Siang ini, panasnya Jakarta hampir tidak bisa kutoleransi. Gelombang panas yang dipancarkannya seakan membuat burung-burungpun enggan mengembangkan sayapnya. Sebagian dari penduduk Kota Metropolitan ini sedang berada di ruangan ber-AC dalam keadaan tidur, atau mungkin bersantai. Sebagian lagi berada di dalam mobil mewah mereka yang rasa panasnya telah tertiup oleh pendingin yang menyejukkan. Sebagian yang lain, ya seperti aku ini. Berdesak-desakan di dalam angkutan umum, berdiri, merasakan tiga kali lipatnya rasa lelah. Ditambah lagi hawa panas yang bahkan mungkin bisa membuat orang Arab-pun melepas baju.
Untungnya, pengembaraanku di Jakarta berakhir sudah. Aku adalah satu dari sekian banyak orang yang beritikad baik untuk menimba nasib di kota ini. Namun aku juga adalah satu di antara mereka yang gagal peruntungannya. Tidak menutup kemungkinan itu dikarenakan asalku yang dari desa dan ijasahku yang bernilai kurang.
Oh ya, di map lusuh nan kusam berwarna merah tua yang telah menjadi teman seperjalananku selama empat tahun terakhir tertera nama Rico Mangunpraja. Nama yang telah melekat pada diriku selama 26 tahun. Agak sedikit aneh memang hubungannya antara kata pertama dengan yang kedua, tapi biarlah. Terkadang orangtuaku memang ingin merasakan hidup sebagai orang kaya. Setidaknya itu dimulai dengan memberi nama anak mereka nama yang tidak biasa. Sekalipun “Mangunpraja”-nya masih belum rela ditinggalkan.
Terkadang aku terkekeh sendiri memikirkannya. Tentang betapa lugunya orang desa yang berpikir bahwa sebuah nama bisa sebegitu besar pengaruhnya terhadap nasib seseorang. Walaupun terkadang keluguan itu bisa meninggalkan bekas berupa kerinduan yang dalam.
Begitu dalam sehingga bisa merubah tawa, menjadi duka.
*****
Perjalanan pulang menuju kampung halamanku di Yogyakarta, terasa lebih lama dari seharusnya. Maklum, naik-turun, gonta-ganti angkutan umum dengan pemandangan yang relatif sama membuat orang termalas-pun, bisa bosan juga. Sekalinya dalam setiap angkutan umum itu aku melihat mimik yang berbeda-beda. Banyak. Ada yang terlihat jelas sedang senang, mungkin karena dinanti keluarganya di kampung. Suasana kekeluargaan yang sedikit demi sedikit terkikis dan punah di kota. Ada yang terlihat bosan dan khawatir. Namun ada satu pemandangan yang paling malas kulihat, bila ada orang tua. Entah itu seorang kakek, atau nenek. Apalagi kalau dua-duanya. Sebab,-.
“Kebumen! Kebumen! Yang mau turun di Kebumen! Sudah sampaaai!”
Suara kenek itu memutus memoriku. Baguslah. Memang seharusnya itu tidak kuingat. Aku sering menangis sendiri karenanya. Sebuah tragedi biasa yang tidak biasa alasannya. Itu yang menyebabkanku belum bisa menerima hingga sekarang. Beberapa orang turun. Aku tidak. Akhirnya aku dapat tempat duduk setelah berdiri selama kurang lebih tujuh angkutan umum selama tiga hari. Kucoba untuk tidur demi mempersingkat waktu.
Bis yang lowong ini, dengan angin alam yang berhembus menerpa pipiku benar-benar meninabobokanku, setidaknya sehingga seseorang berkata:
“Bangun! Bangun! Bangun! Sudah sampai, dek. Kamu mau turun disini, kan?”
“Oh, iya! M-Makasih ya, pak!”. Suara yang pertama samar-samar terdengar kemudian semakin jelas di telingaku. Untung kenek ini tahu tujuanku, kalau tadi masih tidur, gawat.
Aku melangkah menuju pintu keluar bis ini sambil tertunduk. Jadi nanti efek dramatisnya saat kepalaku diangkat, kelihatan. Sudah lama rasanya sejak dulu meninggalkan tempat ini. Kota kecil ini namanya Kasihan. Jangan kaget karena memang begitu adanya. Di sekitar Yogya ini ada banyak kota kecil lain yang namanya aneh, seperti Sedan, Terong, Panggang, dan Pajangan.
Setelah menginjakkan kaki di ranah itu, kuangkat kepalaku.
Indah. Benar-benar indah.
Kedamaian yang sangat langka dan elok. Pemandangan seperti ini, di kota, hanyalah ada di lukisan-lukisan mahal. Sekarang aku tahu mengapa dihargai mahal. Bukan hanya karena teknik dan kelihaian pelukisnya, tapi juga karena yang dilukisnya mungkin adalah penampakan yang laksana mimpi bagi mereka yang melihatnya. Penampakan yang seolah-olah hanya lukisan yang mampu menampilkannya.
Daya tarik tempat yang sunyi, bulan perak, dan kemegahan bintang-bintang... Surga tempat para pengembara menyaksikan keagungan terbit dan tenggelamnya matahari di alam bebas, tak terpengaruh manusia, hanya diganti dengan berlalunya waktu yang abadi. Secara tak sadar, kata-kata itu terucap di hatiku, melihat keindahan tempat yang teramat.
Kini aku sudah sampai di depan rumahku yang juga merupakan rumah orangtuaku, dan rumah kakek-nenekku. Kami memang keluarga yang kurang beruntung. Itulah tujuanku pergi ke Jakarta. Tapi aku pulang karena kurasa ilmu yang kumiliki akan lebih berguna disini.
*****
Di depan mataku ada dia. Sosok orang yang paling ingin kutemui sekarang melebihi siapapun. Bukan pacar, tapi seorang kakek yang telah mengisi ruang kosong ingatanku semenjak kecil.
Kudekati ia dengan setengah berlari, lalu kupacu langkahku karena tidak sabar lagi untuk menjalani kehidupan dulu, yang diidam-idamkan penduduk kota sekarang. Semakin dekat aku semakin sadar bahwa ia tidak hanya sekadar duduk. Ia sedang membuka sebuah peti. Peti yang bagiku terlihat seperti yang ada di film-film bajak laut. Berwarna kecoklatan, dengan tutup berbentuk setengah tabung.
“Kek! Aku pulang!”, teriakku dengan nada gembira.
“Rico! Itu kamu, nak?”. Sahutnya dengan suaranya yang khas kakek-kakek. Kami berpelukan agak lama untuk melepas rindu, dan setelah kuceritakan dengan singkat bahwa aku tidak bisa mencari pekerjaan di Jakarta, aku mengalihkan topik pada peti yang sedari tadi mengusik perhatianku. Ada ukiran kasar yang bertuliskan V.S. “Peti apa itu Kek?”, tanyaku. “Ini? Peti ini...Ah, mungkin memang sudah saatnya kamu tahu. Peti ini menyimpan sesuatu yang telah kamu cari selama bertahun-tahun. Ia ____”
“Rico! Kamu sudah pulang, Nak? Ya Allah, kenapa masih disini? Masuklah nak, kamu terlihat kelelahan. Biar Nenek buatkan minuman. Nanti saja kamu lanjutkan bicara dengan kakekmu. Nenek ‘kan juga kangen, Nak.”. Begitulah Nenekku, ternyata ia masih suka menimpali dan memotong pembicaraan orang lain kalau ia ingin bicara. Tapi ada benarnya juga, sih. Ini sudah hampir maghrib dan hanya Aqua gelas yang mendatangi mulutku sejak pagi.
*****
Makan malam kali ini aku tertawa seperti orang yang belum pernah tertawa.
Aku menceritakan pengalamanku selama empat tahun berada di Jakarta. Ketika pertama kali datang dan nyasar, ketika pertama kali salah masuk kamar kos, hingga ketika pertama kali ditendang keluar saat melamar bekerja sebagai sales alat rumah tangga di perusahaan otomotif. Karena pertama kali, kukira otomotif itu oto-nya berarti otomatis dan motif-nya berarti yang banyak motifnya, ya, alat rumah tangga. Kami bertiga tertawa bahagia melepas rindu. Bagi kami, empat tahun tidak bertemu itu saat yang sangat lama. Terlebih karena kami bertiga memang sangat dekat sejak aku masih kecil. Mereka berdua yang merawatku. Sepiring nasi yang hanya ditiban tahu, tempe, dan sambal itu pun terasa seperti masakan restoran bintang lima.
Singkatnya, setelah selesai makan malam dan shalat Isya, rasa penasaran mulai kembali datang menggerayangiku mengenai peti tadi. Kupanggil lagi kakekku untuk menceritakan apa yang tidak sempat ia katakan tadi.
“Kek, petinya mana? Tadi kakek mau cerita apa?”, tanyaku.
“Petinya ada di samping rumah. Ambillah. Dan coba kau buka sendiri di kamarmu.”.
“Terus, yang mau kakek ceritakan tadi....”.
“Sudahlah, ambil dan buka saja. Anak sepandai kau pasti mengerti.”
“Ya sudah”, pikirku.
Namun ada yang aneh. Perilaku kakek seperti orang yang tidak sanggup mengatakan sesuatu, tapi panik, sehingga gaya bicaranya tadi seperti sedang marah. Jalanku kupelan-pelankan. Rasanya seperti akan mendapatkan sebuah hadiah ulang tahun yang luar biasa. Kupingit-pingit perasaan penasaranku. Itu dia. Kuangkat peti disamping rumahku itu. Lumayan berat. Sesampainya di kamar, kupandangi peti itu. Peti yang katanya memuat yang kucari selama bertahun-tahun. Memangnya apa? Aku sendiri tidak terlalu sadar tentang apa yang kucari. Dan inisial apa ini? V.S.? Pembuatnya tampaknya membuatnya dengan golok atau pisau. Pasti dengan keadaan terpaksa. Karena bila ia tidak terburu-buru, peti bagus seperti ini – yang bahkan cukup mahal dibeli jaman sekarang – tidak akan diberi tanda sekasar ini.
Tanganku kaku. Seakan ia menolak untuk membukanya. Atau, peti itu yang menolaknya?
Kupalingkan mukaku daripadanya. Aku memutuskan untuk tidur saja. Aku baru sadar akhir-akhir ini kurang tidur dan mungkin sekarang saat yang tepat untuk balas dendam. Meskipun, alasan sebenarnya adalah; terkadang hal-hal yang indah di dunia ini hanya dilindungi oleh selapis tipis membran rapuh yang melindunginya dari hilangnya keindahan itu.
Ia adalah kebohongan, ketidaktahuan, dan ketidaksadaran. Bukan jarang dalam kehidupanku aku menemukan yang tadinya kuanggap keindahan, runtuh seketika hanya karena aku tahu. Seperti ketika aku mudah menemukan banyak teman saat pertama kali merantau, ternyata semata-mata karena mereka ingin memanfaatkanku. Kuketahui itu tanpa sengaja. Andaipun ku tak tahu, sebenarnya tidak ada masalah dengan pertemanan tersebut. Mereka hanya menyuruh yang ringan-ringan saja, tapi aku tidak suka yang seperti itu.
