itu oleh Dennis.

“Hei, Den! Kemari kau.”

“Jadi bagaimana? Kau yakin sudah baikan?”

“Ya, tenanglah. Begini, saat kujatuhkan buku itu kemarin, kurasa para zombi tidak memperhatikan. Sekalipun ya, mereka tidak akan memiliki inisiatif untuk mengambil buku itu. Mereka tidak memerlukannya. Yang artinya, buku itu masih ada ditempat awal dimana kujatuhkan kemarin. Satu hal yang patut kita waspadai adalah karena buku tersebut tergeletak di area yang rawan sekali diketahui oleh mereka.”

“Hm.. Rencananya?”

“Sederhana. Kita merangkak dan merayap dibalik batu-batu nisan. Sesampainya di dekat buku itu, kau lemparkan bom molotov racikanku ke arah lain sejauh mungkin sebagai dalih untuk mengalihkan mereka. Saat mereka bergerak, kita ambil buku itu diam-diam lalu pulang. Selesai.”

“Baiklah. Kita berangkat sekarang. Kau jangan lupa bawa senjata.”

“Ya.”

Kini sebuah rencana telah dibentuk. Masing-masing dari kami membawa senjata untuk berjaga-jaga akan terjadinya kemungkinan terburuk, apapun itu.

Dinginnya hembusan angin fajar yang menyebabkan daun-daun bergesek, menjadikan keadaan di luar jauh lebih riuh dibandingkan keheningan tadi. Kami bergerak dengan tenang, nyaris tanpa napas, dari satu tempat ke tempat lainnya mengikuti alur rencana yang telah kususun. Tidak diperlukan waktu lama untuk berada di tempat yang dimaksud. Segera, Dennis yang telah kuberi tanda melemparkan bom pengalih perhatian tersebut ke arah yang berjauhan dengan tujuan kami. Dengan harapan, suara bising yang dihasilkannya cukup untuk mengalihkan perhatian mereka.

Kenyataannya, taktik itu cukup berhasil. Beberapa dari mereka yang terlihat, mulai menjauhi tempat mereka berdiri tadinya. Tanpa dikomandoi, aku dan Dennis langsung mencoba untuk meraih buku yang menjadi kunci terselesaikannya masalah yang telah menyeretku ke dalam tragedi ini.

Semua terlihat baik-baik saja, sampai…

*****

Aku bagaikan anak domba di kandang serigala. Aku sedang bersembunyi disemak-semak yang berjarak kurang lebih dua meter dari penjaga terdekat. Makhluk setengah hidup itu berdiri di arah jam dua, tiga, sembilan, dan sepuluh. Sedangkan target, arah jam 12. Mereka menggunakan buku itu sebagai umpan untuk menarik kami keluar. Mereka tahu buku itu penting bagi kami. Tangan kananku memegang bom buatan Rico. Aku hanya tinggal menunggu tanda darinya. Yak! Itu aba-abanya! Dengan sekuat tenaga kulemparkan bom itu ke arah kiriku. Sejauh mungkin. Sejurus kemudian aku dan Rico keluar dan berlari demi mengambil buku tersebut.

Tapi… apa yang ditangan kiriku ini? Bom itu! Lalu, apa yang kulempar?

Sial! Sial! Sial! Kegugupanku mengacau lagi! Aku yang melempar senjataku sendiri! Huff… bagaimana dengan mereka? Alih-alih menjauhkan, nampaknya aku malah membuat kita terjebak. Aku harus beritahu Rico sebelum terlambat. “Ei, Ric- ”

“Ssshhh… Diamlah… Aku tahu. Ketahuan, kan? Sudah telat. Aku bisa lihat itu. Mereka cepat sekali kembali. Fokus sajalah.” katanya membelakangiku sambil memutar-mutar rantai yang ujungnya dikaitkan pada parang. Sekarang kami dikepung. Mereka ada disetiap penjuru.

“Ikatkan buku itu ketubuhmu agar tidak jatuh lagi, dan konsentrasi. Ingat, kali ini kau tidak bersenjata. Simpan saja bom itu. Tidak mungkin kita pergunakan sekarang. Nanti mungkin berguna.” tambahnya seraya tetap waspada. Kami berdiri saling membelakangi. Disekeliling kami semuanya adalah eks-warga yang kini jadi berbahaya.

“Dennis! Serang!”

Serangan harian dimulai. Berbagai gerakan cepat diluncurkan. Sayangnya kali ini Rico terlihat kewalahan mengatasi mereka. Lukanya jelas belum sembuh sepenuhnya. Untunglah aku tidak butuh waktu lama untuk merebut senapan. Sembari mempertahankan diri, perhatianku terus tertuju pada Rico yang benar-benar tidak seperti biasanya. Gerakannya terlalu mudah dibaca.

“Aaaaaah!”

Itu suara teriakan Rico! Gawat! Ia terjatuh dan senjatanya terlempar dari genggamannya. Dan… ukh! Kedua tanganku berhasil mereka pegang. Aku lengah karena memperhatikan dia. Kini aku hanya bisa diam termangu melihat kawanku tersungkur dalam keadaan lemah menunggu untuk dihabisi oleh makhluk tak berotak dengan senjatanya sendiri. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali memberontak dan berteriak minta tolong sekalipun aku tahu tidak ada siapa-siapa lagi disini.

Apakah ini akhirnya? Kami berdua mati sia-sia bahkan tanpa mengetahui kode yang diberikan? Sampai disini saja? Tidakkah mungkin aku bertemu Andri lagi? Atau setidaknya… tidakkah mungkin aku kembali ke rumah? Aku merasa bersalah telah menyeret Rico kesini. Ia orang yang baik. Air mataku tak terasa mulai berlinang menyesali perbuatan gegabahku untuk kembali ke tempat ini dan menambah satu lagi korban tak berdosa karena ambisi kosongku. Maafkan aku, sobat… Aku tidak bisa menolongmu… Mataku tak kuasa melihat ketika benda tajam itu diayunkan ke arah lehernya. Kupalingkan mukaku sambil memejamkan mataku.

GEDEBUM! Suara benturan yang keras membangkitkan refleksku untuk kembali melihat. Zombi yang tadi hendak menyerang Rico terlempar jauh karena bertubrukan dengan sesuatu. Itu sebuah batu. Namun bukan sembarang batu. Itu batu kali yang beratnya bisa mencapai ratusan kilo! Apa? Siapa? Siapa yang melakukan itu? Rico? Tidak mungkin dia. Posisinya masih belum berubah dan raut wajahnya menggambarkan kebingungan sama besar dengan yang kumiliki. Kepalaku menoleh-noleh mencari siapapun atau apapun itu yang mampu melempar benda seberat ratusan kilo dengan kecepatan mendekati peluru. Yang pasti, kurasa ia ada di pihak kami.