Kuhempaskan badanku ke atas kasur setelah meminta ijin pada mereka berdua untuk tidur lebih awal. Buru-buru kupejamkan mata agar tidak lagi terpikir mengenai peti berinisial V.S. tersebut.
Ternyata tidak mudah. Tidak semudah dan secepat itu.
*****
Aku bermimpi buruk.
Aku berada di sebuah kebun luas yang kosong di malam hari. Tanpa lampu, dan pencahayaan sedikitpun. Pohon palem mengelilingiku di radius sekitar 200 meter. Di atas terlihat awan yang berbentuk pusaran angin dan bergerak berputar. Angin yang kencang mulai menghembusku dari belakang. Di tengah keheningan yang dicampur suara angin dan gesekan daun itu, aku mendengar suara.
“BUKA! BUKA! BUKA!”.
Suara yang berat dan menggelegar sontak membuatku terperanjat. Di mimpi itu aku merasakannya mulai asli, sekujur tubuhku terasa kaku setelah mendengar bentakan keras tersebut. Bentakan yang antara satu kata dengan yang lainnya tidak terlalu dekat, namun juga tidak terlalu jauh. Angin dan pohon-pohon yang ada disitu seakan mendukung angkernya suara yang bergema tadi dengan goyangan mereka yang serasa mau roboh.
“B-Buka apa? Apa yang harus kubuka?”. Tidak ada balasan. Sejenak kemudian aku melihat dua sosok yang sangat kukenal, hanya bayangannya saja, kuingin sebutkan tapi entah kenapa mulutku kelu. Dari kejauhan mereka juga memerintahkanku untuk membuka sesuatu. Suaranya tidak sekeras suara gaib tadi, jauh lebih halus, namun justru terkesan lebih menyeramkan. Kemudian hilang. Kucoba untuk berlari mengejar bayangan tadi, namun tak mampu.
Kugerakkan tubuh dan kepalaku ke kanan-kiri dengan waspada. Tiba-tiba muncul sosok lain. Bukan bayangan. Kali ini sekujur tubuh penuh seseorang, yang tidak atau belum kukenal. Ia berdiri tegak dibelakangku agak jauh, dengan tangan terlipat di depan dada, dan pandangan yang tajam ke arahku. Tanpa suara ia berlari kencang ke arahku. Ke arahku yang masih terbujur kaku karena bingung dengan pandangan mata mengintimidasi itu. Ia berlari semakin dekat, kemudian _____.
“Hah! Hhh...hhh...hhh...”, napasku tersengal-sengal setelah terbangun dari mimpiku. Kupegang bajuku. Basah. Aku sangat berkeringat.
Kuambil posisi duduk dan kulihat sekarang baru pukul 1:30 malam. Tidak ada cahaya dari lampu telop milik nenekku yang artinya mereka berdua sudah tidur. Dalam keadaan masih pusing dan bingung, pandanganku menyapu seisi kamar itu dan berhenti pada satu titik. Peti coklat. Peti tua itu. “Apa ini yang disuruh untuk dibuka tadi? Seberapa pentingnya sih? Ini Cuma peti biasa, kan?”, kukatakan itu di dalam hati untuk menghibur diriku yang sebenarnya sedang ketakutan setengah mati. Kuberanikan diri untuk sekali lagi mendekati dan mencoba membukanya. Angin malam yang menyelinap masuk seperti datang untuk menemani diriku.
Akhirnya kubuka. Perlahan-lahan namun pasti.
*****
Ternyata isinya tidak se-menyeramkan kesan untuk membukanya. Ada foto, beberapa pakaian lama yang robek, peralatan penelitian yang telah usang, dan buku. Sekarang ketakutanku berubah menjadi kebingungan. Aku tidak mengerti maksud kakek memberikanku ini. Kuterawang penglihatanku ke arah luar jendela kamarku sambil berpikir. Ditengah-tengah konsentrasiku aku mulai menyadari sesuatu. Empat tahun tinggal di Jakarta tidak hanya membuatku lupa akan keanggunan alam desa ini. Tapi juga membuatku lupa akan betapa sunyi dan heningnya tempat ini bila malam
menghampiri.
Kuperhatikan bulan purnama yang menjadi satu-satunya alat penerangan di desa ini.
Sawah dan kebun yang membatasi antara satu rumah dengan yang lain membuat jarak antaranya bisa mencapai 1 Km. Tanpa disadari, angin yang perlahan-lahan menyambangi kamarku ini mulai memaksaku untuk menaruh tanganku bersilangan dengan tangan yang lain, memaksaku untuk melipat kakiku, namun juga memaksaku untuk keluar. Aku berjalan dengan sedikit berjingkrak agar tidak membangunkan mereka yang sedang tidur.
Diluar ternyata suasananya lebih mengerikan.
Kosongnya ladang membuat lolongan anjing hutan bergema sehingga terdengar seperti serigala yang haus darah. Tiupan kencang dari angin membuat daun-daun bergesek kompak dan terdengar layaknya penyelundup yang bersembunyi di balik semak-semak. Suara kepakan sayap burung-burung yang terkesan panik dari balik pohon bak mengisyaratkan bahaya. Kulangkahkan kakiku menuju belakang rumah. Ranting pohon yang entah datang dari mana menjadikan langkahku berisik dan membuatku takut sendiri. Dibelakang rumah kulihat ada yang sedang berdiri tegak melawan angin. Itu kakek! Tapi berdirinya begitu tegak, tidak selayaknya orang berumur 9/10 abad.
“Sudah kau buka?”, tanyanya dengan moda suara seperti orang yang lebih muda 60 tahun.
“Sudah, tapi aku bingung. Apa yang ingin kakek sampaikan?”
Kemudian ia memandangku dengan pandangan yang tegas, namun ramah. Ia tidak pernah terlihat seserius ini bahkan ketika ia marah. Kemudian ia berkata, “Biar kuceritakan saja. Jadi begini. Dulu, setelah ibumu melahirkanmu, orang tuamu berniat untuk pindah ke desa lain. Keputusan mereka bagi kakek terlalu terburu-buru. Mereka berangkat saat bulan purnama, seperti malam ini. Mereka bilang mereka sudah tahu yang mereka juju, tapi kakek tahu mereka bohong. Tidak ada gunanya menahan mereka karena mereka berdua memang keras kepala. Sehingga, malam itu, sembari menggendongmu, ayahmu membawa pakaian kalian dan berjalan bersama ibumu. Esoknya, kakek berusaha mencari kalian tapi setelah kakek melewati hutan yang kalian lewati kemarin malamnya, kakek kaget. Separuh hutan hilang, yang tersisa hanya cekungan besar. Kelihatannya seperti ada yang mengangkat bagian hutan itu ke suatu tempat. Kakek sudah mencoba bertanya ke semua orang tapi tidak ada satupun yang mengetahui. Kemudian pada purnama berikutnya, kakek mencoba mengikuti arah perjalanan kalian waktu itu. Saat sampai di hutan itu, ada kabut tebal yang menghalangi pandangan. Dibalik tabir kabut itu, ada seseorang. Ia orang Belanda. Ia, dengan pakaiannya yang compang camping, berjalan sambil menyeret peti di kamarmu dan menggendongmu yang sedang tertidur. Perawakannya tinggi, namun kurus. Tampaknya sudah lama ia tidak makan. Kakek langsung menyuruhnya untuk pulang ke rumah kita, ia tidak berbicara apapun. Lalu ___”
“Tunggu dulu, kek! Berarti maksud kakek orang tuaku tidak meninggal karena penyakit? Tetapi hilang di hutan konyol itu?”, seruku dengan nada marah. Sambil tertunduk lesu, karena sudah berbohong padaku selama ini ia menjawab, “Ya...” Aku langsung berlari ke arah hutan yang ditunjuk oleh kakek tadi. Ia berusaha untuk menahanku tapi aku tidak mau dengar. Air mata yang tanpa kuperintahkan mengalir deras menuju pipiku. Sekalipun kecil, tapi kemungkinan orangtuaku masih hidup, ada.
Orangtua adalah harta paling berharga bagi seorang anak, begitu pula sebaliknya. Perjuangan dan peran mereka untuk menumbuhkan seorang anak tidak tergantikan bagaikan sidik jari yang berbeda di tiap jari.
Aku kalap. Pandanganku serasa menyempit. Aku berlari nyaris tak tentu arah. Menuju hutan tersebut pastinya. Lalu.....
“............................................
.....................................................
..............................................................”
Kumulai sadarkan diri. Langit-langit rumah yang kukenal lambat laun mulai menemui titik fokusnya di mataku. Aku ingin bergerak tapi tidak bisa.
Di sebelah kananku ada nenek. Ia tertidur. Kepalaku dikompres. Apa yang terjadi? Apa yang kulewati? Perlahan dari pojok ruangan, kakek mulai keluar dari pintu. Aku diam tanpa kata. Entah mau takut, atau tidak percaya. Entah mau jadi pengecut, atau menuntut yang sebenarnya.
Ia menaruh telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkanku untuk tetap diam.
Yang membuatku kaget, ia mengangkatku dari tempat tidur seperti ia mengangkatku 20 tahun lalu. Badannya tegak, langkahnya tegas, dan bicaranya tadi cukup lugas. Tidak sejalan dengan usianya.
Kemudian ia menaruhku di tempat tidur kamarnya. Lalu ia berkata, “Kamu di sini saja. Ada yang mau kakek bicarakan. Hanya kita berdua. Nenekmu tidak pernah dan tidak boleh tahu.”
Jam besar, mungkin peninggalan moyangku, yang berdiri kokoh di antara barang-barang lain yang tidak setinggi ia, tiba-tiba detiknya begitu terdengar. Terasa keras sekali di suasana sesunyi itu. Hatiku tidak bisa menyembunyikan perasaan penasaran mengenai yang terjadi hari ini. Sekalinyapun, hatiku juga tak bisa menyembunyikan perasaan baru bahwa sekarang, aku takut dengan kakek.
*****
“Maafkan kakek ya, Nak?”, katanya lirih.
“Maaf kenapa Kek?” jawabku.
“Kau tahu kenapa kau ada di sini?
Kakek tadi melemparimu dengan batu hingga kau pingsan, Nak”.
Tidak ada kata lain yang terpikir secara spontan olehku pada saat itu kecuali, “Bagaimana bisa, Kek? Bukankah aku sudah berlari jauh?”.
“Bacalah buku yang ada di peti itu. Halaman setelah tanda lipatan. Aku akan menemanimu di sini. Nanti akan kujelaskan semuanya”. “Ba-baik, Kek”. Aku menangkap nada penyesalan dalam gaya bicaranya. Kumaklumi. Memang tadi itu aku agak terburu-buru dan tidak mau mendengar karena terlalu sedih.
Aku mulai membaca:
“Ini adalah hari ketujuh aku berada di tempat persembunyianku ini. Setidaknya begitulah menurut jam tanganku, satu-satunya penunjuk waktu yang sudah mulai usang. Entah sebenarnya berapa lama aku disini. Aku berhasil bertahan hidup karena tempat persembunyian yang kubangun tidak diketahui oleh warga desa. Tidak ada yang tidak logis disini, kecuali fakta bahwa orang itu berhasil memisahkan desa ini dengan waktu yang sebenarnya. Selama seminggu di sini, aku melihatnya. Setelah dibunuh satu per satu oleh keluarga itu, penduduk desa ini kembali bangun pada masa tertentu. Mereka benar-benar telah mengacaukan ruang dan waktu di tempat ini.
Aku meralat tulisanku dulu. Aku baru memperhatikan sesuatu.
Ada satu hal yang aneh. Ketika anak itu dibunuh, semua perhatian langsung mengacu pada kemarahan ayah dan ibunya. Tidak ada yang memperhatikan bahwa anak itu tiba-tiba hilang...”
“Kek? Tolong langsung ceritakan padaku.” Kataku sembari menutup buku tersebut.
“Baiklah...hhhh, Nak. Bukankah tadi diceritakan bahwa ada anak yang dibunuh yang hilang? Itu adalah kakek..”
*****
Lampu minyak yang menerangi kami berdua, merefleksikan cahaya ke dinding yang terbuat dari anyaman. Bayanganku normal, kakek tidak. Dibayangan tersebut tidak kulihat jenggot dan badannya yang membungkuk. Melainkan bayangan pria muda yang cukup proposional. Ketakutanku berhasil mengalahkan kemauanku untuk menginterupsi, bahkan untuk bernapas dengan normal.
Lalu kakek melanjutkan, “Tahun 1883 lalu, tepatnya 112 tahun yang lalu, umur kakek 10tahun. Ada sebuah kejadian pada masa itu, yang bisa kau lihat dihalaman depan buku tadi. Intinya, kakek tidak meninggal seperti yang dikira ayah dan ibu kakek, juga orang Belanda tersebut. Kakek masih dengan sedikit kesadaran merangkak kabur menuju hutan, karena mental kakek pada saat itu, melihat puluhan orang dengan obor di malam hari, dengan pandangan yang kalut dan siap menghilangkan nyawa, masih belum siap.
Lalu ayah kakek mengucapkan mantra itu, yang membuat kakek masih bisa hidup hingga sekarang. Mantra tersebut membuat kakek tidak bisa mati, seperti halnya orangtua kakek. Hanya saja, kakek masih sempat menemukan pintu keluar. Pintu yang kakek kira tidak akan terbuka lagi, sampai akhirnya orang Belanda itu kembali dengan menggendongmu.
Dia, Van Sandick, menceritakan semua yang terjadi di sana, dan kukira sudah tidak ada lagi harapan bagimu untuk menemukan orang tuamu, karena keadaan disana. Tak lama kemudian, kakek berikan buku asli Sandick pada seseorang yang pada waktu itu sempat membantu kakek bertani, namanya Andri. Sebelumnya kakek salinkan pada catatan kakek sendiri, menunggu saat yang tepat bagimu untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kamu kehilangan orang tuamu, karena kakek tahu, kau masih belum bisa menerima alasan kakek dulu.”
Aku menerawang pada sela-sela jendela yang terbuka. Pandanganku kosong. Angin yang berhembus tadi, kini berhenti. Ruangan seluas 9 m2 itu, terasa lembab dan panas karena lampu telop menyala dan membuat bayangan dalam kamar bergoyang-goyang. Aku nyaris tidak percaya. Kalau bukan karena mimpi anehku, keberadaan kakek, dan peti itu, pasti aku sudah menganggap kakek gila.
Perlahan kakek menjauh dariku dan keluar ruangan tersebut. Ia tahu aku butuh waktu untuk sendiri. Kemudian tidak ada pilihan bagiku kecuali tidur. Percuma memikirkannya karena ini sangat larut dan aku kelelahan.
*****
Sekarang tanggal 29 Desember, tahun 1999.
Empat tahun setelah kejadian malam itu.
Aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama.
Aku berkata dalam mimpi itu, “Buka apa? Bukankah sudah kulihat isi peti itu?”
Tidak ada yang menjawab, aku kembali terbangun saat sosok itu berlari ke arahku lagi.
Perasaanku memaksaku untuk mengambil kembali catatan itu dan membacanya.
Keringat mengalir dari dahiku terus turun melewati alis, kemudian pipi dan dagu, kemudian menetes saat kubaca catatan itu. Juga fakta bahwa sebenarnya itu adalah letusan krakatau. Catatan itu akhirnya sudah kubaca semua, dan tidak ada satupun kode atau pesan tersembunyi. Aku sedang memutuskan untuk kembali tidur ketika aku mendengar deruman mobil di depan rumah.
Fisik dan mentalku sudah terlalu lelah untuk berspekulasi. Walaupun sangat aneh ada mobil yang datang malam-malam begini. Terlebih aku tahu kakek tidak punya kenalan di luar desa ini. Gesekan kakiku dengan lantai, yang merupakan semen, menghasilkan bunyi yang meneror. Hampir aku mengira ada yang mengikutiku dari belakang karenanya.
Di depan pintu pelan-pelan kubuka pintunya sambil berkata, “Siapa?”.
“…….! Hei!”, teriakku spontan sambil menutup mata dengan telapak tanganku.
Pengendara mobil tersebut menyalakan lampu depannya ke arahku sebelum ia berdiri di depan rumahku dengan bersedekap. Untuk ukuran rumah dan desa tanpa penerangan selain bulan, cahaya itu benar-benar membutakan.
Saat mataku mulai beradaptasi, aku mulai bisa melihat sosok itu sekalipun hanya dalam bentuk siluet. Ternyata dia! Dialah sosok dalam mimpiku itu. Kukenal bukan karena wajah, tapi pandangan mata yang sangat memendam amarah dan terkesan kesal padaku.
Dengan nada suara yang dingin ia berkata,
“Apakah kamu orang yang memberi buku pada seseorang bernama Andri yang datang ke tempat ini sepuluh tahun lalu?”.
Aku langsung ingat cerita kakekku dan menjawab dengan terbata-bata, “B-bukan. Itu k-kakekku. Tapi aku tahu semuanya. S-siapa kau?”
------------------------------------------------------------*
Namaku Dennis…
Ada yang harus kita bicarakan....
-------------------------------------------------------------*
The End of Chapter Two – “The Meeting and The Revelation of Secret”.
To Be Continued on Chapter Three, Final Chapter – “The Eternal Path”.
Created by: Amadeo D. Basfiansa
Sabtu, 24 Juli 2010
Jumat, 23 Juli 2010
Desa Kabut Misterius I - Memory from The Past
Namaku Dennis. Aku sedang duduk di sebuah kamar, di samping jendela di rumah ibuku, yang terletak di sebuah desa yang belum terlalu dijamah oleh teknologi. Di desa ini penerangan paling mewah adalah lampu minyak. Tidak ada satupun warga yang memiliki lampu bohlam sebab ketersediaan listrik yang kurang memadai. Sehingga bulan purnama yang kupandangi sedari tadi, selain memberikan sedikit penerangan pada para penduduk, juga memberikan efek menyeramkan, karena sinarnya yang mengenai pohon justru merefleksikan bayangan yang mengerikan.
Angin yang berhembus melalui jendela yang terbuka lebar, menyelimuti tubuhku dan membuat rasa dingin menusuk hingga tulang. Suara daun-daun yang bergesek lantaran tertiup angin terdengar bak sedang merintih. Mencekam. Lolongan anjing liar yang terdengar dari kejauhan seakan memecah lamunanku dan tiba-tiba menggali kembali sebuah kenangan di masa laluku yang telah kukubur dalam-dalam. Perlahan namun pasti, serpihan-serpihan kenangan itu tersusun kembali. Semakin diingat, semakin jelas gambaran kenangan itu dibenakku.
Peristiwa ini terjadi sekitar 10 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1989, saat aku dan teman baikku, Andri, melakukan sebuah perjalanan. Mungkin itulah saat terakhir aku melihat mukanya yang senantiasa cerah. Aku ingat sekali. Tujuan kami pada awalnya adalah merayakan ulang tahunnya yang ke-20 dengan cara yang sedikit berbeda, yaitu merayakannya di sebuah tempat yang ia pilih sendiri. Semenjak kami memulai perjalanan, ia tak pernah memberitahu letak sesungguhnya dari tempat yang ia maksud. Ia hanya memberitahukan jalan. Dia juga membawa sebuah buku, yang belum pernah dan tidak ia ijinkan aku untuk melihatnya sebelum kami sampai di tempat yang ia juju.
Malam itu, setelah melalui perjalanan selama empat jam, aku dan Andri memutuskan untuk berhenti sejenak dan mencari tempat istirahat. Tidak mungkin kami meneruskan perjalanan. Sudah terlalu larut. Bensin mobil kami hampir habis. Di masa itu jarak antar satu pemukiman dengan pemukiman lain cukup jauh dan sama sekali tidak ada alat komunikasi. Tingkat keamanan juga rendah. Jadi, kami memutuskan, untuk mencari tempat menginap.
Kabut mulai menghalangi pandangan dan angin dingin berhembus. Seperti malam ini. Andri segera berjalan sedikit cepat untuk memeriksa keadaan sekitar, sementara aku hanya bisa melihatnya dari belakang karena jika aku kedinginan, akan sulit bagiku untuk bergerak dengan cepat. Sejauh mata memandang, nyaris tidak terlihat apa-apa.
Dalam waktu singkat Andri menghilang dari hadapanku. Aku melihat sekeliling. Di sebelah kananku hanya ada sebuah surau reot yang kelihatannya sudah tidak digunakan dan ditinggalkan bertahun-tahun. Di sebelah kiriku terdapat sederet pohon pisang yang dibelakangnya terlihat banyak batu.
“Mungkin dibelakang sederet pohon pisang itu ada sungai.” pikirku.
Aku tidak bisa melihat dengan jelas batu-batu itu karena kabut. Tapi sudahlah.
Selang beberapa menit kemudian, Andri datang dengan sedikit tergesa.
”Ayo! Cepatlah! Agar kita bisa segera beristirahat! Tadi aku lihat ada dua rumah yang lampunya masih menyala.” katanya.
Kami mulai berjalan dengan sedikit cepat. Memang jarak antar satu rumah dengan rumah lain di lokasi itu agak berjauhan sehingga kami harus sedikit berlari agar bisa cepat sampai. Tidak ada satupun rumah yang terkesan modern. Semuanya semi-permanen. Malah ada beberapa yang hanya terbuat dari anyaman. Kemudian kami berdua melewati sebuah rumah, yang engsel bagian atas dari pintunya sudah copot dan tergeletak miring seolah menghalangi orang masuk ke sana. Entah mengapa aku terdorong untuk memasukinya. Rasa penasaranku mulai bergejolak. Akhirnya kami berdua memasuki rumah tersebut walaupun pada awalnya Andri tidak setuju. Namun, hujan yang kemudian turun membuat kami terpaksa memasuki rumah tersebut untuk berteduh sebentar.
Rumah itu jelas kosong. Jarak penglihatanku bergantung pada sebuah lampu minyak yang kutemukan di samping rumah. Rumah itu kecil, dan hanya dengan beberapa langkah saja kami sudah sampai di dapur. Seperti perabot yang lain, peralatan dapur itu tidak terurus. Hanya saja, tampaknya sebelum ditinggalkan, pernah terjadi perkelahian di tempat itu.
Berantakan. Itulah kesan pertama yang timbul di benakku ketika melihat kondisi dapur tersebut. Ada pecahan piring di lantai, gelas dalam posisi tumpah, dan lain-lain. Anehnya, ada gergaji di sana. Untuk apa? Biarlah. Aku kembali ke depan untuk menemani Andri yang sedari tadi menungguiku karena dia takut untuk masuk lebih dalam. Ketika berjalan, kakiku tanpa sengaja menginjak sesuatu. Tenyata itu sebuah foto. Ada gambaran tiga orang di sana. Tampaknya satu keluarga.