Akhirnya pandanganku terhenti pada sebuah sosok dikejauhan. Itu sesosok orang! Berdiri dengan tegap mengarah pada kami. Itukah Andri? Sosok itu mengeluarkan suara, yang kemudian dibalas dengan teriakan Rico yang membuatku takut dan terheran-heran…

*****
®

“Ah.. inilah akhir hidupku..” begitu pikirku kala jarak mata parang dengan leherku tinggal sejengkal. Tapi tidak, aku masih selamat. Ada yang menolongku. Siapa? Dennis masih dipegangi oleh beberapa dari mereka. Aku melihat kebelakang. Ada sebuah sosok manusia yang berdiri tegak dan terkesan horor karena tampangnya terbayang-bayangi oleh obor yang dipegang tangan kirinya. Apakah ia dewa penolong yang bersembunyi disini selama ini dan mengawasi kami?

“Tidak secepat itu, payah!” sosok itu bersuara sambil berjalan mendekat. Lama kelamaan siluet tubuhnya makin tercitra dengan jelas dalam otakku. Aku kenal dia!

“Kakek! Kakek… kenapa bisa ada disini?”

“Ka-kakek? Di-dia kakekmu? Dia manusia, kan?”

“Sudah, kalian diam dulu. Cucu-cucuku, kita ada sedikit urusan disini.”

“Ya, benar.” Maka pertarungan yang sempat terhenti berlanjut lagi. Kedatangan kakek telah merubah tempo pertarungan. Gerakannya, kelihaiannya, dan kekuatannya, sangat tidak senada dengan umurnya. Jika kakek tidak pernah menceritakan tentang siapa dia sebelumnya, aku pasti mengira aku bermimpi. Sialnya, mereka tidak pernah bisa betul-betul dikalahkan sebab mereka memang tidak hidup. Saat keadaan memungkinkan untuk kabur, kakek memerintahkan kami untuk kembali ke ruang bawah tanah. Pertarungan kali ini ditutup dengan cantik oleh bom yang tadi tidak jadi dilempar oleh Dennis. Kali ini dia tidak salah lempar. Itu sangat memudahkan pelarian kami.

“Huuuh… sampai juga. Nak, buku itu masih ada padamu?”

“Ya, tapi cerita dulu. Anda kakeknya Rico? Mengapa Anda bisa berada disini?”

“Sederhana. Saat kau datang kerumahku beberapa waktu lalu, tanpa sengaja kau juga membangunkanku. Waktu kau dan cucuku pergi, aku memutuskan untuk mengikuti kalian dari belakang. Singkatnya, kalian kakek buntuti hingga sekarang. Kakek yakin kalian akan butuh bantuan kakek.” ujarnya dengan nada suara yang tenang. Apa yang terjadi selama beberapa waktu terakhir telah membingungkanku. Kami semua terdiam sejenak. Saling menunggu seseorang diantara kami untuk membuka pembicaraan lagi. Dennis nampaknya masih tidak percaya bahwa orang ini adalah memang orangtua biologis dari orangtua kandungku. Itu lumrah, sebab pertama kali aku berjumpa dengannya empat tahun lalu pun aku tidak percaya.

“Aku sudah menceritakan bagaimana aku bisa ada disini. Sekarang, tolong berikan buku itu pada kakek, ya? Kakek mau lihat.” ucapnya pada Dennis yang kali ini dihiasi dengan senyum bersahabat. Dennis yang kutahu pikirannya entah sedang mengawang kemana itu akhirnya menyerahkan sebundel kertas tua tersebut pada kakek – dengan tangan yang bergetar.

“Ini. Tapi aku menyarankan kita melihat foto yang kuselipkan ini dulu. Inilah penyebab keyakinanku datang kekediaman kalian dan bahwa Dennis masih hidup.” tangan Dennis menjulurkan secarik kertas foto dengan tanda dari spidol merah.

“Foto ini kuambil saat perjalananku dengan Andri ke desa ini yang pertama kali. Awalnya kukira tidak ada yang salah. Tapi lihat dua tanda yang kulingkari itu, pertama, tangan kanan Andri berubah posisi menjadi menunjuk jam tangannya yang ada ditangan kiri sekalipun tidak ketara. Kedua, angka pada jam digital yang dikenakan Andri berubah. Kami berfoto saat sore hari, kalian lihat matahari yang mau terbenam itu kan? Namun jam tersebut menampilkan angka 00:45, tidak mungkin jam itu salah sejauh itu.”

“Lalu apa pemikiranmu?” potongku yang sudah mulai tidak sabar. “Kupikir tidak banyak yang bisa Andri kaitkan dengan angka 45. Jadi langsung kutujukan pada halaman dibuku. Saat kubuka halaman 45, aku menemukan angka-angka berikut” katanya sambil membuka halaman tersebut. Kakek dan aku langsung mendekat dan melongok karena penasaran. Disana tertulis:

18 20 05 04 05 18
01 15 22 05 05 09
03 20 05 20 04 10
11 26 14 23 05 .

“Aku bingung maksudnya apa, maka kuubah angka-angka tersebut ke alfabet:”

r t e d e r
a o v e e i
c t e t d j
k z n w e .

“Nah, setelah ini aku tidak tahu harus apa lagi. Huruf-huruf itu masih belum dapat dibaca. Aku tidak mengerti, mungkin langkahku salah. Mungkin semua angka itu memiliki maksud lain. Itu sebabnya aku datang padamu karena kukira kamu tahu atau setidaknya membantu.” jelasnya.

Aku juga sama tidak mengertinya dengan Dennis. Bila aku sendiri, malah mungkin tidak akan sampai menemukan halaman 45 ini. Menemukan pun, aku tidak tahu harus dibagaimanakan. Kakek terlihat berpikir keras. Kedua tangannya dipertemukan didepan wajahnya dan jempolnya digunakan untuk menopang dagunya yang renta.

Satu menit berlalu, tiba-tiba kakek merubah posenya kearah Dennis dan berkata, “Tidak, yang kau lakukan sejauh ini sudah benar. Memang sudah seharusnya begini. Sejak kedatangan kalian kemari, apakah ada posisi dari barang-barang yang kalian ubah?”

“Hemm… tidak, Kek. Mengapa?” jawab Dennis yang langsung ditambah dengan pertanyaan yang mewakili rasa ingin tahuku.

“Kalian ingat berasal dari mana orang yang menuliskan sandi ini? Van Sandick berasal dari Belanda. Kode ini juga ditulis dalam bahasa Belanda. Itu sebabnya kau tidak dapat menemukannya, Dennis. Kakek mengetahui sedikit bahasa Belanda saat jaman penjajahan dulu.”

“Lalu apa yang ditulisnya, Kek? Apa?” bentak Dennis yang tidak tahan atas rasa penasarannya.

Rack tot zeven, de tweede rij. Rak ketujuh, baris kedua.”

*****

Setelah mendengar pemecahan dari teka-teki itu, aku dan Rico langsung bergerak cepat laksana elang yang mengincar mangsa. Mata kami semua tertuju kearah satu-satunya lemari tua yang berdiri gagah disisi ruangan. Setelah mengurutkan dengan hati-hati dan tegang, buku mana yang ada pada rak ketujuh dan baris kedua, tanganku terhenti pada sebuah buku bersampul hitam dengan ujung bingkai berwarna emas dan bagian pinggirnya juga disepuh emas walaupun sudah lumayan memudar.