”Hei! Hujan sudah berhenti. Mau berapa lama kau disini?”
”Ya, sebentar!” Suara Andri mengagetkanku. Segera kutaruh kembali foto itu diatas sebuah meja. Benar saja, hujan telah berhenti dan kabut kembali datang.
Akhirnya kami sampai pada rumah pertama yang penerangannya masih menyala. Kami mengetuk pintu rumah itu dan dengan diiringi suara decit pintu yang menyakitkan telinga, keluarlah sosok seorang pria tua dengan pakaian yang lusuh dan compang-camping. Tubuhnya yang kurus membuat matanya terlihat menonjol dan seakan mau keluar. Dia hanya menampakkan setengah tubuhnya pada kami. Tidak terlihat semua karena setengahnya ia tutupi dengan pintu.
”Boleh kami numpang menginap, pak?” tanya Andri.
”Tidak! Rumahku kecil dan itu hanya cukup untukku dan anakku! Sekarang pergilah sebelum kau membangunkannya!” Bentak pria tua itu dengan suara yang serak dan dalam. Pemilik rumah dan rumah itu sendiri, sejak kami mendekatinya, memang memberikan aura yang buruk. Mungkin seandainya kami disuruh untuk tidur disanapun kami tidak akan mau.
Kami mendatangi rumah lain yang masih ada penerangannya. Tidak begitu jauh. Sekitar 100 meter. Kami mengetuk pintu rumah itu dan keluar seseorang. Ibu tua. Kini jauh dari kesan menyeramkan. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi rumahnya yang terlihat bisa roboh kapan saja membuat kami berdua iba. Ia begitu ramah dan menyilahkan kami masuk. Karena sudah terlalu larut, kami tidak berbasa-basi. Setelah kami mengutarakan niat kami, alhamdulillah ia langsung menyanggupi.
Kami diantarkan ke dua kamar yang berbeda. Ibu tua itu berkata, ”Tidurlah. Memang tadinya ada dua orang yang menempati kamar ini. Tapi tak apa, mereka sedang pergi.”
Kami berterima kasih dan langsung memasuki kamar masing-masing. Aku hanya dapat meraba-raba dan kemudian berbaring di kasur. Gelap. Sama sekali tidak ada cahaya di kamar itu. Sebelum memejamkan mata, aku terus memikirkan hal yang janggal saat berada di rumah pria tua tadi. Dia bilang bahwa di rumah itu ada anaknya tapi hanya ada satu alas kaki. Rumah pria tua tadi juga terlihat sedikit lebih besar dibanding rumah ini dan rumah-rumah yang telah kami lewati tadi. Jadi, walaupun ada anaknya, pasti masih ada ruang untuk kami menginap.
*****
Rasa pusing sontak menghampiri. Sejurus kemudian aku jatuh terlelap karena hanya itulah yang dapat kulakukan. Dalam tidurku aku bermimpi. Aku berada dalam sebuah ruangan serba gelap dan tiba-tiba terdengar suara Andri. Tidak jelas apa yang dikatakannya. Tapi nada bicaranya aneh. Bukan sedang menjerit dan bukan pula sedang merintih.
Lalu aku terbangun. Terasa lebih segar memang, namun masih sedikit pusing. Mungkin karena terkena hujan semalam. Pagi sudah menjelang. Namun sedikit sekali cahaya yang masuk melalui jendela. Ternyata, kabut tebal masih menyelimuti. Namun, cahaya itu cukup membuat seisi kamar itu terlihat. Aku melihat sekeliling dan ada sebuah benda yang membuatku kaget.
Sebuah foto. Sama dengan yang kutemukan di rumah yang sudah ditinggalkan itu. Ternyata wanita di foto itu adalah pemilik rumah ini dan pria di sebelahnya adalah pria tua semalam. Kondisi bingkai yang sudah buruk membuat bagian belakang bingkainya jatuh bersamaan dengan foto tersebut.
Saat ingin kuambil, foto itu dalam posisi telungkup dan dipojok kanan bawah ada sebuah tulisan yang hampir pudar. ”2-0;0’.8-83”. Itulah yang tertera di balik foto itu. ”Angka apa itu?”. ”Nomor identitas seseorang? Atau ini kode?”. Beribu pertanyaan senada seketika muncul di pikiranku.
”Terserahlah”, pikirku. Tidak usahlah merepotkan diri sendiri dengan sesuatu yang sama sekali bukan urusanku. Dengan langkah yang gontai karena masih agak pusing aku keluar kamar itu dan hanya mendapati ibu tua itu. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Andri.
”Apakah teman saya masih tidur, Bu?”
”Tidak. Ia sudah bangun dari tadi. Dia ingin shalat shubuh dan kuberitahu bahwa tempat shalat yang layak dan mengambil air jaraknya sekitar 2 km dari sini. Ia langsung pergi dan tidak membangunkanmu karena melihat kau tertidur pulas.”
”Ke mana perginya?”
”Berlawanan dengan arah datangmu.”
Seraya mengucapkan salam aku melangkah menjauh dari rumah itu. Kabut masih tebal, namun aku masih dapat melihat segala sesuatunya dengan baik. Cahaya matahari nampaknya enggan menyinari bumi karena tertutup awan yang begitu mendung dan juga tebal.
Sepanjang sekitar 2 km perjalanan telah kulewati. Jangankan tempat shalat, rumah pemukiman warga pun sudah semakin tidak terlihat. Yang terjadi sekarang adalah aku berada di tengah-tengah rawa yang semakin lama semakin kumasuki. ”Apakah ibu tua itu membohongiku? Buat apa?”. Aku pun berpikir, ”Mungkin aku tersesat. Tapi selama ini hanya ada jalan setapak, dan tidak ada yang lain”.
Kemudian aku melirik pada penunjuk waktu elektronik yang berdetak di tangan kananku. Sekali lagi aku terperanjat kaget dan tidak mempercayai mataku. Pada alat sederhana peninggalan ayahku itu terlihat bahwasanya sekarang sudah pukul sembilan pagi.
”Apa-apaan? Masa jam segini Andri belum sampai rumah? Di daerah ini, Shubuh itu kan paling telat jam enam pagi. Dengan jarak tempuh kurang lebih 2 km, dan waktu mengambil air juga shalat, jika sambil berjalan santai paling telat dia sudah sampai di rumah sekitar jam tujuh! Ada yang tidak beres! Aku harus cepat kembali!”
Dalam perjalanan kembali, sambil berlari aku melihat sesuatu yang tidak sempat kulihat saat pergi tadi. Itu ada di pinggir jalan. Aku melihat sebuah topi. Milik Andri! Robek! Firasatku buruk. Benar-benar buruk. Setelah kuambil topi tersebut, aku melihat segumpal kertas di depannya. Kutegakkan posisiku, dan aku melihat bahwa kertas itu ada banyak. Disekitarnya juga ada beberapa tetes darah yang mulai mengering. ”Berarti masih baru!” pikirku.
Setelah ditelusuri, gumpalan kertas itu totalnya ada sembilan buah. Anehnya, mereka membentuk motif yang teratur.
"• • • — — — • • •".
Pola itulah yang terbentuk. Sejenak aku terdiam dan berfikir. Setelahnya pula aku langsung panik dan ketakutan setengah mati. Kalap. Bimbang. Tatkala setelahnya aku sadar, bahwa Andri sudah menulis sebuah kode. Kode yang dibuatnya dalam keadaan darurat. Itu kode morse. Artinya adalah S.O.S.
Andri memang cerdas. Untung dia tahu kalau aku bisa membaca kode itu. Maka, berlarilah aku menuju rumah itu lagi. Entah kenapa aku menaruh curiga pada pria dan ibu tua itu. Perilaku mereka yang aneh, foto itu, angka itu, juga fakta membingungkan mengenai kemana perginya semua penduduk desa tersebut mengingat belum ada satu pun yang menunjukkan batang hidungnya kendati sekarang hampir jam setengah sepuluh. Mungkin bukan mereka penyebab hilangnya Andri, tapi mereka patut diawasi. Aku tak bisa menyelesaikan ini sendiri. Aku harus utarakan pada penduduk desa lain.
Beberapa menit kemudian, dengan nafas yang terengah-engah, aku sudah sampai di wilayah desa itu lagi. Tapi aku tidak mau mendekati kedua rumah itu. Biarlah mereka menganggap aku sedang pergi. Aku yakin, mereka pasti memperkirakan bahwa aku akan kembali. Jadi, aku sebaiknya waspada.
Aku mengendap-endap dibalik pohon-pohon pisang yang bisa dibilang mengisolasi desa ini. Namun itu bukanlah keahlianku. Saat aku nyaris melewati kedua rumah itu seseorang menarik tanganku dari belakang. Itu si ibu tua. Dengan wajahnya yang ramah ia menanyaiku tentang mengapa aku mengendap-endap. Singkatnya aku meminta untuk berbicara di dalam rumah saja. Akan jauh lebih berbahaya kalau kukatakan di luar. Di dalam rumah, kuceritakan semua. Mengenai kesan tentang pria tua, foto, hingga topi dan kode yang dibuat Andri. Sebenarnya dalam hati aku pun takut mengatakan ini dan ingin pulang saja. Tapi aku harus.
Tanpa banyak berkomentar, ibu tua itu langsung bercerita, ”Dulu di sini adalah desa yang damai. Para warganya saling menolong. Hingga pada suatu saat, ada sepasang suami-istri yang mulai dijauhi karena anak mereka dikabarkan mempelajari ilmu-ilmu hitam. Semua warga desa ini, kecuali keluarga itu, membenci segala hal yang berbau gaib. Sehingga keluarga itu mulai menimbulkan kegelisahan lantaran mulai banyak hal-hal yang aneh terjadi. Suatu waktu, terjadilah hal yang paling aneh. Saat hari mulai siang, terdengar suara letusan hebat. Sangat kuat. Penduduk langsung memusatkan pikiran mereka pada anak berilmu hitam dan keluarga nyentrik itu. Langit mendadak hitam, dan banyak asap berterbangan. Banyak pohon yang tumbang dan setelah itu tidak ada seorangpun yang bisa melihat matahari selama sekitar 10 hari. Selama 10 hari itu pulalah kemarahan dan kegelisahan warga memuncak. Mereka diberitakan menculik anak itu dan membunuhnya dengan sadis di depan kedua orangtuanya. Ayah anak itu langsung marah bukan kepalang, dan dia mengutuk desa ini. Salah satunya agar desa ini dan seluruh warga yang ada di dalamnya tidak lagi bisa melihat matahari dan terus dirundung kabut.”
Kemudian ibu tua itu berhenti dan berbalik lalu berjalan menuju dapur.
Aku tidak mengerti maksudnya. Apa ibu tua ini mengerti situasi yang sebenarnya terjadi? Sesaat kemudian dia mulai berbicara lagi, ”Nak.....”.
*****
Dengan hitungan detik dia berbalik dan langsung melemparkan pisau ke arahku. Besar sekali. Seperti untuk memotong daging. Air mukanya yang ramah hilang sudah. Diganti dengan wajah yang betul-betul menyeramkan. Belum sampai di situ. Dia terus melemparkanku, pisau, beling, piring, garpu, dan alat-alat tajam lainnya sehingga memaksaku untuk mendekati pintu dan keluar. Kuputuskan untuk berlari menuju mobil. Karena itulah satu-satunya tempat di area sinting ini yang paling kukenal, dan kurasa paling aman.
Sambil berlari, aku terus berpikir, ”Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dengan ibu tua itu? Kenapa dengan desa ini? Di mana Andri? Apa aku sedang bermimpi?” Tak dinyana, saat ibu itu sampai dihalaman rumahnya untuk mengejarku, dia berhenti, dan dia berteriak, ”Ed! Keluarlah! Anak itu sudah tahu semuanya!”.
”Kepada siapa ia berteriak? Atau jangan – jangan .....”
Pada saat itu aku sedang berlari sambil melihat ke arah belakang, sehingga tidak memperhatikan jalan di depan. Seketika aku menabrak sesuatu. Sesuatu yang keras. Aku pun terjatuh. Sejenak kuberharap bahwa pada saat itu aku akan terbangun dan mendapati segalanya hanya mimpi belaka. Tapi bukan. Perlahan-lahan kutengadahkan kepalaku, berusaha mencari tahu apa yang kutabrak. Dia si pria tua itu. Dengan pisau tajam di tangan kirinya dan gergaji tua yang kutemukan di rumah yang ditinggalkan itu di tangan kanannya. Kali ini aku dapat melihat sebagian tubuhnya yang waktu itu ia sembunyikan. Bagian tubuh sebelah kanannya penuh dengan luka bakar. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mengapa tubuhnya bisa sedemikian kuat? Gila. Di depan dan dibelakangku ada psikopat. Untungnya umur benar-benar telah mempengaruhi mereka. Mereka bergerak lebih lamban dariku. Tapi akurasi lemparan mereka luar biasa. Ibu itu benar-benar hampir mengenaiku di rumahnya tadi.
Pilihanku pada saat itu hanyalah bersembunyi di balik pohon-pohon pisang yang ditanam di pinggir-pinggir jalan bak lampu yang dijejer di landasan pesawat. Tanpa pikir panjang, dengan sekuat tenaga aku berlari ke balik pohon pisang itu dan terus berlari menuju mobil. Saat berlari, aku tersandung oleh sesuatu. Ketika aku akan berdiri, aku melihat sebuah batu. Batu yang sama dengan yang kulihat saat pertama kali sampai di sini. Ternyata ada banyak. Ada di kanan dan di kiri jalan. Seolah-olah desa ini dikepung oleh batu ini. Kupicingkan mataku untuk membaca tulisan yang ada di batu itu. Perlahan-lahan kuucapkan dalam hati, ”Santoso (1850-1883). I-ini batu nisan!”. Ya, semua itu batu nisan. Batu yang awalnya kukira adalah batu kali dan mengepung desa ini ternyata adalah batu nisan.
”Apa saja yang telah kedua orang itu lakukan?”. Kesal, sedih, takut bercampur aduk menjadi satu. Rasanya ingin menangis saja. Kemudian mataku tertuju pada sebuah siluet pada sebuah jendela di salah satu rumah. Buru-buru kudekati. Tampaknya kedua orang tadi tidak lagi mengejarku. Mungkin mereka sadar bahwa aku pun takkan bisa keluar dari sini. Sosok itu semakin kudekati. Tidak terlihat jelas karena kulihat dari luar jendela. Itu orang! Dengan senang hati aku mendekatinya walaupun tetap waspada.
Semakin dekat aku semakin yakin kalau itu orang. Setelah semakin dekat, aku menangis. Memang itu orang. Tepatnya pernah jadi orang. Tapi hanya sampai bagian perut. Bagian seterusnya ke bawah sudah tidak ada. Mengenaskannya lagi, bagian perutnya ditusuk dari bawah hingga atas sehingga dia terlihat sebagai orang-orangan sawah. Terjatuh. Bangun. Kemudian berlari menuju rumah lain. Itulah yang kulakukan selesai melihatnya. Itu juga yang kulakukan setelah melihat rumah-rumah lain. Isinya hanya mayat korban pembunuhan yang keji. Yang sedikit mengusik benakku adalah, mereka belum menjadi tengkorak. Tapi itu bukan masalah utamanya pada saat itu. Aku tidak berani menengok rumah lain karena semakin lama terlihat semakin kejam. Rumah terakhir yang kulihat, mayatnya hanya tersisa bagian kepalanya saja yang digantung layaknya topi digantungan topi.
Tak terasa aku sudah sampai ke mobil. Aku bersyukur kedua orang itu tidak mengejarku lagi. Dalam hati aku tetap berdoa agar Andri baik-baik saja. Tapi aku yakin, lambat laun mereka pasti melakukannya lagi. Jadi mobil bukanlah tempat yang aman. Aku melihat kembali surau tua itu. Setelah diperhatikan surau itu memiliki sebuah pintu kecil di salah satu sisinya. Aku kemudian keluar dari mobil dan menuju surau itu. Kali ini aku membawa buku yang selalu Andri bawa. Rasa penasaranku semakin tak terbendung. Kuharap buku ini dapat menjawab segala pertanyaanku tentang tempat ini.
Perlahan-lahan aku memasuki surau itu. Tiap langkahku disertai dengan bunyi-bunyian yang semakin menunjukkan kebobrokkan surau itu. Kemudian kuraih gagang pintu kecil itu. Kubuka. Ada sebuah ruangan. Tidak terlihat dari luar karena arahnya berlawanan dengan sudut pandang orang yang melihat dari jalan. Lantainya terbuat dari kayu. Hanya ada cahaya remang-remang. Sulit untuk memperhatikan langkah sendiri.
Tak disangka-sangka, aku terjatuh karena lantainya sudah begitu tua. Kejadiannya begitu cepat hingga berteriak pun tak sempat. Ternyata, ada sebuah ruangan di bawah surau itu. Sebuah ruangan bawah tanah. Kelihatannya ruangan ini tidak banyak yang tahu karena jalan masuknya pun kulewati karena faktor ketidaksengajaan. Bukan milik warga. Itu yang pasti. Ruangan itu lebih besar dari surau itu sendiri.
Barang-barangnya khas Belanda. Nampaknya dulu ada orang Belanda yang pernah kesini dan membuat ruangan ini. Kualihkan pandanganku ke sebuah meja yang terbuat dari bambu. Bermodal sebuah senter kecil sekarat yang kuambil dari mobil, aku mencoba untuk membaca tulisan yang tertera di sebuah kertas di atas meja itu. Kertas yang sangat tua. Supaya tidak rusak, tidak kuangkat dan langsung kubaca.
Bunyinya, ”Entahlah apa aku bisa selamat. Jadi kuputuskan untuk menyerahkan buku penelitianku. Akan kuberikan pada orang pertama yang kulihat bila berhasil keluar dari sini. Tertanda: Van Sandick”.
*****
Langsung kualihkan pandangan mataku pada buku milik Andri yang kugenggam. Aku merasa ini saling berhubungan. Benar saja. Di sudut kanan atas cover buku tersebut ada inisial V.S. Tidak terlalu besar. Orang lain tidak akan menyadari keberadaan inisial tersebut bila hanya melihat sekilas. Kurasa ini dia! Berarti buku penelitian Van Sandick diberikan pada salah satu kerabat Andri berpuluh-puluh tahun lalu.
Segera kubuka halaman demi halaman buku itu yang isinya memang hasil penelitian Sandick. Sampai akhirnya aku tiba pada sebuah halaman yang ditandai oleh sesuatu. Halaman itu bertuliskan, ”Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera...”.
Aku ingat sekarang. Tulisan ini adalah catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang kemungkinan berasal dari 416 M! Ini menjelaskan semua. Angka di foto itu, 2-0;0’.8-83, maksudnya adalah tanggal 20 Agustus 1883. Yaitu merupakan 7 hari sebelum Gunung Krakatau meletus! Jadi, semua keributan yang terjadi menurut yang diceritakan ibu tua itu sebenarnya bukan karena keluarga atau anak itu. Tapi itu adalah dampak letusan Gunung Krakatau!
Aku kemudian melanjutkan membaca, ”Pada tanggal 29 Agustus 1883, tepatnya dua hari setelah letusan gunung itu terjadi, aku melihat sebuah kejadian yang mengerikan. Warga desa yang tidak tahu apa-apa ini secara sadis membunuh seorang anak yang mereka kira telah menyebabkan letusan ini. Tidak ada gunanya bagiku untuk memberitahukan pada mereka kejadian sebenarnya. Rasa benci mereka sudah begitu bertumpuk. Bagai bom yang sudah siap meledak. Kemudian, ayah dari anak itu, yang ternyata juga mempelajari ilmu terlarang itu langsung mengutuk desa ini agar selamanya tidak bisa melihat matahari, ataupun dunia luar. Desa ini menjadi desa yang tidak ada di peta. Namun, dampak dari melakukan ini adalah ayah dan ibu dari anak itu kini menjadi tidak dapat mati. Dia akan terus hidup. Tak peduli apapun yang mengenainya.
Tapi pada saat itu, salah seorang warga desa yang membawa minyak tanah langsung menyiramkannya kepada ayah dari anak itu. Tidak terkena semua. Dia sempat menghindar, jadi yang terkena hanya tubuh bagian kanannya saja. Salah seorang warga lagi melemparkan obor yang menyala ke arahnya. Pria malang itupun terbakar. Belum sampai seluruh bagian, hanya sebelah kanan, karena dia langsung bertindak cepat dengan menceburkan diri ke kolam. Aku hanya bisa bersembunyi, karena setelah melakukan itu, ayah dari anak itu langsung membalaskan dendamnya kepada penduduk desa. Mereka tidak bisa lari kemana-mana. Begitu pula aku. Namun, ternyata kutukan itu memiliki kelemahan. Desa ini tidak selamanya hilang dari bumi. Saat bulan purnama, desa ini tersambung dengan bumi. Itulah yang kubaca dari buku tua yang kutemukan dalam salah satu penelitianku sebelum bersembunyi di ruang bawah tanahku ini. Begitu pulalah caraku keluar dari sini. Aku sempat mengabadikan foto keluarga itu. Tepatnya 7 hari sebelum letusan itu terjadi....”
Ternyata orang Belanda ini pulalah yang mengabadikan gambar mereka. Juga yang memberikannya pada mereka. Berarti, ibu tadi telah menceritakan kisahnya sendiri. Kisah hidupnya yang tragis sekitar satu abad lalu. Pasangan itu membalaskan dendamnya kepada tiap warga desa. Mereka mengira bahwa aku dan Andri adalah penduduk desa yang masih tersisa. Tetapi mendengar bahwa ternyata masih ada jalan keluar dari sini membuatku sedikit lega.
*****
Benar-benar keberuntungan. Malam ini bulan purnama. Sekarang tinggal menunggu. Matahari akan mulai terbenam empat jam lagi. Aku memutuskan untuk mengatur rencana menyelamatkan Andri. Sayangnya, karena ruang bawah tanah itu sudah tua, dan sedikit sekali celah oksigen, tidak lama kemudian aku jatuh pingsan. Entah berapa lama kemudian, aku kembali bangun layaknya orang panik. Kulihat jam tanganku dan tanpa terasa aku sudah tak sadarkan diri lebih lama dari waktu yang kuperkirakan. Dengan segera aku berlari keluar karena menurutku, tebalnya kabut akan membuat penampakan bulan itu menjadi lebih sebentar.