Buku ini terlihat lebih lama dari yang lainnya, sehingga sangat rapuh dan kelihatan mudah sekali dirusak. Tapi ada sesuatu yang menyembul keluar di balik halaman-halaman tua tersebut. Semacam pembatas buku sederhana dari daun yang umurnya jauh lebih muda dari bukunya. Langsung saja aku mengira bahwa halaman inilah yang dimaksud. Ada selembar kertas yang ditaruh diantara halamannya. Nampaknya, Van Sandick telah menerjemahkan halaman berisikan tulisan asing tersebut dalam selembar kertas yang terlipat delapan. Kami sekali lagi meminta kakek untuk membacakan isi dari lembaran tersebut lantaran tulisan itupun berbahasa Belanda.

“Aku menemukan buku ini dalam salah satu perjalananku menemui suku Aborigin di Australia. Menurut yang tertera disini, mantra tersebut pada dasarnya bertujuan untuk melambatkan jalannya waktu disuatu tempat tertentu sekaligus memberikan pelempar mantra serta yang ada disekitarnya, sebuah keabadian - atau lebih tepatnya, keabadian yang terbatas. Ya, mantra ini sebenarnya memiliki limit waktu. Konon, beribu-ribu tahun sebelum masehi ada sebuah peradaban yang besar terletak berdekatan dengan Amesbury di Wiltshire, Inggris, sekitar 13 kilometer barat laut Salisbury. Dukun mereka – atau apapun sebutannya – memenuhi titah penguasa setempat untuk menjadikan seluruh penduduk beserta dirinya abadi. Tanpa memahami konsekuensinya, dukun tersebut menaati perintah sang raja. Dan segalanya lancar, setidaknya hingga batas waktu menghampiri.

Dalam sekejap, terbentuk sebuah lingkaran hitam di angkasa yang berotasi ditengah kota tersebut. Angin bertiup kencang dari segala arah seperti tak sabar menanti-nanti saat ini. Dedaunan, ranting, perabot, bahkan kemudian pohon dan ternak berterbangan liar bagaikan baru lepas dari belenggu. Bak kolam yang ditarik penyumbatnya, angin itu mulai menarik semua yang melayang olehnya kedalam pusaran lubang hitam dilangit. Semua yang berhubungan langsung dengan mantra itu tidak selamat. Tak sampai hitungan jam, kota besar itu rata dengan tanah seakan-akan ia tidak pernah berdiri. Yang tersisa hanyalah bebatuan melingkar yang tadinya merupakan bagian dari kota – entah itu benteng, pusat kota, atau pondasi kediaman raja. Mungkin bebatuan tersebut lebih dikenal dengan… Stonehenge.”


“Stonehenge? Yang benar saja, Kek!” seru Rico sambil mengangkat tangan ke udara.

“Hus! Diamlah. Biarkan kakek melanjutkan.”

“Sulit dipercaya memang, bahwa ternyata asal muasal stonehenge berhubungan langsung dengan kejadian ini. Tapi begitulah adanya. Legenda nasional, Rara Jonggrang, sebuah kisah yang menceritakan mengenai seorang pangeran yang diharuskan membangun seribu candi dalam semalam, juga disinyalir menggunakan mantra yang serupa. Hanya saja, pangeran tersebut memakainya sekadar memanjangkan waktu yang diberi Rara Jonggrang, sehingga tidak sampai batasnya.

Cara untuk membatalkan kutukan ini hanyalah dengan membunuh pelempar mantra sebelum sinar matahari terakhir meredup di hari tahun berulang kembali menjadi nol.”


“Apa sih? Kek, semua ini semakin aneh! Kakek yakin ini bukan omong kosong?”

“Rico, kakek sedang berpikir. Kita sudah sejauh ini, tenangkan dirimu dan mari kita pikirkan maksud dari kalimat terkahir.” Kini kebimbangan terpancar dari air muka orangtua itu. Optimismenya hilang bersama keruwetan baru yang dihadapinya. Buku itu diletakkannya dan kedua sikunya menopang kepalanya.

“Hei, nak Dennis. Bagaima– “

“Aku tahu! Aku tahu maksud dari tahun kembali menjadi nol.”

*****
®

Seolah tenggelam oleh pembacaan kakek, Dennis yang tadinya terlihat antusias berkomentar, sekarang diam seribu bahasa. Sorot matanya menunjukkan ia sedang berkonsentrasi berpikir. Jemarinya disilangkan didepan wajahnya yang sedang menunduk seperti sedang berdoa. Tangannya bergerak cepat mencoret-coret sesuatu diatas kertas yang tidak kumengerti seakan sengaja menambah guratan di meja dengan pulpennya. Aku sama sekali tidak ahli menyelesaikan teka-teki macam ini. Tak dinyana, badanku yang terkulai lemas serasa disetrum oleh harapan ketika Dennis mulai mengeluarkan suara bagai pemanggang roti seusai memanggang.

Dia tahu jawabannya.

“Sejauh ini, tahun telah kembali menjadi nol sebanyak dua kali.” Dia mendehem-dehem lalu melanjutkan. “Yang pertama, perubahan dari tahun sebelum masehi, ke tahun nol, ke tahun satu masehi. Yang kedua, perubahan dari tahun 999, ke tahun 1000. Ya, kalimat terakhir tersebut mengindikasikan pergantian millenium. Dalam kasus ini, dari tahun 1999 ke tahun 2000. Perhatikan bagaimana kita menyingkat penulisan tahun dari ’99 menjadi ’00.”

“Selamat Tuan Sherlock. Lalu kapan tepatnya masa yang ditunggu-tunggu itu terjadi?” ujarku sinis sembari menunjukkan seringai yang kutahu tidak ia sukai.

“Pada halaman 45 itu ada sebuah kode lain yang telah kupecahkan setelah menyambungkannya dengan cerita kakek. Sebuah rumusan jalannya waktu didesa ini. Perbedaan waktu antara desa dengan dunia nyata semakin lama semakin tipis, lalu pada akhirnya akan sama dan… BAM! Desa ini akan hancur oleh pusaran angin yang sama.” Terangnya sambil mengepalkan kedua tangan tepat didepan matanya.

“Itu semua akan terjadi pada pergantian tahun. Atau mungkin lebih tepatnya, pergantian millenium, ketika tahun kembali menjadi nol.”

”Setelah kuhitung, maka waktu yang kita punya sebelum batasnya sekitar…” Dennis menghentikan analisisnya, melirik jam tangan, dan membuat kami kaku dalam penantian laksana peserta undian lotere. “Tujuh puluh lima menit lagi. Tidak lebih, namun terus berkurang.”

“Tinggal 75 menit? Secepat itukah? Memang sudah dua hari yang lalu kita kemari, tap–“

“Ssst..” Dennis menaruh jari telunjuknya didepan bibirku, membuatku merasa seperti anak kecil yang akan diomeli karena mengganggu ayahnya. “Aku tidak mungkin salah hitung. Sekalipun ya, akan lebih buruk dampaknya jika lebih cepat dari perhitungan. Kau baru saja membuang lima detik yang berharga untuk mendebatku.”