Lagi-lagi benar. Terkadang aku benci bila apa yang kukatakan benar. Sekarang waktuku kurang dari semenit sebelum bulan purnama itu kembali tertutup oleh kabut. Namun ada yang tidak kurencanakan, dari jauh aku melihat kedua pasutri itu melangkah. Mereka berdua membawa alat-alat tajam yang seakan sedang haus darah. Dengan pandangan yang seram, mereka mulai mendekatiku seraya melempariku dengan alat-alat tersebut. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke mobil.
”Tolooooong! Denniiiis! Tolooooong!”
Itu suara Andri. Syukurlah dia masih hidup. Waktu itu aku sempat memutuskan untuk menabrak dua orang itu. Namun, saat aku ingin melihat kebelakang untuk memundurkan mobilku, ibarat dimuntahkan senapan, sebilah pisau melesat dari belakang. Hampir kena. Panik. Dengan penuh tenaga, kuinjak pedal gas dan mobil ini langsung melesat ke arah pulang. Ujung jalan yang akan kulewati nyaris tertutup oleh kabut sepenuhnya. Pasti itu penghalang desa ini yang sebentar lagi akan benar-benar tertutup. Akibat pingsan tadi, kini waktuku hanya 10 detik...9...8...7...
Aku tak sadarkan diri. Setelah disadarkan oleh hangatnya mentari, aku mendapati diriku dan mobilku sedang terperosok di sawah seorang petani. Aku berhasil. Sekali lagi kuharap itu cuma mimpi. Namun kemudian aku melihat sebilah pisau yang tertancap di kaca depanku. ”Itu bukan mimpi”, pikirku. Aku menerawang keadaan sekeliling, dan ternyata benar, Andri tidak ada disampingku. Aku tidak berhasil menyelamatkannya.
*****
”Deeeeen! Makanan sudah siap nak!”
Panggilan ibuku seakan menarikku kembali menuju masa kini. 10 tahun kemudian. Semoga keberadaan waktu dalam kehidupanku sedikit demi sedikit membunuh ingatanku tentang hal itu. Setiap detik aku mengingatnya, panas rasanya hati ini karena tidak bisa menyelamatkan teman yang paling kusayangi.
Dengan hati yang masih hancur aku mengelap air yang mengalir dari indera penglihatanku. Kubuka dompetku, untuk sekali lagi melihat foto kami berdua. Dulu, beberapa saat sebelum kami berangkat menuju desa terkutuk itu. Aku melihatnya dengan penuh rasa sedih.
Tapi, tunggu! Ada yang berubah dari foto ini. Ada. Tapi apa? Entah mengapa aku yakin bahwa sampai sekarang Andri masih hidup. Dia berusaha memberitahuku. Perasaanku mengatakan aku harus kembali kesana. Tapi tidak sekarang. Aku harus mencari orang yang cukup nekat untuk mempercayai ceritaku ini. Mungkin. Hanya mungkin. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Aku rasa masih ada kesempatan untuk menyelamatkan Andri.
The End of Chapter One – ”Memory from The Past”.
To Be Continued on Chapter Two – ”The Meeting and The Revelation of Secret”.
Created by: Amadeo D. Bafiansa
Angin yang berhembus melalui jendela yang terbuka lebar, menyelimuti tubuhku dan membuat rasa dingin menusuk hingga tulang. Suara daun-daun yang bergesek lantaran tertiup angin terdengar bak sedang merintih. Mencekam. Lolongan anjing liar yang terdengar dari kejauhan seakan memecah lamunanku dan tiba-tiba menggali kembali sebuah kenangan di masa laluku yang telah kukubur dalam-dalam. Perlahan namun pasti, serpihan-serpihan kenangan itu tersusun kembali. Semakin diingat, semakin jelas gambaran kenangan itu dibenakku.
Peristiwa ini terjadi sekitar 10 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1989, saat aku dan teman baikku, Andri, melakukan sebuah perjalanan. Mungkin itulah saat terakhir aku melihat mukanya yang senantiasa cerah. Aku ingat sekali. Tujuan kami pada awalnya adalah merayakan ulang tahunnya yang ke-20 dengan cara yang sedikit berbeda, yaitu merayakannya di sebuah tempat yang ia pilih sendiri. Semenjak kami memulai perjalanan, ia tak pernah memberitahu letak sesungguhnya dari tempat yang ia maksud. Ia hanya memberitahukan jalan. Dia juga membawa sebuah buku, yang belum pernah dan tidak ia ijinkan aku untuk melihatnya sebelum kami sampai di tempat yang ia juju.
Malam itu, setelah melalui perjalanan selama empat jam, aku dan Andri memutuskan untuk berhenti sejenak dan mencari tempat istirahat. Tidak mungkin kami meneruskan perjalanan. Sudah terlalu larut. Bensin mobil kami hampir habis. Di masa itu jarak antar satu pemukiman dengan pemukiman lain cukup jauh dan sama sekali tidak ada alat komunikasi. Tingkat keamanan juga rendah. Jadi, kami memutuskan, untuk mencari tempat menginap.
Kabut mulai menghalangi pandangan dan angin dingin berhembus. Seperti malam ini. Andri segera berjalan sedikit cepat untuk memeriksa keadaan sekitar, sementara aku hanya bisa melihatnya dari belakang karena jika aku kedinginan, akan sulit bagiku untuk bergerak dengan cepat. Sejauh mata memandang, nyaris tidak terlihat apa-apa.
Dalam waktu singkat Andri menghilang dari hadapanku. Aku melihat sekeliling. Di sebelah kananku hanya ada sebuah surau reot yang kelihatannya sudah tidak digunakan dan ditinggalkan bertahun-tahun. Di sebelah kiriku terdapat sederet pohon pisang yang dibelakangnya terlihat banyak batu.
“Mungkin dibelakang sederet pohon pisang itu ada sungai.” pikirku.
Aku tidak bisa melihat dengan jelas batu-batu itu karena kabut. Tapi sudahlah.
Selang beberapa menit kemudian, Andri datang dengan sedikit tergesa.
”Ayo! Cepatlah! Agar kita bisa segera beristirahat! Tadi aku lihat ada dua rumah yang lampunya masih menyala.” katanya.
Kami mulai berjalan dengan sedikit cepat. Memang jarak antar satu rumah dengan rumah lain di lokasi itu agak berjauhan sehingga kami harus sedikit berlari agar bisa cepat sampai. Tidak ada satupun rumah yang terkesan modern. Semuanya semi-permanen. Malah ada beberapa yang hanya terbuat dari anyaman. Kemudian kami berdua melewati sebuah rumah, yang engsel bagian atas dari pintunya sudah copot dan tergeletak miring seolah menghalangi orang masuk ke sana. Entah mengapa aku terdorong untuk memasukinya. Rasa penasaranku mulai bergejolak. Akhirnya kami berdua memasuki rumah tersebut walaupun pada awalnya Andri tidak setuju. Namun, hujan yang kemudian turun membuat kami terpaksa memasuki rumah tersebut untuk berteduh sebentar.
Rumah itu jelas kosong. Jarak penglihatanku bergantung pada sebuah lampu minyak yang kutemukan di samping rumah. Rumah itu kecil, dan hanya dengan beberapa langkah saja kami sudah sampai di dapur. Seperti perabot yang lain, peralatan dapur itu tidak terurus. Hanya saja, tampaknya sebelum ditinggalkan, pernah terjadi perkelahian di tempat itu.
Berantakan. Itulah kesan pertama yang timbul di benakku ketika melihat kondisi dapur tersebut. Ada pecahan piring di lantai, gelas dalam posisi tumpah, dan lain-lain. Anehnya, ada gergaji di sana. Untuk apa? Biarlah. Aku kembali ke depan untuk menemani Andri yang sedari tadi menungguiku karena dia takut untuk masuk lebih dalam. Ketika berjalan, kakiku tanpa sengaja menginjak sesuatu. Tenyata itu sebuah foto. Ada gambaran tiga orang di sana. Tampaknya satu keluarga.
”Hei! Hujan sudah berhenti. Mau berapa lama kau disini?”
”Ya, sebentar!” Suara Andri mengagetkanku. Segera kutaruh kembali foto itu diatas sebuah meja. Benar saja, hujan telah berhenti dan kabut kembali datang.
Akhirnya kami sampai pada rumah pertama yang penerangannya masih menyala. Kami mengetuk pintu rumah itu dan dengan diiringi suara decit pintu yang menyakitkan telinga, keluarlah sosok seorang pria tua dengan pakaian yang lusuh dan compang-camping. Tubuhnya yang kurus membuat matanya terlihat menonjol dan seakan mau keluar. Dia hanya menampakkan setengah tubuhnya pada kami. Tidak terlihat semua karena setengahnya ia tutupi dengan pintu.
”Boleh kami numpang menginap, pak?” tanya Andri.
”Tidak! Rumahku kecil dan itu hanya cukup untukku dan anakku! Sekarang pergilah sebelum kau membangunkannya!” Bentak pria tua itu dengan suara yang serak dan dalam. Pemilik rumah dan rumah itu sendiri, sejak kami mendekatinya, memang memberikan aura yang buruk. Mungkin seandainya kami disuruh untuk tidur disanapun kami tidak akan mau.
Kami mendatangi rumah lain yang masih ada penerangannya. Tidak begitu jauh. Sekitar 100 meter. Kami mengetuk pintu rumah itu dan keluar seseorang. Ibu tua. Kini jauh dari kesan menyeramkan. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi rumahnya yang terlihat bisa roboh kapan saja membuat kami berdua iba. Ia begitu ramah dan menyilahkan kami masuk. Karena sudah terlalu larut, kami tidak berbasa-basi. Setelah kami mengutarakan niat kami, alhamdulillah ia langsung menyanggupi.
Kami diantarkan ke dua kamar yang berbeda. Ibu tua itu berkata, ”Tidurlah. Memang tadinya ada dua orang yang menempati kamar ini. Tapi tak apa, mereka sedang pergi.”
Kami berterima kasih dan langsung memasuki kamar masing-masing. Aku hanya dapat meraba-raba dan kemudian berbaring di kasur. Gelap. Sama sekali tidak ada cahaya di kamar itu. Sebelum memejamkan mata, aku terus memikirkan hal yang janggal saat berada di rumah pria tua tadi. Dia bilang bahwa di rumah itu ada anaknya tapi hanya ada satu alas kaki. Rumah pria tua tadi juga terlihat sedikit lebih besar dibanding rumah ini dan rumah-rumah yang telah kami lewati tadi. Jadi, walaupun ada anaknya, pasti masih ada ruang untuk kami menginap.
*****
Rasa pusing sontak menghampiri. Sejurus kemudian aku jatuh terlelap karena hanya itulah yang dapat kulakukan. Dalam tidurku aku bermimpi. Aku berada dalam sebuah ruangan serba gelap dan tiba-tiba terdengar suara Andri. Tidak jelas apa yang dikatakannya. Tapi nada bicaranya aneh. Bukan sedang menjerit dan bukan pula sedang merintih.
Lalu aku terbangun. Terasa lebih segar memang, namun masih sedikit pusing. Mungkin karena terkena hujan semalam. Pagi sudah menjelang. Namun sedikit sekali cahaya yang masuk melalui jendela. Ternyata, kabut tebal masih menyelimuti. Namun, cahaya itu cukup membuat seisi kamar itu terlihat. Aku melihat sekeliling dan ada sebuah benda yang membuatku kaget.
Sebuah foto. Sama dengan yang kutemukan di rumah yang sudah ditinggalkan itu. Ternyata wanita di foto itu adalah pemilik rumah ini dan pria di sebelahnya adalah pria tua semalam. Kondisi bingkai yang sudah buruk membuat bagian belakang bingkainya jatuh bersamaan dengan foto tersebut.
Saat ingin kuambil, foto itu dalam posisi telungkup dan dipojok kanan bawah ada sebuah tulisan yang hampir pudar. ”2-0;0’.8-83”. Itulah yang tertera di balik foto itu. ”Angka apa itu?”. ”Nomor identitas seseorang? Atau ini kode?”. Beribu pertanyaan senada seketika muncul di pikiranku.
”Terserahlah”, pikirku. Tidak usahlah merepotkan diri sendiri dengan sesuatu yang sama sekali bukan urusanku. Dengan langkah yang gontai karena masih agak pusing aku keluar kamar itu dan hanya mendapati ibu tua itu. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Andri.
”Apakah teman saya masih tidur, Bu?”
”Tidak. Ia sudah bangun dari tadi. Dia ingin shalat shubuh dan kuberitahu bahwa tempat shalat yang layak dan mengambil air jaraknya sekitar 2 km dari sini. Ia langsung pergi dan tidak membangunkanmu karena melihat kau tertidur pulas.”
”Ke mana perginya?”
”Berlawanan dengan arah datangmu.”
Seraya mengucapkan salam aku melangkah menjauh dari rumah itu. Kabut masih tebal, namun aku masih dapat melihat segala sesuatunya dengan baik. Cahaya matahari nampaknya enggan menyinari bumi karena tertutup awan yang begitu mendung dan juga tebal.
Sepanjang sekitar 2 km perjalanan telah kulewati. Jangankan tempat shalat, rumah pemukiman warga pun sudah semakin tidak terlihat. Yang terjadi sekarang adalah aku berada di tengah-tengah rawa yang semakin lama semakin kumasuki. ”Apakah ibu tua itu membohongiku? Buat apa?”. Aku pun berpikir, ”Mungkin aku tersesat. Tapi selama ini hanya ada jalan setapak, dan tidak ada yang lain”.
Kemudian aku melirik pada penunjuk waktu elektronik yang berdetak di tangan kananku. Sekali lagi aku terperanjat kaget dan tidak mempercayai mataku. Pada alat sederhana peninggalan ayahku itu terlihat bahwasanya sekarang sudah pukul sembilan pagi.
”Apa-apaan? Masa jam segini Andri belum sampai rumah? Di daerah ini, Shubuh itu kan paling telat jam enam pagi. Dengan jarak tempuh kurang lebih 2 km, dan waktu mengambil air juga shalat, jika sambil berjalan santai paling telat dia sudah sampai di rumah sekitar jam tujuh! Ada yang tidak beres! Aku harus cepat kembali!”
Dalam perjalanan kembali, sambil berlari aku melihat sesuatu yang tidak sempat kulihat saat pergi tadi. Itu ada di pinggir jalan. Aku melihat sebuah topi. Milik Andri! Robek! Firasatku buruk. Benar-benar buruk. Setelah kuambil topi tersebut, aku melihat segumpal kertas di depannya. Kutegakkan posisiku, dan aku melihat bahwa kertas itu ada banyak. Disekitarnya juga ada beberapa tetes darah yang mulai mengering. ”Berarti masih baru!” pikirku.
Setelah ditelusuri, gumpalan kertas itu totalnya ada sembilan buah. Anehnya, mereka membentuk motif yang teratur.
"• • • — — — • • •".
Pola itulah yang terbentuk. Sejenak aku terdiam dan berfikir. Setelahnya pula aku langsung panik dan ketakutan setengah mati. Kalap. Bimbang. Tatkala setelahnya aku sadar, bahwa Andri sudah menulis sebuah kode. Kode yang dibuatnya dalam keadaan darurat. Itu kode morse. Artinya adalah S.O.S.
Andri memang cerdas. Untung dia tahu kalau aku bisa membaca kode itu. Maka, berlarilah aku menuju rumah itu lagi. Entah kenapa aku menaruh curiga pada pria dan ibu tua itu. Perilaku mereka yang aneh, foto itu, angka itu, juga fakta membingungkan mengenai kemana perginya semua penduduk desa tersebut mengingat belum ada satu pun yang menunjukkan batang hidungnya kendati sekarang hampir jam setengah sepuluh. Mungkin bukan mereka penyebab hilangnya Andri, tapi mereka patut diawasi. Aku tak bisa menyelesaikan ini sendiri. Aku harus utarakan pada penduduk desa lain.
Beberapa menit kemudian, dengan nafas yang terengah-engah, aku sudah sampai di wilayah desa itu lagi. Tapi aku tidak mau mendekati kedua rumah itu. Biarlah mereka menganggap aku sedang pergi. Aku yakin, mereka pasti memperkirakan bahwa aku akan kembali. Jadi, aku sebaiknya waspada.
Aku mengendap-endap dibalik pohon-pohon pisang yang bisa dibilang mengisolasi desa ini. Namun itu bukanlah keahlianku. Saat aku nyaris melewati kedua rumah itu seseorang menarik tanganku dari belakang. Itu si ibu tua. Dengan wajahnya yang ramah ia menanyaiku tentang mengapa aku mengendap-endap. Singkatnya aku meminta untuk berbicara di dalam rumah saja. Akan jauh lebih berbahaya kalau kukatakan di luar. Di dalam rumah, kuceritakan semua. Mengenai kesan tentang pria tua, foto, hingga topi dan kode yang dibuat Andri. Sebenarnya dalam hati aku pun takut mengatakan ini dan ingin pulang saja. Tapi aku harus.
Tanpa banyak berkomentar, ibu tua itu langsung bercerita, ”Dulu di sini adalah desa yang damai. Para warganya saling menolong. Hingga pada suatu saat, ada sepasang suami-istri yang mulai dijauhi karena anak mereka dikabarkan mempelajari ilmu-ilmu hitam. Semua warga desa ini, kecuali keluarga itu, membenci segala hal yang berbau gaib. Sehingga keluarga itu mulai menimbulkan kegelisahan lantaran mulai banyak hal-hal yang aneh terjadi. Suatu waktu, terjadilah hal yang paling aneh. Saat hari mulai siang, terdengar suara letusan hebat. Sangat kuat. Penduduk langsung memusatkan pikiran mereka pada anak berilmu hitam dan keluarga nyentrik itu. Langit mendadak hitam, dan banyak asap berterbangan. Banyak pohon yang tumbang dan setelah itu tidak ada seorangpun yang bisa melihat matahari selama sekitar 10 hari. Selama 10 hari itu pulalah kemarahan dan kegelisahan warga memuncak. Mereka diberitakan menculik anak itu dan membunuhnya dengan sadis di depan kedua orangtuanya. Ayah anak itu langsung marah bukan kepalang, dan dia mengutuk desa ini. Salah satunya agar desa ini dan seluruh warga yang ada di dalamnya tidak lagi bisa melihat matahari dan terus dirundung kabut.”
Kemudian ibu tua itu berhenti dan berbalik lalu berjalan menuju dapur.
Aku tidak mengerti maksudnya. Apa ibu tua ini mengerti situasi yang sebenarnya terjadi? Sesaat kemudian dia mulai berbicara lagi, ”Nak.....”.
*****
Dengan hitungan detik dia berbalik dan langsung melemparkan pisau ke arahku. Besar sekali. Seperti untuk memotong daging. Air mukanya yang ramah hilang sudah. Diganti dengan wajah yang betul-betul menyeramkan. Belum sampai di situ. Dia terus melemparkanku, pisau, beling, piring, garpu, dan alat-alat tajam lainnya sehingga memaksaku untuk mendekati pintu dan keluar. Kuputuskan untuk berlari menuju mobil. Karena itulah satu-satunya tempat di area sinting ini yang paling kukenal, dan kurasa paling aman.
Sambil berlari, aku terus berpikir, ”Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dengan ibu tua itu? Kenapa dengan desa ini? Di mana Andri? Apa aku sedang bermimpi?” Tak dinyana, saat ibu itu sampai dihalaman rumahnya untuk mengejarku, dia berhenti, dan dia berteriak, ”Ed! Keluarlah! Anak itu sudah tahu semuanya!”.
”Kepada siapa ia berteriak? Atau jangan – jangan .....”
Pada saat itu aku sedang berlari sambil melihat ke arah belakang, sehingga tidak memperhatikan jalan di depan. Seketika aku menabrak sesuatu. Sesuatu yang keras. Aku pun terjatuh. Sejenak kuberharap bahwa pada saat itu aku akan terbangun dan mendapati segalanya hanya mimpi belaka. Tapi bukan. Perlahan-lahan kutengadahkan kepalaku, berusaha mencari tahu apa yang kutabrak. Dia si pria tua itu. Dengan pisau tajam di tangan kirinya dan gergaji tua yang kutemukan di rumah yang ditinggalkan itu di tangan kanannya. Kali ini aku dapat melihat sebagian tubuhnya yang waktu itu ia sembunyikan. Bagian tubuh sebelah kanannya penuh dengan luka bakar. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mengapa tubuhnya bisa sedemikian kuat? Gila. Di depan dan dibelakangku ada psikopat. Untungnya umur benar-benar telah mempengaruhi mereka. Mereka bergerak lebih lamban dariku. Tapi akurasi lemparan mereka luar biasa. Ibu itu benar-benar hampir mengenaiku di rumahnya tadi.
Pilihanku pada saat itu hanyalah bersembunyi di balik pohon-pohon pisang yang ditanam di pinggir-pinggir jalan bak lampu yang dijejer di landasan pesawat. Tanpa pikir panjang, dengan sekuat tenaga aku berlari ke balik pohon pisang itu dan terus berlari menuju mobil. Saat berlari, aku tersandung oleh sesuatu. Ketika aku akan berdiri, aku melihat sebuah batu. Batu yang sama dengan yang kulihat saat pertama kali sampai di sini. Ternyata ada banyak. Ada di kanan dan di kiri jalan. Seolah-olah desa ini dikepung oleh batu ini. Kupicingkan mataku untuk membaca tulisan yang ada di batu itu. Perlahan-lahan kuucapkan dalam hati, ”Santoso (1850-1883). I-ini batu nisan!”. Ya, semua itu batu nisan. Batu yang awalnya kukira adalah batu kali dan mengepung desa ini ternyata adalah batu nisan.
”Apa saja yang telah kedua orang itu lakukan?”. Kesal, sedih, takut bercampur aduk menjadi satu. Rasanya ingin menangis saja. Kemudian mataku tertuju pada sebuah siluet pada sebuah jendela di salah satu rumah. Buru-buru kudekati. Tampaknya kedua orang tadi tidak lagi mengejarku. Mungkin mereka sadar bahwa aku pun takkan bisa keluar dari sini. Sosok itu semakin kudekati. Tidak terlihat jelas karena kulihat dari luar jendela. Itu orang! Dengan senang hati aku mendekatinya walaupun tetap waspada.