Kakek mengangkat bahu menandakan setuju, “Dia benar, Nak. Kita bahkan tidak memiliki cukup waktu untuk memikirkan rencana. Kakek pikir ini saatnya untuk memastikan lukamu telah tertutup rapat. Kita akan butuh setiap kesempatan yang ada.”

Dennis terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat pertama kali kita sampai di desa. Mungkin rasa terdesaklah yang membuatnya begini. Aku mundur dari hadapan mereka yang melihatku beberapa langkah, meminta waktu sedikit untuk menenangkan diri. Punggungku kubenturkan kedinding dan perlahan-lahan merosot hingga aku terhenyak dilantai. Penglihatanku kosong. Mataku melihat salah satu sisi dinding didepanku yang dipenuhi tetumbuhan namun sebenarnya menerawang lebih jauh dari itu. Kemana keberanianku? Untuk beberapa saat setelahnya, suasana hening diruangan bawah tanah menjadi semakin hening hingga kata-kata dalam hatiku pun terkesan menggema. Aku mengingat-ingat kembali tujuanku pergi ketempat ini. Orangtuaku. Nuansa hatiku yang beragam nan labil telah memburamkan maksud awalku. Aku harus menemukan mereka. Harus. Aku ingin menikmati kehidupan dengan kedua orangtuaku yang telah hilang dari duniaku. Kehidupan yang selalu membuatku tertegun iri ketika melihat anak kecil yang digandeng kedua orangtuanya.

“Hei, Bung. Lantas?” ucap Dennis sambil menepukkan tangan kirinya dipundakku, menarikku kembali ke alam nyata dari lamunanku.

“Ayo kita lakukan.” Jawabku tegas yang entah mengapa serasa ditenagai oleh medan tak terlihat. Kami langsung berjalan menuju pintu keluar dengan dihantarkan oleh pekikan tangga gaek yang keropos saat kami injak. Pendeknya, kami bertiga keluar lagi dari persembunyian membawa senjata. Kali ini kami bisa disetarakan dengan tentara yang pergi ke zona perang tanpa diberi hak untuk pulang kecuali menang atau tak bernyawa.

Sisa 65 menit yang ada membuat kami mendadak menjadi orang yang menghargai waktu.
Ini pertama kalinya aku melihat cahaya matahari sejak berada di desa. Tidak terlalu terang atau terik dan sesekali tertutup awan, tapi sudah cukup membuatku nyaman. Antara tak sabar, tidak tahan, atau muak terhadap segala kondisi, kami berlari menuju rumah yang Dennis sebut sebagai rumah pria setengah terbakar ketika dulu tiba disini. Derap langkah tiga pasang kaki kami sontak berhenti ketika mata kami menangkap bayangan orang sejauh sembilan meter menghalangi jalan kami.

“A-Andri!” seru Dennis, yang disusul oleh senyum yang merebak diwajahnya. Ia kemudian berlari menuju kawan lamanya itu dengan perasaan senang setelah sepuluh tahun tidak bertemu – yang tentunya terasa lebih lama bagi Andri. Secara reflek aku ikut tersenyum, teringat kembali akan kesempatan bertemu kedua orangtuaku dan setelah melihat Andri, kesempatan itu terasa makin besar.

Dennis merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk memeluk Andri yang mengangkat tangan, tapi tidak terlihat seperti menerima pelukan Dennis. Ada apa? Posisi tangannya cenderung mengacungkan sesuatu dibandingkan memeluk. Dan dia memang mengacungkan sesuatu pada Dennis.

Sebuah pistol.

*****

“Andri? Kenapa dengan pistol itu?” tanyaku yang sekarang dipenuhi tanda tanya. Dia diam tak menjawab. Kuhentikan lariku dan kuturunkan tanganku. Kedua tungkai kakiku berjalan mendekat, merasa was-was karena tidak mengerti apa yang terjadi. Kucoba untuk kembali bertanya dengan senyuman ragu terpampang. “Ayolah, Dri. Jawab aku. Apa yang terjadi? Kau bercanda, kan? Pulanglah bersamak– “

Keadaan sekitar terasa vakum ketika Andri tanpa ragu menarik pelatuk, menyebabkan sebutir peluru melayang dengan pasti kearahku. Sepersekian detik kemudian, peluru itu mengenai bagian kiri dadaku, sedikit diatas jantung, menyebabkan senjataku terlempar dan aku terhempas ketanah yang lalu basah oleh darahku. Aku yang teramat bingung, sedih, takut serta kesal, hanya bisa membuka mulut tanpa berkata sepatah katapun. Baru setelahnya Andri mulai angkat bicara.

“Kemana saja kau, hah? Meninggalkanku sendirian ditempat mengerikan ini. Bertahun-tahun tanpa seorang teman. Disekelilingku hanya ada makhluk yang tak bisa diajak bicara. Tidak ada satu manusiapun yang benar-benar hidup selain aku. Tidak ada satupun penyintas. Berminggu-minggu sejak aku ditawan, barulah aku bisa meyakinkan suami-istri itu bahwa aku hanya seorang pendatang yang tidak memiliki maksud apa-apa. Kini aku dirawat oleh mereka. Mereka bersedia merawatku karena teringat oleh anak mereka yang tidak jelas rimbanya. Mereka pula yang mengatakan betapa pengecutnya engkau saat kabur padahal kau dengar aku meminta tolong. Tidak kusangka engkau begitu egois memikirkan dirimu sendiri untuk keluar dari tempat ini walaupun jelas sekuat apapun mereka dan setakut apapun kau pada saat itu, yang kau kendarai itu mobil yang beratnya berton-ton. Kalau kau mau, kau bisa mengalihkan mereka dan mencariku. Tapi ternyata tidak. Aku terlalu naif mempercayaimu sebagai sahabat baikku, Den!”

Aku turut sedih saat ia bilang tidak ada yang hidup atau sintas selain dirinya. Bukan simpati, tapi itu berarti menyiratkan kedua orangtua Rico juga telah mati. Kuyakin kecemasan dan kekosongan kini menjangkiti tubuhnya. “Dri, aku mengaku salah. Aku panik jadi tidak bisa berpikir jernih. Kukira– “

“Diam! Simpan semua perkiraanmu! Lama terkurung disini membuat pandanganku skeptis dan rasa benciku padamu bertumpuk. Akan kutembak temanmu itu, lalu kakek-kakek disebelahnya agar kau bisa merasakan ditinggal oleh temanmu, orang yang kau pikir bisa kau andalkan.”

Andri berjalan melewatiku yang tersungkur ditanah menuju Rico dan kakek. Senyum kekejaman yang ditampilkannya membuatku merasa terhina pernah menyesal meninggalkannya. Badanku sakit, tak dapat bergerak. Namun hatiku jauh lebih sakit karena harus menghadapi kenyataan ini. Sepuluh tahun kulewati sia-sia. Bahkan sahabatku sendiri yang akan membunuh Rico, yang rela menemaniku kemari disaat semua yang kuajak bicara menganggapku sinting. Aku tidak boleh membahayakan mereka lagi. Dengan segenap kekuatanku yang tersisa, aku beranjak menerjang Andri sehingga pistolnya terlempar meskipun sempat tertembak ke udara.

“Lari! Jangan membantah! Waktu kita tidak banyak!” teriakku pada mereka. Sejenak mereka terdiam, mengangguk ke arahku lalu berlari melewatiku yang sedang bergelut menahan Andri.

Air mata tanpa diperintahkan mengalir deras tak bisa dihentikan ketika aku melakukan pertarungan bare hand dengan Andri. Aku tidak pernah menyangka akhirnya akan seperti ini. Di mimpi juga aku tidak sudi. Andri, teman baikku sejak kecil, kini menjadi musuh yang suka tidak suka harus kukalahkan di tanganku sendiri. Disela-sela pertarungan kami, aku masih terus mencoba untuk meyakinkan dan mengubah pendiriannya, namun ia tak bergeming. Kami berdua sama-sama kelelahan. Ketika dia lengah, kumanfaatkan saat itu untuk menancapkan pisau tepat ke jantungnya, menghentikan segala aliran darah yang menjadi sumber kehidupannya. Dia sempat berusaha, lalu oleng nyaris jatuh. Kutopang tubuhnya yang telah tak bernyawa itu dengan penuh kemirisan. Darah dan air mata bercampur membasahi lenganku, serasa ingin mati saja setelahnya. Tidak, aku masih punya tanggung jawab. Kuletakkan dia diatas tanah dan kubisikkan kata ‘maaf’ di telinganya sebelum kembali berjalan tergopoh-gopoh untuk menyusul Rico.

Ternyata keadaan disana lebih parah.

*****
®

“Benarkah itu? Benarkah apa yang dikatakan temannya Dennis? Bahwa tidak ada yang lain selain dirinya? Bohong. Itu pasti bohong. Tapi untuk apa dia berbohong? Dia sudah lama mendiami tempat ini sehingga pasti akan sadar bila ada orang lain selain dirinya. Tapi… tapi…” kuulangi pertanyaan itu didalam hati berkali-kali seperti sedang menghapal sebuah teks drama. Drama yang tragis.

Sambil terus berlari, aku mengeluarkan opini-opini pembangkit semangat yang dengan cepat kupatahkan sesudahnya. Nampaknya aku harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orangtuaku telah meninggal. Akupun tak yakin berapa lama mereka bisa bertahan seperti Andri. Bahkan selama seminggu hidup disini, depresi telah menyambangiku dihari ketiga. Sedikit banyak aku mulai berempati terhadap Andri. Kuharap dia tidak benar-benar serius tadi.

Seakan bisa membaca kegalauanku, kakek memalingkan mukanya ke hadapanku dan tersenyum getir. Dari bahasa tubuhnya aku hampir bisa mendengar dia mengatakan, “Tenang, ya? Masih ada kakek.”

Aku lupa kalau memang seharusnya kakek-lah yang lebih pantas menjadi guide. Anak di cerita Andri tadi pastilah maksudnya kakek. Aku bisa menangkap rasa bersalah di rona wajahnya. Katakanlah, secara tidak langsung kakek yang mengurung Andri. Hatiku sedikit lebih tenang karena satu dan lain hal. Bisa dibilang aku tidak memiliki kenangan yang berarti dengan orangtuaku – yang melihatnya saja tidak pernah – dan tekadku itu hanya letupan hasrat sesaat. Sekarang aku cuma ingin kembali kerumah, menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja dengan kakek dan nenek, melupakan segalanya, serta mensyukuri apapun yang ada. Pengalamanku ditempat ini sudah cukup untuk seumur hidup. Hatiku merindu akan ketenangan jiwa sebelum mengetahui sedikitpun mengenai perkara ini.

“Kita sampai. Ini tempatnya, bersiaplah.”

Kakek menghentikan pergerakannya lantas berdiri tegak memasang kuda-kuda. Didepan kami berbaris para zombi yang sudah menunggu kami dengan ditengahnya ada dua orang yang terlihat berbeda. Dari sikap kakek aku bisa menyimpulkan bilamana mereka adalah orangtua kakek, atau buyutku. Seorang pria tua kurus yang bertatapan dengan kakek semenjak awal, memulai perbincangan dengannya menggunakan bahasa yang tidak dapat kumengerti. Kakek menjawab dengan bahasa yang sama lalu direspon dengan amarah oleh pria itu; kuketahui dari tubuhnya yang bergetar serta gemertak rahangnya yang tegas. Ibu-ibu disebelahnya hanya diam, menampilkan ekspresi terkejut tak percaya.

Tak perlu menjadi seorang ahli sulih bahasa untuk tahu bahwa satu kata yang diteriakkannya keras-keras seusainya adalah kata ‘serang!’ atau semacamnya. Bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busur, para makhluk suruhan itu berlari menuju kami – pasti bukan dengan maksud menyambut seorang kawan lama. Aku langsung membaca situasi kemudian mempersiapkan diri menghadapi pertempuran terakhir ini. Kemana perginya Dennis? Berhasilkan ia, anggaplah, merekrut Andri? Kami membutuhkan setiap pertolongan yang bisa diberikan. Atau jangan-jangan, ia malah terbunuh?

Pesta tetap berlanjut walaupun kekurangan orang. Segala upaya kukerahkan melawan mereka. Percikan api dan suara yang mengundang rasa ngilu terkadang keluar dari senjata yang saling beradu. Area itu ibarat berubah menjadi arena colloseum, dimana nisan-nisan yang mengelilingi desa tersebut berubah menjadi penonton yang menyoraki dua orang gladiator yang sedang dikeroyok oleh segerombolan bandit – layaknya adegan andalan ciri khas film kung-fu – dengan sepasang raja-ratu menonton di kursi VIP dengan tatapan orangtua otoriter yang menghukum anaknya. Mataku sesekali mengerling ke arah kedatangan kami, menanti kehadiran Dennis. Sebab sekarang berbeda. Biasanya kami hanya bertarung untuk mengambil makan kemudian kabur.

Untukku berat, karena aku tidak tahu mengenai cara menyudahinya sebelum didahului oleh terkurasnya stamina. Bagi kakek mungkin pertarungan ini seperti remis dalam pertandingan catur, mengingat status yang hampir sama diantara mereka.

Tiba-tiba para warga desa itu terdiam, lalu serempak jatuh bagaikan mainan yang dicabut stop-kontaknya. Penglihatanku memindai sekitar, mencoba membaca-baca keadaan. Tetapi ekspresi kami semua sama, bimbang. Tidak ada tanda-tanda ini sudah direncanakan oleh siapapun sebelumnya.

“Apalagi sekarang?” tanyaku.

Alam seolah mendengar pertanyaanku dan menyambutnya.

*****

Aku sejatinya senang melihat Rico dan kakek masih selamat, ditambah lagi para zombi telah terkapar disekeliling mereka. Tapi bukankah mereka seharusnya tidak dapat mati? Yah sudahlah, setidaknya itu bagus. Aku lihat mereka berdua sudah bertemu dengan pasutri yang kuceritakan. Sekarang permainan diisi oleh lima pemain, dengan kondisi tiga lawan dua. Sekalipun dua diantara kami bertiga sudah bersimbah darah, keuntungan ada di pihak kami dan itu biasanya menenangkanku.