Semakin dekat aku semakin yakin kalau itu orang. Setelah semakin dekat, aku menangis. Memang itu orang. Tepatnya pernah jadi orang. Tapi hanya sampai bagian perut. Bagian seterusnya ke bawah sudah tidak ada. Mengenaskannya lagi, bagian perutnya ditusuk dari bawah hingga atas sehingga dia terlihat sebagai orang-orangan sawah. Terjatuh. Bangun. Kemudian berlari menuju rumah lain. Itulah yang kulakukan selesai melihatnya. Itu juga yang kulakukan setelah melihat rumah-rumah lain. Isinya hanya mayat korban pembunuhan yang keji. Yang sedikit mengusik benakku adalah, mereka belum menjadi tengkorak. Tapi itu bukan masalah utamanya pada saat itu. Aku tidak berani menengok rumah lain karena semakin lama terlihat semakin kejam. Rumah terakhir yang kulihat, mayatnya hanya tersisa bagian kepalanya saja yang digantung layaknya topi digantungan topi.
Tak terasa aku sudah sampai ke mobil. Aku bersyukur kedua orang itu tidak mengejarku lagi. Dalam hati aku tetap berdoa agar Andri baik-baik saja. Tapi aku yakin, lambat laun mereka pasti melakukannya lagi. Jadi mobil bukanlah tempat yang aman. Aku melihat kembali surau tua itu. Setelah diperhatikan surau itu memiliki sebuah pintu kecil di salah satu sisinya. Aku kemudian keluar dari mobil dan menuju surau itu. Kali ini aku membawa buku yang selalu Andri bawa. Rasa penasaranku semakin tak terbendung. Kuharap buku ini dapat menjawab segala pertanyaanku tentang tempat ini.
Perlahan-lahan aku memasuki surau itu. Tiap langkahku disertai dengan bunyi-bunyian yang semakin menunjukkan kebobrokkan surau itu. Kemudian kuraih gagang pintu kecil itu. Kubuka. Ada sebuah ruangan. Tidak terlihat dari luar karena arahnya berlawanan dengan sudut pandang orang yang melihat dari jalan. Lantainya terbuat dari kayu. Hanya ada cahaya remang-remang. Sulit untuk memperhatikan langkah sendiri.
Tak disangka-sangka, aku terjatuh karena lantainya sudah begitu tua. Kejadiannya begitu cepat hingga berteriak pun tak sempat. Ternyata, ada sebuah ruangan di bawah surau itu. Sebuah ruangan bawah tanah. Kelihatannya ruangan ini tidak banyak yang tahu karena jalan masuknya pun kulewati karena faktor ketidaksengajaan. Bukan milik warga. Itu yang pasti. Ruangan itu lebih besar dari surau itu sendiri.
Barang-barangnya khas Belanda. Nampaknya dulu ada orang Belanda yang pernah kesini dan membuat ruangan ini. Kualihkan pandanganku ke sebuah meja yang terbuat dari bambu. Bermodal sebuah senter kecil sekarat yang kuambil dari mobil, aku mencoba untuk membaca tulisan yang tertera di sebuah kertas di atas meja itu. Kertas yang sangat tua. Supaya tidak rusak, tidak kuangkat dan langsung kubaca.
Bunyinya, ”Entahlah apa aku bisa selamat. Jadi kuputuskan untuk menyerahkan buku penelitianku. Akan kuberikan pada orang pertama yang kulihat bila berhasil keluar dari sini. Tertanda: Van Sandick”.
*****
Langsung kualihkan pandangan mataku pada buku milik Andri yang kugenggam. Aku merasa ini saling berhubungan. Benar saja. Di sudut kanan atas cover buku tersebut ada inisial V.S. Tidak terlalu besar. Orang lain tidak akan menyadari keberadaan inisial tersebut bila hanya melihat sekilas. Kurasa ini dia! Berarti buku penelitian Van Sandick diberikan pada salah satu kerabat Andri berpuluh-puluh tahun lalu.
Segera kubuka halaman demi halaman buku itu yang isinya memang hasil penelitian Sandick. Sampai akhirnya aku tiba pada sebuah halaman yang ditandai oleh sesuatu. Halaman itu bertuliskan, ”Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera...”.
Aku ingat sekarang. Tulisan ini adalah catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang kemungkinan berasal dari 416 M! Ini menjelaskan semua. Angka di foto itu, 2-0;0’.8-83, maksudnya adalah tanggal 20 Agustus 1883. Yaitu merupakan 7 hari sebelum Gunung Krakatau meletus! Jadi, semua keributan yang terjadi menurut yang diceritakan ibu tua itu sebenarnya bukan karena keluarga atau anak itu. Tapi itu adalah dampak letusan Gunung Krakatau!
Aku kemudian melanjutkan membaca, ”Pada tanggal 29 Agustus 1883, tepatnya dua hari setelah letusan gunung itu terjadi, aku melihat sebuah kejadian yang mengerikan. Warga desa yang tidak tahu apa-apa ini secara sadis membunuh seorang anak yang mereka kira telah menyebabkan letusan ini. Tidak ada gunanya bagiku untuk memberitahukan pada mereka kejadian sebenarnya. Rasa benci mereka sudah begitu bertumpuk. Bagai bom yang sudah siap meledak. Kemudian, ayah dari anak itu, yang ternyata juga mempelajari ilmu terlarang itu langsung mengutuk desa ini agar selamanya tidak bisa melihat matahari, ataupun dunia luar. Desa ini menjadi desa yang tidak ada di peta. Namun, dampak dari melakukan ini adalah ayah dan ibu dari anak itu kini menjadi tidak dapat mati. Dia akan terus hidup. Tak peduli apapun yang mengenainya.
Tapi pada saat itu, salah seorang warga desa yang membawa minyak tanah langsung menyiramkannya kepada ayah dari anak itu. Tidak terkena semua. Dia sempat menghindar, jadi yang terkena hanya tubuh bagian kanannya saja. Salah seorang warga lagi melemparkan obor yang menyala ke arahnya. Pria malang itupun terbakar. Belum sampai seluruh bagian, hanya sebelah kanan, karena dia langsung bertindak cepat dengan menceburkan diri ke kolam. Aku hanya bisa bersembunyi, karena setelah melakukan itu, ayah dari anak itu langsung membalaskan dendamnya kepada penduduk desa. Mereka tidak bisa lari kemana-mana. Begitu pula aku. Namun, ternyata kutukan itu memiliki kelemahan. Desa ini tidak selamanya hilang dari bumi. Saat bulan purnama, desa ini tersambung dengan bumi. Itulah yang kubaca dari buku tua yang kutemukan dalam salah satu penelitianku sebelum bersembunyi di ruang bawah tanahku ini. Begitu pulalah caraku keluar dari sini. Aku sempat mengabadikan foto keluarga itu. Tepatnya 7 hari sebelum letusan itu terjadi....”
Ternyata orang Belanda ini pulalah yang mengabadikan gambar mereka. Juga yang memberikannya pada mereka. Berarti, ibu tadi telah menceritakan kisahnya sendiri. Kisah hidupnya yang tragis sekitar satu abad lalu. Pasangan itu membalaskan dendamnya kepada tiap warga desa. Mereka mengira bahwa aku dan Andri adalah penduduk desa yang masih tersisa. Tetapi mendengar bahwa ternyata masih ada jalan keluar dari sini membuatku sedikit lega.
*****
Benar-benar keberuntungan. Malam ini bulan purnama. Sekarang tinggal menunggu. Matahari akan mulai terbenam empat jam lagi. Aku memutuskan untuk mengatur rencana menyelamatkan Andri. Sayangnya, karena ruang bawah tanah itu sudah tua, dan sedikit sekali celah oksigen, tidak lama kemudian aku jatuh pingsan. Entah berapa lama kemudian, aku kembali bangun layaknya orang panik. Kulihat jam tanganku dan tanpa terasa aku sudah tak sadarkan diri lebih lama dari waktu yang kuperkirakan. Dengan segera aku berlari keluar karena menurutku, tebalnya kabut akan membuat penampakan bulan itu menjadi lebih sebentar.
Lagi-lagi benar. Terkadang aku benci bila apa yang kukatakan benar. Sekarang waktuku kurang dari semenit sebelum bulan purnama itu kembali tertutup oleh kabut. Namun ada yang tidak kurencanakan, dari jauh aku melihat kedua pasutri itu melangkah. Mereka berdua membawa alat-alat tajam yang seakan sedang haus darah. Dengan pandangan yang seram, mereka mulai mendekatiku seraya melempariku dengan alat-alat tersebut. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke mobil.
”Tolooooong! Denniiiis! Tolooooong!”
Itu suara Andri. Syukurlah dia masih hidup. Waktu itu aku sempat memutuskan untuk menabrak dua orang itu. Namun, saat aku ingin melihat kebelakang untuk memundurkan mobilku, ibarat dimuntahkan senapan, sebilah pisau melesat dari belakang. Hampir kena. Panik. Dengan penuh tenaga, kuinjak pedal gas dan mobil ini langsung melesat ke arah pulang. Ujung jalan yang akan kulewati nyaris tertutup oleh kabut sepenuhnya. Pasti itu penghalang desa ini yang sebentar lagi akan benar-benar tertutup. Akibat pingsan tadi, kini waktuku hanya 10 detik...9...8...7...
Aku tak sadarkan diri. Setelah disadarkan oleh hangatnya mentari, aku mendapati diriku dan mobilku sedang terperosok di sawah seorang petani. Aku berhasil. Sekali lagi kuharap itu cuma mimpi. Namun kemudian aku melihat sebilah pisau yang tertancap di kaca depanku. ”Itu bukan mimpi”, pikirku. Aku menerawang keadaan sekeliling, dan ternyata benar, Andri tidak ada disampingku. Aku tidak berhasil menyelamatkannya.
*****
”Deeeeen! Makanan sudah siap nak!”
Panggilan ibuku seakan menarikku kembali menuju masa kini. 10 tahun kemudian. Semoga keberadaan waktu dalam kehidupanku sedikit demi sedikit membunuh ingatanku tentang hal itu. Setiap detik aku mengingatnya, panas rasanya hati ini karena tidak bisa menyelamatkan teman yang paling kusayangi.
Dengan hati yang masih hancur aku mengelap air yang mengalir dari indera penglihatanku. Kubuka dompetku, untuk sekali lagi melihat foto kami berdua. Dulu, beberapa saat sebelum kami berangkat menuju desa terkutuk itu. Aku melihatnya dengan penuh rasa sedih.
Tapi, tunggu! Ada yang berubah dari foto ini. Ada. Tapi apa? Entah mengapa aku yakin bahwa sampai sekarang Andri masih hidup. Dia berusaha memberitahuku. Perasaanku mengatakan aku harus kembali kesana. Tapi tidak sekarang. Aku harus mencari orang yang cukup nekat untuk mempercayai ceritaku ini. Mungkin. Hanya mungkin. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Aku rasa masih ada kesempatan untuk menyelamatkan Andri.
The End of Chapter One – ”Memory from The Past”.
To Be Continued on Chapter Two – ”The Meeting and The Revelation of Secret”.
Created by: Amadeo D. Bafiansa
Langganan:
Postingan (Atom)