Sayangnya kali ini tidak.

Bulu kudukku berdiri seperti memperingatkanku akan sebuah kejadian. Aku yakin bahwa sesuatu akan terjadi. Sebuah sensasi aneh yang lebih parah dari kerusakan fisik sehingga mempengaruhi pemikiranku. Pertanyaannya sekarang adalah: Apa?

Aku memperhatikan daun yang gugur disebelahku. Mulanya diam, lalu lambat laun berputar-putar. Kini aku merasakannya. Angin bertiup tak tentu arah menyebabkanku sedikit menggigil. Perubahan itu rupanya juga dirasakan oleh mereka semua. Tiupan kecil itu meningkat secara konstan menjadi halangan yang patut diperhitungkan. Aku mulai menguatkan pondasi kakiku, dan memposisikan lengan kananku melintang didepan dahiku melawan arus angin hanya untuk sekadar berdiri. Jelas ada yang salah.

Benar! Itu dia! Aku harus beritahu mereka. Aku kemudian sadar bahwa sudah tidak dapat berkelahi lagi. Aku terlalu lemah, bahkan untuk berbicara. Suaraku seakan enggan untuk meninggalkan tenggorokanku. Tidak, tidak lagi. Kukumpulkan segenap kekuatan lalu berteriak pada mereka, “Rico! Kakek! Kita harus bergegas! Waktunya tinggal lima menit lagi!”

“Dennis! Kau selamat!” kata Rico sembari menengok kearahku. Ia tersenyum lega.

“Bagaimana dengan Andri?”

Aku menggeleng penuh penyesalan. “Jangan pikirkan dia! Waktu semakin menipis!” Pastinya kematian para zombi menandakan pengaruh mantra sudah melemah.

Awan gelap yang setia menutupi desa ini bergerak menuju satu titik tepat diatas kami. Semuanya berduyun-duyun datang dari pelbagai arah bak domba yang dipandu gembala. Mereka membentuk sebuah pusaran angin raksasa dilangit dengan sebuah lubang hitam yang diramaikan oleh kilatan petir ganas disekitarnya. Persis seperti didalam cerita. Beberapa nisan mulai terangkat dan meninggalkan tempat dimana seharusnya mereka berada. Sedangkan sinar matahari agak memudar seperti pergi lantaran tidak ingin mengganggu euforia yang terjadi. Sebuah pohon kelapa yang sedari tadi bergoyang-goyang gelisah tertiup badai akhirnya tercabut dari singgasananya. Jeleknya, ia tumbang ke arahku.

“Aaaahh!” teriakku sejadi-jadinya. Pohon itu menghimpitku dan kurasa kakiku patah. Rico langsung berlari menghampiri. “Dennis! Kau tidak apa-apa? Bertahanlah! Kek! Hanya kau harapan kami! Hanya kau yang bisa melawan mereka! Lakukanlah! Aku disini menolong Dennis!”

Suara Rico tenggelam ditengah hingar-bingar deru angin. Kakek tidak berkata-kata, namun langsung bertindak. Ia menabrak ayahnya lalu meninjunya di wajah berkali-kali sebelum perlawanan diberikan. Mereka berkelahi dengan sengit seakan terlihat lebih seperti musuh bebuyutan daripada hubungan ayah-anak. Keduanya tampak keras kepala.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mulai menggunakan senjata, yaitu segala yang dapat mereka raih dan gunakan untuk dilempar. Berawal dari kapak, golok, bahkan tubuh zombi yang mendingin itu. Kejadian ekstremnya adalah mereka mencabut pohon kelapa berukuran sedang dengan sebelah tangan serta memainkannya seperti pedang seringan tusuk gigi. Ibu-ibu itu hanya terbujur kaku menyaksikan konflik tersebut. Mungkin kaget, bingung harus membela yang mana sehingga dia memilih untuk diam.

Jamku menunjukkan saatnya untuk khawatir. Tinggal 15 detik lagi.

Aku benar-benar panik. Kakek harus cepat-cepat membunuhnya, jika ia tidak ingin kejadian ini membunuh kita semua. Empat detik telah berlalu, belum ada tanda-tanda perkelahian akan berakhir ditangan kakek. Sepuluh detik terakhir, telingaku serasa tuli. Kebisingan yang sedari tadi melanda sekejap hilang dari pikiranku, digantikan oleh suara detak jantungku yang teramat keras lagi jelas. Denyutnya berdetak pelan mengikuti alur kecepatan detik seolah membantuku menghitung mundur kehancuran kami.

Lanskap didepanku seperti berubah menjadi slow-motion dengan tidak adanya kemungkinan bahwa adegan kekerasan itu akan berakhir dalam waktu dekat. Mereka imbang.

Tiga detik sebelum tombol reset ditekan, menelan ludah pun merupakan pekerjaan yang berat bagiku. Tiba-tiba sebuah pisau dapur besar dengan kecepatan mengagumkan melesat dan menembus dada ayahnya kakek dari belakang. Yang lebih mengejutkan lagi adalah karena itu dilakukan oleh istrinya. Nampaknya dia mengambil sebuah risiko dari tindakan yang mungkin belum dipahami sepenuhnya. Alis beserta bibirnya membentuk ekspresi bersalah, tapi yakin telah melakukan sesuatu yang terbaik. Pria tua itu mengerang keras sebelum jatuh ke tanah. Jarum detik di jam tanganku berhenti tepat satu detik sebelum batas waktu. Kelihatannya medan listrik yang terlampau kuat disini telah mengacaukannya. Sekarang apa? Bolehkah aku tersenyum demi merayakan kemenangan?

Untuk beberapa saat lamanya, badai mereda sehingga terbitlah senyum di wajahku dan Rico saat kami secara kompak bertatapan. Parahnya, ungkapan ‘permainan belum berakhir hingga peluit berbunyi’ membuktikan kebenarannya. Bagaikan sengaja mempermainkan kami, lubang yang mengecil di angkasa itu sekarang kembali membesar dua kali lipat dari semula. Angin yang sempat berhenti kini bertiup lebih kencang. Tapi… tunggu! Ada satu komponen yang kurasakan berbeda. Kurasa Rico juga merasakannya.

Sesuatu yang diluar rencana telah terjadi. Is it the worst case scenario?

*****
®

Aku tadinya merasa yakin segalanya telah usai.

Dennis bilang padaku bahwa pisau itu menembus dadanya pada pukul 23:59:59. Yang artinya jika selama ini dia tidak pernah salah, kekacauan ini seharusnya berhenti. Tapi mengapa tidak? Hanya ada satu penjelasan. Antara kesalahan hitung atau kesalahan tafsir, yang pasti proses penetralan ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sejujurnya melakukan semua ini menurutku cukup gambling, mengingat tidak ada jaminan apa yang telah kami anggap benar itu memang benar. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mempasrahkan diriku. Bila hidupku harus berakhir seperti ini, setidaknya kami sudah berusaha sekuat kami.

Alam kembali memainkan konsernya.

Semua yang tadi sempat terjadi – angin ribut, badai, petir, melayangnya benda-benda disekitar, serta lubang hitam – kemudian agak mereda, kembali terjadi dengan kekuatan yang masing-masing dilipatgandakan. Malahan sekarang terbentuk sebuah puting beliung raksasa yang bermuara dilubang hitam itu, yang bisa dikatakan sebagai penyempurna mekanisme penghancuran diri. Disaat inilah aku mulai merasakan keanehan yang ternyata juga dirasakan oleh Dennis. Ada yang kurang. Alih-alih menakutkanku, gejala-gejala mengerikan ini tidak sedikitpun meningkatkan ritme detak jantungku. Pertanyaan tersebut terjawab ketika puting beliung mulai mengangkat pohon yang menindih Dennis.

Semua ini tidak lagi berdampak pada kita. Berbagai pemandangan yang ada, ibarat hanya dihasilkan oleh sebuah proyektor film 4D besar dengan special effect yang dirancang sedemikian rupa, sehingga menampilkan realitas yang luar biasa. Pakaian kami memang berkibar dan kami masih merasakan dahsyatnya angin itu, namun selebihnya tidak ada pengaruh apapun lagi. Kami tidak tersedot kedalam puting beliung. Itu yang penting. Senyum yang sempat hilang itu kini kembali disertai kelegaan dan kegembiraan yang amat sangat. Kami telah berhasil menghapus mantra itu tepat pada waktunya. Aku mengepalkan tangan ke arah Dennis tanda kemenangan yang ia sambut dengan melakukan hal yang sama. Selain kami, semuanya terhisap ke dalam puting beliung lalu ke lubang hitam bagaikan melihat pengurus rumah tangga membersihkan debu menggunakan vacum cleaner.

“Ohya, dimana kakek? Kau lihat?” tanya Dennis yang langsung membekukan bibirku.

Kepalaku menoleh ke kanan-kiri mencari-carinya. Untung tidak lama sebelum inderaku menangkap kehadirannya. Ia berdiri tegak agak jauh didepanku, tersenyum sambil melambaikan tangan. Tak pelak, aku berlari ke arahnya dengan perasaan gembira yang meluap. Keinginanku untuk menjalani hari-hari yang damai bersama kakek dan nenek tanpa lagi dilingkupi oleh rasa penasaran tentang orangtuaku tercapai sudah. Aku akan menghabiskan sisa hidupku mengabdi kepada mereka berdua, membuat mereka bahagia karena tidak ada lagi yang dapat kulakukan untuk mereka.

Namun sebelum aku menghampirinya, aku berhenti. Kakek mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan telapaknya padaku. Posenya seperti sedang menghentikanku. Apakah dia tidak ingin aku mendekat? Ada apa?

“Kakek? Kenapa, Kek?” tanyaku yang hanya dibalas senyuman.

Perubahan pada tubuh kakek membuatku terperanjat. Ia mengeluarkan sinar. Sekujur tubuhnya kini perlahan-lahan melayang dengan anggun tidak seperti benda lainnya yang bergerak secara liar oleh angin tersebut. Aku masih tidak dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ini tidak ada didalam buku maupun cerita. Mungkinkah ada bagian yang terlewatkan? Hanya ekspresi kebimbangan yang kutampilkan.

“Rico cucuku… Jangan kaget.” Dia sekali lagi tersenyum lebar dengan maksud untuk menenangkanku. “Tidakkah kau ingat buku itu mengatakan bahwa, ‘Semua yang berhubungan langsung dengan mantra itu tidak selamat’? Kakek berhubungan langsung. Kakek ada ditempat ini ketika mantra itu dilemparkan oleh ayah kakek. Jadi suka tidak suka, kakek akan terseret nantinya.” Ujarnya sembari menatapku untuk yang terakhir kali.

“Kek.. tapi.. tapi.. pasti ada pengecualian, kan? Ti-tidak mungkin, pasti ada cara lain kan? Kakek bilang saja, nanti akan ku– “

“Tidak ada yang bisa kau perbuat, cucuku sayang. Tidak ada.”

“Tapi… aku sudah merencanakan untuk tinggal bersama kakek dan nenek! Menghabiskan masa mudaku menjadi pelayan atas kebahagiaan kalian! A-aku… aku mau membalas budi kalian berdua, khususnya kau, Kek… Aku ingin mengulang kembali perasaan masa-masa kecilku, dimana kita bersenang-senang saat kau mengajakku keliling sawah tanpa beban, tanpa masalah. Sedikitpun aku tidak akan rela kau pergi, Kek! Tolong, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku dan nenek, Kek!”

Kakek sudah tidak lagi menjawab. Ia hanya tersenyum sembari menangis. Dorongan keras dari angin pada saat itupun bahkan tidak mampu menyapu air mataku yang mengalir deras. Air mata seorang anak desa sebatang kara yang harus kehilangan satu dari dua orang paling berharga dalam hidupnya. Satu dari dua orang anggota keluarga terakhir yang pernah ia ketahui.

Tubuh kakek terus melayang ke atas dan pada titik tertentu, ia berhenti melayang. Sinar yang dipancarkannya semakin kuat dan terang sehingga membuatku tidak dapat lagi membedakan aksesoris mukanya. Sejenak kemudian tubuhnya terpecah menjadi partikel-partikel kecil bagai kunang-kunang yang terbang dengan tenang melewati badai menuju pusat lubang hitam. Saat butiran partikel terakhir memasuki lubang hitam tersebut, kilatan petir yang menyambar semakin banyak dan akhirnya menimbulkan suatu cahaya membutakan disertai dentuman keras hingga membuatku lumayan terpelanting ke belakang.

Namun seketika hening. Sunyi senyap. Tak terdengar sedikitpun suara. Kala mataku sudah kembali bisa melihat, semua pusaran angin, lubang hitam, petir, puting beliung, dan yang menandakan bekas-bekas keberadaan desa tersebut hilang sama sekali. Kami kembali berada dihutan; yang tadinya portal untuk memasuki desa.

Tetesan air hujan mulai turun dari langit membasahi ragaku seakan prihatin atas kerapuhan jiwaku. Aku tentu masih akan terdiam dalam depresiku jika aku tidak dikagetkan oleh teriakan Dennis. “Rico! Lihat ke atas! Ada sesuatu yang melayang diatas sana!”

Teriakan itu direspon olehku dengan dongakan kepala.

Aku memang melihat sesuatu.

*****
®

Itu sebuah kertas. Entah darimana datangnya. Gerimis telah membuatnya jatuh tidak terlalu jauh dari raihan tanganku. Tanganku langsung menggapai-gapainya tak sabar. Tanpa melihatnya terlebih dahulu, aku menangkap kertas itu dan membopong Dennis untuk berteduh dibawah pohon agar basahnya kertas itu tidak semakin parah hingga rusak dan sulit dibaca.

Surat itu dari kakek.

Tanpa ragu dan banyak tanya aku langsung membacanya.

“Untuk cucuku tersayang, Rico Mangunpraja.

Beberapa hari lalu kakek mendengar ada tamu yang menyebabkanmu teringat kembali akan cerita kakek empat tahun silam. Maka, kakek memutuskan untuk ikut mendampingimu karena kakek ikut bertanggung jawab akan hal ini.

Sesampainya didesa ini, melihat kembali kampung kakek setelah sekian tahun lamanya, entah kenapa membuat kakek berpikir bahwa disinilah kakek berasal dan disinilah kakek akan berakhir. Kalau surat ini sampai ditanganmu dan kau baca, berarti perasaan kakek itu benar.

Kakek menulis surat ini ditengah persembunyian yang berpindah-pindah. Ditempat itupun kakek selalu mengawasimu, cucu kakek satu-satunya yang ternyata sudah beranjak dewasa. Kadang kakek teringat bagaimana kita saat kau kecil, bertiga dengan nenek, berjalan-jalan dan bersenang-senang tanpa beban dipematang sawah. Kakek bahkan masih ingat tawa riangmu saat kita berkejaran disana, sebelum akhirnya kau harus pergi meninggalkan kakek dan nenek sendirian dirumah kita. Tapi kami paham, kau merantau demi kebaikanmu sendiri. Dan apa yang baik buatmu, baik buat kami juga.

Semakin lama kakek berada disini, semakin kakek menyadari bahwa tidak banyak yang telah kakek berikan padamu. Yang ada malah perasaan bersalah kakek, ketika empat tahun lalu kau menangis waktu kakek harus menceritakan kebohongan kakek selama ini dan ketika melihat matamu yang berkilat-kilat saat mengetahui kemungkinan selamatnya orangtuamu. Kakek pikir lumrah kau begitu, sebab setiap anak memang harus tumbuh bersama orangtuanya, sedangkan kau tidak. Kau anak yang kuat, kakek tahu itu. Hingga kakek memutuskan untuk memberikan segalanya termasuk hidup kakek demi menyelamatkanmu. Lagipula, kakek sudah hidup terlalu lama. Kakek pun tidak akan sanggup bila harus hidup lebih lama menyaksikan orang-orang yang kakek sayang menua lalu mati meninggalkan kakek sendiri.

Sebenarnya kakek tidak ingin surat ini sampai dibaca olehmu.
Tapi bila ya… Maafkan kakek dan jaga nenek, ya?

Sungguh kakek masih ingin duduk disisi tempat tidurmu, mengelus rambutmu, menyaksikan engkau tersenyum terbuai di alam mimpi seperti dulu. Fufu… namun kelihatannya tidak akan terjadi, kan? Kakek menyesali hal itu, tapi tetap yakin inilah yang terbaik.

Rico cucuku… boleh kakek minta untuk kamu tidak melupakan kakek? Sebab air mata yang kini menggenang di mata kakek, yang hanya tinggal menunggu waktu untuk jatuh bercucuran mengotori kertas ini, adalah tanda kakek tidak akan pernah melupakanmu dan nenek. Harta kakek yang paling berharga. Nak, jadilah orang yang berguna dan membanggakan nenekmu sepeninggal kakek.

Mungkin… tidak banyak yang dapat kakek sampaikan disaat-saat terakhir kakek melihatmu. Mungkin kakek hanya bisa tersenyum pahit ketika bola mata kakek memandangmu dan memutar ulang kembali semua masa-masa bahagia kita bertiga. Kakek hanya berharap kau paham jika ini yang terbaik untuk kita.

Kakek pergi dulu, ya? Maaf kalau nanti kakek tidak bisa kembali untuk memelukmu.

Kakek sayang kamu.

Dari Kakek.


Aku tidak dapat berkata apa-apa. Bibirku bergetar dan tanganku berguncang hebat. Jangan ditanya masalah air mata. Ia sudah mengalir deras tanpa henti sejak membaca paragaraf kedua, membasahi surat tersebut lebih parah dari yang diakibatkan hujan. Aku tidak tahu harus apa sekarang. Aku hanya berharap seseorang menamparku dan membangunkanku dari mimpi buruk ini. Bangun, melihat kakek dan nenek menyambutku seperti yang biasa mereka lakukan tiap pagi dirumah. Menjalani kehidupan normal bersama dua orang yang begitu berarti dalam hidupku, itulah keinginanku. Seberapa sulitkah itu untuk dikabulkan? Memangnya salahku apa? Bila aku tak cepat disadarkan oleh tatapan Dennis yang mengiba melihatku, mungkin aku akan mulai menyalahkan Tuhan.

Pandanganku gelap. Hitam. Aku tidak melihat apapun lagi.

*****

Dari sikap Rico saat membaca kertas itu aku bisa tahu kalau itu dari kakeknya.

Hiasan langit yang berhamburan seolah hadir menemani kegundahan Rico. Kesedihan yang kurasakan lantaran menemui Andri telah berkhianat, tidak seberapa dibanding kesedihan yang ia rasakan. Tidak hanya harus menghadapi kenyataan orangtuanya telah meninggal, kakeknya pun tiada. Aku tidak ingin mengusiknya dulu.

Ia butuh waktu untuk sendiri.

Saat ia akhirnya pingsan, awalnya aku cukup kaget mengenai apa yang terjadi padanya. Lalu kemudian aku merasa wajar. Aku yakin ia sangat kelelahan, baik fisik maupun mental. Karena kakiku patah, aku tidak bisa membawanya sendiri pulang. Hanya menunggu pagi hingga ada seseorang yang lewat. Dari kejauhan aku mendengar suara petasan tanda merayakan datangnya tahun dan millenium baru. Bagiku dan Rico, sungguh cara yang menyayat hati menyambutnya.

Ikatan yang kuat antara Rico dengan kakeknya membuatku malu. Teringat bahwa aku tidak begitu dekat dengan orangtuaku, sebuah hal yang ternyata begitu pantas untuk kusyukuri. Sama halnya dengan Andri, kini aku paham mengapa aku begitu getol mencarinya. Sejak kecil aku begitu tertutup, sering menyibukkan diri tanpa peduli lingkungan luar sehingga tidak banyak yang mau berteman denganku. Tumbuh dewasa, sifatku tidak berubah dan diperparah dengan hilangnya Andri. Aku jadi begitu menggilai pekerjaan. Setidaknya hingga sekarang. Aku akan berubah. Dari Rico aku mempelajari sesuatu yang sangat berharga.

Bahwasanya ada sebuah kata yang begitu berarti didunia ini.

Yang mana ia lebih luas dari langit,

Lebih dalam dari samudra, serta lebih rumit dari fisika.

Terkadang ia bisa lebih kuat dari baja, namun terkadang lebih rapuh dari embun pagi.

Itulah persahabatan.

Dan satu hal yang lebih sulit dibanding mengikatnya,

Adalah mempertahankannya.

Persahabatan. Sungguh perasaan yang manis.

Kini aku tidak sendirian lagi…

-----------------------------------------------------------------------------

THE END

The End of Chapter Three, Final Chapter – “The Eternal Path”.

But the start of a new life…

Created by: Amadeo D. Basfiansa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar